Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Perempuan Muda yang Setiap Hari Berziarah ke Makam Ibunya

Redaksi • Minggu, 1 Februari 2026 | 18:15 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Perempuan Muda yang Setiap Hari Berziarah ke Makam Ibunya

Oleh : Rusmin Sopian

PEREMPUAN muda itu selalu terlihat di pusara orang tuanya sejak matahari baru merangkak di permukaan langit hingga tenggelam di ujung barat.

Sepanjang hari perempuan muda itu selalu menangis sampai mengering air matanya. Terguncang batin dan jiwa raga perempuan muda itu. Kini harus tinggal sebatang kara di kampung itu tanpa kerabat dan keluarga.

Sementara ayahnya semenjak, matanya melihat dunia tak pernah menampak batang hidungnya.

" Ayahmu sudah meninggal saat engkau dalam kandungan," jawab Ibunya setiap dirinya menanyakan tentang ayahnya.

Kehilangan telah mencekik hidup bahkan memenggal kehidupan perempuan muda itu. Tidak ada cara lain baginya, selain menunggui orang tuanya di pemakaman itu. Dan dia sangat paham, tak mungkin orang tuanya merespons setiap pengaduannya.

Jantung perempuan muda itu hampir lepas dari tangkai ketika dengan mata kepalanya melihat tubuh Ibunya dipenuhi darah. Diaa memekik. Berteriak. Dan dengan nada suara tinggi dia bertanya siapa melakukan perbuatan ini kepada Ibunya?. Tidak ada jawaban. Orang-orang bungkam. Semua mulut terkunci.

Beberapa warga kampung berbisik-bisik ke telinga perempuan muda itu . Mereka juga menepuk-nepuk pundak perempuan muda itu yang menandakan tanda bela sungkawa.

Beberapa menit kemudian, Perempuan muda itu meminta orang-orang mengafani mayat Ibunya untuk dimakamkan ke pekuburan. Perempuan itu tampak tabah menerima kenyataan ini sebagai suratan takdir.

Sebelum Ibunya meninggal, rumah perempuan kerap didatangi orang-oranga suruhan Pak Kades . Mulai dari yang berkemeja rapi hingga yang cuma memakai singlet dengan bau mulut minuman klas murahan.

Hampir setiap hari, utusan Pak Kades bertamu ke rumah perempuan muda itu. Perempuan muda itu kerap mendengar sayup-sayup pembicaraan Ibunya dengan para utusan Pak Kades. Pembicaraan mereka itu bermuara pada keinginan Pak Kades untuk menyunting dirinya sebagai istri.

Ibu perempuan muda itu dengan jawaban santun menyatakan bahwa anaknya belum mau berkeluarga.

" Umur anak saya masih sangat muda. Belum layak untuk menjadi seorang istri," jawab Ibunya.

" Ibu jangan membohongi kami. Usia anak Ibu sudah diatas 18 tahun. Sudah tamat SMA," balas seorang utusan Pak Kades dengan nada tinggi.

Perdebatan terjadi antara Ibunya dan utusan Pak Kades. Wajah mereka dipenuhi percikan api. Mereka saling pandang.

Ibu Perempuan muda itu menghela napas. Perempuan muda itu keluar membawa segelas kopi untuk tamu Ibunya. Mereka memaksakan sesungging senyum mekar dari bibir. Perempuan muda itu membalas tersenyum.

" Ibu jangan terlalu menuruti keinginan anak ibu. Dia sudah sangat layak untuk dinikahkan. Dan calonnya bukan orang sembarangan. Pak Kades. Apa kurang beliau? Harta banyak. Kekuasaan ada. Anak ibu pasti bahagia," ujar seorang utusan Pak Kades sembari menatap wajah Ibu perempuan muda itu.

" Tapi anak saya belum bersedia untuk menikah. Dia merasa belum pantas," jawab Ibu perempuan muda itu.

Utusan Pak Kades pamit pulang. Gusar sekali dalam melangkah.

Beberapa orang berpesan kepada Ibunya agar lebih waspada sebab nyawa Ibu perempuan muda itu dalam bahaya. Ibunya tenang-tenang saja. Tak sedikit pun menampak wajah ketakutan.

" Hati-hati Bu dengan Pak Kades. Beliau menggunakan segala cara untuk mendapatkan anak ibu," nasehat para warga.

" Maut itu ditangan Yang Maha Kuasa. Ditangan Allah," ujarnya.

Dalam pandangan Ibu perempuan muda itu, tak seorang pun bisa mengubah kematian seseorang. Kematian tak bisa dimajukan, pun tak bisa dimundurkan. Kalaupun harus mati karena mempertahankan haknya, tidak jadi soal bagi dia. Ibu perempuan muda itu sama sekali tidak gentar.

" Lebih baik aku mati dari pada menerima pinangan Pak Kades," ujar perempuan muda itu kepada Ibunya.

Perempuan muda itu kini banyak menghabiskan waktunya di pekuburan. Diatas pusara Ibunya.

Yang pasti, dia tidak akan pernah menerima pinangan Pak Kades. Itu adalah tekadnya, apa pun resikonya.

Perempuan muda itu sedang menunggu kedatangan pujaan hatinya Azkadut yang sedang dalam perjalanan menuju Kampungnya untuk meminang dirinya.

Dan apakah Pak Kades akan terus berusaha menjadikan perempuan muda itu sebagai istrinya atau meminang perempuan muda itu sebagai calon istri anaknya Azkadut ?

Gerombolan burung liar sudah seminggu ini hinggap di pohon besar di Kampung. Aroma kematian semerbak. Kematian amat akrab dengan manusia. Hidup memang diantara Azan dan Azan.

Toboali, akhir Januari 2026


BIODATA SINGKAT PENULIS: 

Rusmin Sopian, penulis asal Toboali, Bangka Selatan, aktif menulis karya sastra, esai dan opini. Tulisannya berseliweran di berbagai media nasional. 

Editor : Nur Wachid
#Toboali #Rusmin Sopian #bangka selatan #Perempuan Muda yang Setiap Hari Berziarah ke Makam Ibunya