Nyanyian Sumbang dari Tape Recorder Kuno
Karya : Rusmin Sopian
"Saya ingatkan kepadamu. Jangan sekali-kali, kamu sampaikan kepada siapa pun, termasuk keluargamu, bahwa aku yang menerima uang Mega proyek itu. Kamu tahukan ,resikonya bila itu tersebar. Kamu bukan cuma kehilangan jabatan semata. Bukan hanya kehilangan jabatan saja,"
"Siap, Pak. Tapi wartawan itu sudah tahu aliran uang itu mengalir ke Bapak,"
"Kamu selesaikan. Itu tugasmu. Siapa nama wartawan itu?
"Markudut.
"Markudut?,"
Rekaman pembicaraan di tape recorder itu masih terngiang di telinga Markudut. Itu rekaman puluhan tahun silam, saat dirinya masih menjalanI aktivitas sebagai wartawan.
Sebagai jurnalis muda era itu, tape recorder kecil itu adalah perlengkapan yang digunakan dirinya di lapangan. Khususnya untuk wawancara dengan narasumber.
Rekaman itu diperolehnya dari seorang pegawai Pemerintah yang dituduh korupsi oleh pimpinannya dalam Mega Proyek. Padahal. dirinya tidak pernah menerima sepeser pun uang dari megaproyek itu. Bahkan tidak ada fakta yang mengarah kepada dirinya terlibat dalam pusaran megakorupsi itu.
Bahkan dirinya malah dilaporkan ke aparat hukum oleh Pimpinan Negeri karena dianggap mencemar nama baik pimpinannya yang sok alim itu.
Pimpinan Daerah dengan narasi garang yang dimuat beragam media menyatakan siap di gantung di pohon buah Nanas bila terbukti menerima aliran komisi Mega proyek itu. Maklumlah daerah itu dikenal sebagai penghasil Nanas. Walaupun Gapura Selamat Datangnya berornamen buaya.
"Saya dilaporkan Pimpinan Negeri ke aparat hukum karena rekaman itu," adu pegawai itu kepada Markudut yang menemuinya di areal persawahan.
"Dianggap mencemar nama baik. Padahal itu jelas-jelas suara dirinya," keluh pegawai itu dengan suara kecewa.
Siang itu, saat matahari perlahan mulai memanjat kaki langit. Pandangan mata ke duanya memandang hamparan sawah yang membentang luas.
Di kejauhan, terlihat sekumpulan burung terbang meliuk-liuk. Kemudian menyambar batang-batang padi.
Mereka tidak mencuri banyak. Hanya sekadar menyumpal perut saja. Setelah kenyang, sekumpulan burung-burung itu pun terbang tinggi ke angkasa yang luas dan baru kembali esok harinya.
Tidak seperti mereka yang berdasi yang mencuri aspal, semen, bantuan sosial hingga kubah masjid. Bahkan beras untuk orang miskin pun mereka curi. Mereka mencuri untuk dimakan tujuh turunan. Kontradiksi dengan sekumpulan burung-burung itu.
Dan hebatnya mereka, kaum berdasi itu tetap dihormati warga masyarakat walaupun sudah diputuskan sebagai koruptor oleh instansi resmi.
Mereka masih dipuja-puji warga. Di agungkan bak dewa.
"Itulah kehidupan. Yang benar belum tentu mendapatkan keadilan," desis Markudut.
Sebenarnya, bukan hanya pegawai itu saja yang menerima ancaman. Markudut pun ikut menerima aliran ancaman. Cuma Markudut enggan mengungkapkannya. Malu. Merendahkan dirinya. Itu adalah tantangan profesi. Bukankah setiap profesi memiliki resiko dan tanggung jawabnya sendiri-sendiri?
"Sebutkan nominal yang anda hendaki. Pimpinan Negeri pasti meluluskannya," pesan seorang bawahan Pimpinan Negeri kepada Markudut . Markudut menjawabnya dengan tersenyum lebar.
"Apa susahnya anda menyebut nominalnya," desak bawahan Pimpinan Negeri.
Kembali Markudut tertawa. Suara tawanya membahana.
"Kok murah banget nilai saya sebagai jurnalis. Hanya dihargai dengan uang segitu. Lagi pula, seumur hidup kepercayaan orang kepada saya sudah tidak ada lagi hanya dengan uang segitu.
Saya jadi tikus got di selokan. Jadi sampah masyarakat. Jadi bahan cerita orang hingga mayat saya di dalam kuburan,' akhirnya Markudut bersuara.
Suaranya menampar wajah bawahan Pimpinan Negeri.
"Mohon kiranya bapak jangan menularkan ilmu tidak terhormat itu kepada saya. Saya minta tolong dengan rasa hormat kepada bapak," lanjut Markudut.
Mendengar jawaban Markudut, seketika bawahan Pimpinan Negeri pun langsung pergi meninggalkan Markudut. Wajahnya memerah. Bak disiram air mendidih.
Sebenarnya, banyak kisah ancaman berupa materi yang diterima Markudut. Dirinya saja enggan menderitakannya.
"Biar jadi catatan hidup," ungkapnya sembari ngakak.
Sebagai jurnalis muda kala itu, Markudut masih ingat petuah dari Pimpinan korannya.
Seorang jurnalis tua yang terus menjaga integritas diri sebagai jurnalis. Tidak termakan rayuan harta. Tidak heran bila kehidupannya, biasa saja. Mengandalkan gaji sebagai Pemimpin koran. Tidak ada bisnis lain. Walaupun Markudut tahu, Pimpinan korannya bisa jadi hartawan bila mengikuti arus yang bertentangan dengan integritas yang dianutnya. Meskipun cemoohan terus menghantam kuping dan nuraninya.
"Kamu sebagai jurnalis harus paham bahwasanya pekerjaan yang kamu lakoni ini adalah pekerjaan yang mulia, profesional, dan berintegritas tinggi. Kita ini penjaga nurani publik. Jangan tergoda kenikmatan harta semata, yang cuma sesaat. Cuma sesaat ," pesan Pemimpin Korannya kepada Markudut.
"Integritas dan kepercayaan adalah dua hal yang tidak bisa dibeli dengan uang, dan itulah yang harus selalu kamu jaga ," lanjut Pimpinan korannya.
Markudut terdiam.
Narasi heroik Pimpinan korannya menusuk jantung mudanya.
Di timur, bentangan senyum purnama muncul berwajah mempesona. Kerlap kerlip bintang mengekor membentuk galaksi. Paduan harmoni sebagai penghias jagad raya yang mulai tergerus dekadensi moral dari para penghuni bumi yang menjadikan harta, tahta dan syahwat sebagai simbol kebahagian dan martabat diri.
Baca Juga: Mengembalikan Makna Pendakian Gunung: Eksistensi Sejati Bukan Hanya Tren Media Sosial
Sebuah tanda alam yang makin tua renta oleh perilaku manusia yang seakan kembali ke zaman purba.
Suara religius Azan terdengar indah dari corong pengeras suara Surau.
Markudut bergegas menuju Surau kecil yang ada di Kampungnya. Tak jauh dari rimahnya.
Beriringan dengan jamaah Surau lainnya. Untuk sholat Magrib berjamaah.
Bersujud kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta. Memohon ampunan. Berserah diri sembari menunggu ajal datang. Menunggu Izrail menjemput.
Sementara suara rekaman dari tape recorder kunonya masih terus berbunyi. Markydut lupa mematikannya. Dia tergesa-gesa menuju Surau. Memenuhi panggilan Sang Maha Pencipta.
"Kamu harus mengatakan bahwa saya tidak menerima aliran uang dari Mega Proyek itu.
Kalau kamu mengatakan bahwa saya menerimanya, resikomu besar. Sangat besar. Bukan cuma dibebaskan dari jabatan. Kamu saya laporkan ke aparat hukum, karena mencemarkan nama baik saya sebagai Pemimpin Negeri ini. Saya ini pemimpin yang dikenal hebat dan dekat dengan masyarakat. Pemimpin yang tahu keinginan publik. Paham keinginan warga. Bahkan jauh sebelum mereka menginginkannya. Kamu paham,"
Suara dari tape recorder kuno itu terus menggema dan bergema tanpa malu. Ya, ketika malu menjadi kebanggaan diri. Padahal malu adalah sebagian dari Iman.
Toboali, Februari 2026
BIODATA SINGKAT PENULIS
Rusmin Sopian adalah penulis dan pegiat literasi yang tinggal di Toboali Bangka Selatan.
Editor : Nur Wachid