Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Abimanyu Silakan Gugur

Nur Wachid • Senin, 22 Januari 2024 | 00:53 WIB

(GRAFIS: HABIB/JAWA POS RADAR PONOROGO)
(GRAFIS: HABIB/JAWA POS RADAR PONOROGO)

Tuan dan nyonya sekalian boleh juga ambil sikap nerima ing pandum. Itu merujuk bagian lain cerita tentang Abimanyu.

Oleh: Deni Kurniawan*

 

UMPAN termakan buruan. Abimanyu menerobos Cakrabyuha. Formasi perang berbentuk lingkaran dengan berlapis-lapis pasukan Kurawa itu berhasil ditembusnya. Dia berada di tengah-tengah Cakrabyuha. Sejumlah petinggi pihak lawan turut mengepung. Sedikitpun nyalinya tak menciut. Abimanyu senopati perang pihak Pandawa. Cakrabyuha dibuatnya kacau.

Sosok yang digadang-gadang sebagai penerus takhta Pandawa ini gugur jua. Melimpah anak panah menancap di tubuh Angkawijaya, nama lain Abimanyu. Pun, senjata lain seperti tombak. Wujudnya kemudian serupa landak. Sesaat sebelum gugur, dia berhasil membunuh putra mahkota Kurawa, Lesmana Mandrakumara. Abimanyu menghembuskan napas terakhir. Buntut tak tahu cara keluar dari Cakrabyuha.

Sejatinya, bukan Abimanyu yang bertugas memimpin pasukan Pandawa ke peperangan kala itu. Melainkan, Arjuna -sang ayah- dan Werkudara. Namun, dua kesatria ini terpancing keluar kawasan Kurukasetra. Keduanya jauh meninggalkan palagan. Akal bulus musuh berjalan mulus.

Tuan dan nyonya sekalian tentu tahu wayang kulit. Di atas adalah penggalan kisah Baratayudha. Perang saudara. Perebutan kekuasaan. Lakon yang masih linier dengan era sekarang. Pun, di berbagai aspek kehidupan.

Rajapati di Pulung, Ponorogo, tempo hari misalnya. Seorang keponakan tega menghabisi paman sendiri. Masalah batas tanah berujung nyawa. Bisa jadi, di sekeliling Tuan dan Nyonya saat ini sedang terjadi Baratayudha. Mungkin juga, tengah berlangsung fragmen Abimanyu masuk ke Cakrabyuha itu.

Kematian Abimanyu diperlukan. Itu merangsang nafsu Pandawa memenangkan Baratayudha. Kekuasaan Kurawa berhasil diambil alih. Pihak perlambang kebajikan mengalahkan simbol angkara murka.

Hilangkah keburukan dalam kekuasaan? Jawabannya tidak. Watak keturunan Kurawa serupa para pendahulunya. Tak berbeda tabiat-tabiatnya. Ada tukang adu domba. Lidahnya teramat lihai memutar fakta. Teramat ringan mengucap sumpah demi memuluskan niat licik. Tak sedikit cucu Pandawa terkelabui. Perang kembali terjadi.

Tuan dan nyonya sekalian, sekarang coba lihat dari kacamata berbeda. Sudah benarkah penyematan lambang kebajikan dan angkara murka bagi dua pihak itu? Termasuk posisi Abimanyu? Anggap saja terbalik. Ada bagian cerita tentang tokoh ini yang belum tersampaikan. Dia termasuk tokoh yang berani melanggar sumpah. Abimanyu mengaku masih bujang saat hendak mempersunting istri kedua. Inti sumpahnya: jika pengakuannya itu bohong, dia akan mati dihujani seribu panah.

 

Silakan tuan dan nyonya sekalian pikirkan suatu hal. Sudah benar-benar benar atau dibenarkan hal itu. Kalau kepikiran keliru, segera bergegas ke yang tidak salah. Jika masih ragu, tak perlu pindah. Bisa saja itu yang memang benar-benar benar.

Tuan dan nyonya sekalian boleh juga ambil sikap nerima ing pandum. Itu merujuk bagian lain cerita tentang Abimanyu. Dinyatakan bahwa kematian Abimanyu yang sedemikian rupa itu, sekaligus tentang sumpahnya, memang sudah digariskan Yang Kuasa. []

 

*)Penulis adalah Redaktur Jawa Pos Radar Madiun  


MAKLUMAT

Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.

Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com.

Ikuti juga instagram kami di @jawapos.radarlawu. Salam.

Editor : Nur Wachid
#Deni Kurniawan #cakrabyuha #Baratayudha #Pandawa #abimanyu #wayang kulit