Hal ini benar-benar dibuktikan oleh para seniman yang hadir di sana agar kita tidak lagi melakukan kesalahan hanya karena kurangnya pengetahuan terhadap sesuatu.
Penulis: Agra Hadi Abdurrachman
BAMBU sebagai media guna merawat kebudayaan? Hal ini yang saya temukan ketika berpartisipasi dalam sebuah pameran di Kabupaten Madiun, tepatnya di Watu Gilang, Dusun Gelang, Kertosari, Madiun. Pameran instalasi berbasis Seni Rupa yang digagas oleh Kongan.Co ini memiliki tema besar bambu, sejarah dan masyarakat.
Mereka berhasil berkolaborasi dengan 10 Seniman dari berbagai daerah. Para seniman-seniman ini melakukan residensi dan riset mendalam di masyarakat selama 7 hari mulai dari tanggal 10-17 Desember 2023 untuk menghasilkan suatu karya agar dapat di pamerkan dalam acara bernama "Kultiva" pada tanggal 17-23 Desember 2023 yang langsung mendapatkan support dari Dana Indonesiana Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata.
Kongan.Co sendiri adalah kelompok kolektif asal Madiun yang terdiri dari beberapa pelaku seni dan pelaku budaya. Mereka bertujuan untuk tetap menjalankan marwah fungsi kesenian itu sendiri, salah satunya adalah fungsi sosial dan masyarakat.
Melihat adanya suatu objek budaya yang tidak terperhatikan oleh pihak berwenang, akhirnya membuat mereka memutar otak agar mampu menjadi pemantik kepedulian masyarakat dan pihak berwenang untuk turut andil menjaga objek budaya tersebut.
Baca Juga: Puisi-puisi Mohammad Rizal Fikri
Objek budaya yang saya maksud adalah Watu Gilang yang berarti batu hitam. Di Dusun Gelang ini terdapat 2 batu bersejarah yang disinyalir sudah ada sejak era zaman kerajaan singasari. Hal ini di klaim karena adanya tulisan aksara jawa kuno yang memiliki gaya aksara kuadrat.
Sayangnya, hingga saat ini batu-batu bersejarah ini tak kunjung tercatat sebagai objek budaya secara nasional. Akibat hal tersebut, pengetahuan masyarakat sekitar yang masih cukup awam terhadap perawatan benda bersejarah berakibat pengecoran area wilayah bersejarah tersebut hingga aksara sebagai bukti sejarah tersebut tertimbun cor semen. Hal ini yang ingin diangkat oleh Kongan.Co dengan mengadakan suatu edukasi melalui agenda kesenian yang mereka cetuskan.
Bambu merupakan tanaman yang banyak ditemui di sekitar area batu bersejarah tersebut. Hal ini yang memantik mereka untuk mengangkat suatu tema besar bambu sebagai bahan dasar pengkaryaan para seniman yang tergabung dalam residensi maupun pameran "Kultiva" ini.
Setidaknya dari hasil residensi berhasil tercipta 6 karya instalasi yang mampu menggambarkan kondisi dusun tersebut pada hari ini. Di bagian paling depan ada kelompok seniman bernama "Kecoak Timur" asal Surabaya yang menggarap suatu bentuk karya instalasi bernuansa sakral dengan mengusung sudut pandang artefak. Mereka merekam mitos dan peristiwa selama di residensi menjadi suatu bentuk instalasi yang menggungah memori setiap pengunjung yang datang.
Baca Juga: Tenggelam di Kedalaman Kesunyian
Setelah dari "Kecoak timur" kita akan disajikan oleh karya dari kelompok "Setiaris Art Space" asal Kabupaten Ponorogo. Mereka membuat suatu tawaran rumah bambu dengan atap yang bergelombang dan berbahan dasar bambu. Di dalamnya terdapat ada beberapa ruas papan yang memiliki nilai edukasi mengenai bambu. Karya ini menjadi suatu instalasi yang ramah terhadap anak-anak karena sistem Komidi Putar yang disajikan pada gubuk bambu tersebut.
"Kampung ini memiliki karakteristik masyarakat yang tak jauh berbeda dengan kampung kami. Sehingga kami menerapkan sistem edukasi melalui karya sesuai yang kita temukan saat residensi di sini, mengingat regenerasi bermutu perlu teredukasi sejak usia dini". Begitu kata Andreas Wahyu Kurniawan yang juga sebagai seniman pembuat rumah bambu tersebut.
Sisanya ada karya patung yang terbuat dari akar bambu, instalasi bambu tergantung dan kincir angin dari bambu. Seniman-seniman yang bergabung salam agenda ini berasal dari Kota Madiun, Kabupaten Madiun, Kabupaten Ponorogo, Kota Surabaya dan Jakarta. Mereka semua nyatanya sepakat dengan gagasan bahwa kesenian dan kebudayaan mampu dibangkitkan melalui agenda-agenda seperti ini.
Baca Juga: Pagi Ini, Saat Hujan Turun
Pembangunan kebudayaan, juga edukasi mengenai hal-hal di luar mata pelajaran sekolah tampaknya menjadi sangat penting hari ini. Hal ini benar-benar dibuktikan oleh para seniman yang hadir di sana agar kita tidak lagi melakukan kesalahan hanya karena kurangnya pengetahuan terhadap sesuatu.
Sebagai sebuah penutup saya akan katakan bahwa kegiatan kebudayaan semacam ini perlu dikembangkan diwilayah-wilayah pinggiran atau wilayah yang luput dari perhatian. Hal ini juga berguna untuk publikasi sebagai sarana promosi pariwisata berbasis desa agar nantinya mampu memiliki dampak positif terhadap perekonomian masyarakat sekitar.
BIODATA PENULIS: Pria kelahiran Kabupaten Ponorogo, merupakan penulis naskah film, naskah teater, cerpen, buku antologi puisi terbaru berjudul Catatan Kelana. Kini, aktif menulis ulasan dan opini untuk Setiaris Art and Culture Laboratory di Kabupaten Ponorogo. Selain itu, aktif sebagai seorang entertainer khususnya pada bidang seni peran.
MAKLUMAT
Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.
Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Salam.
Editor : Nur Wachid