CERPEN GUBUK REYOT DI SEBERANG JALAN MENUJU SURGA
Karya: Mualif Hida
BAGAIMANA mungkin aku tidak mempertanyakan keberadaan tempatku menuntut ilmu agama. Setelah sepasar berada di Dusun ini, aku merasa warga Kebonagung lebih santri daripada aku, dan teman santriku di pesantren.
Saling tulus membantu, saling menghormati, saling menjaga, dan kesalingan-kesalingan yang lain, yang bahkan belum pernah kutemukan di pesantren. Seharusnya kesalingan itu tumbuh di sana.
Alangkah damai jika kelak aku menetap dan menjadi bagian dari dusun ini. Itu yang kukatakan dalam hati pada masa awal aku mengabdi di sini. Kelak, kesalingan itu membuatku berpikir dua kali.
Kedatanganku di Kebonagung, disambut hangat oleh keluarga Mbah Din, seorang petani sekaligus peternak yang dipercaya warga sebagai Takmir Masjid Raudlatul Jannahyang berada di ujung dusun, dekat dengan jembatan yang menghubungkannya dengan dusun sebelah.
Sebelum tiba di tempat tujuan, aku sempat dihampiri tiga lelaki beperawakan kekar, namun tidak terlalu tinggi, kupikir mereka tukang palak. Aku sedang menenteng kardus dan koper di kedua tangan ketika mereka menghampiri. Tanpa kusadari, tanganku basah oleh keringat, badanku membatu.
Sebelumnya mereka tengah sibuk berdebat di kursi teras warung, tak jauh dari gapura bertuliskan, "Selamat Datang Dusun Kebonagung" tempatku berdiri.
Dari pendengaranku, tampaknya mereka sedang berdebat soal angka yang diyakini akan keluar malam ini.
Seolah-olah nasib bisa ditebak, cukup dari plat motor yang menabrak gapura.Mereka mendapati aku celingak-celinguk dengan gelagat yang tidak wajar, alhasil mereka mendekatiku dengan tatapan mencurigakan.
"Cari apa, Mas?" tanya seorang lelaki berambut pirang acak-acakan.
"Mohon maaf ... Mas.” Tergagap aku menanggapinya, dadaku berdegup kencang. “Saya mencari rumah Mbah Din, katanya di sebelah masjid." Tak terasa, keringat mulai menjalar dari peci hitam yang kukenakan.
"Oalah, Mbah Din. Pas banget, Mas. Di warung ada anaknya Mbah Din. Saya panggilkan dulu." Tatapan elangnya berubah hangat, seperti tahu bahwa aku bukan ancaman.
Mata merah, suara keras, dan tampilan marjinal itu ternyata menyimpan empati yang tak terbayangkan melekat. Aku tidak mengira akan dibantu oleh orang-orang seperti mereka.
Udara kemarau telah menembus pakaianku, melahirkan keringat yang jatuh dan membasahi kemeja lusuh yang menempel di badan.
Bagaimana tidak, matahari tampak bersemangat untuk menerangi semesta, siang ini. Mereka mengajak menunggu di teras warung, setelah menatap wajahku yang terlihat lelah.
Beberapa saat menunggu, keluarlah seorang perempuan menenteng kantong plastik hitam. Lantas aku menoleh kearahnya, mendapati sepucuk mutiara lahir dari matanya.
"Las, ada yang mencari Mbah Din. Sama kamu, ya, kan sejalan."
"Oalah, iya, Mas Dul."Lantas ia menoleh ke arahku, “mari, Mas.”
Begitu sopan suaranya masuk ke telinga. Dadaku berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Dengan sempoyongan dan hati penuh gelisah, aku mengikuti langkahnya menuju Rumah Mbah Din.
"Mas yang dari Pesantren Al-Barakah, yang mau ngabdi itu ya?"
"Iya, Mbak." Aku berusaha agar percakapan tidak mati di situ. "Nama saya Kusumo Adi Saputra." Gegas aku memperkenalkan diri.
"Oh, iya, Mas. Nama saya Lastri."
Enam tahun belajar agama, baru kali ini aku berbicara empat mata dengan seorang perempuan yang tampaknya seumuran.
***
Mengabdi di masyarakat, merupakan ujung tombak penentu kelulusanku sebagai santri. Setelah mantap mempelajari syariat hingga kelas 3 wustha, kini saatnya mengamalkan dan mengajarkan ilmu yang telah aku dapat.
Di Kebonagung, aku mendapat tempat tinggal di ruang marbut Masjid Raudlatul Jannah, yang berada di samping kanan imaman.
Tiga ratus meter dari gapura masuk, masjid itu seolah menyambut siapa pun yang datang dengan kemegahan sunyinya. Bisa di bilang, masjid adalah tempat paling megah di Kebonagung.
Di seberang masjid, seonggok bangunan yang sebenarnya tidak layak disebut rumah, berdiri di tengah-tengah kebun pisang. Di sekitar rumah, batang-batang bambu kering tergeletak begitu saja.
Rumah berdindinggedek itu di huni oleh sepasang lansia penjual kerajinan bambu, Mbah Har dan istrinya, Mbah Sum. Setidaknya begitu sebelum insiden menimpa mereka. setelah kepergiannya, kapan saja gubuk itu bisa roboh karena lapuk.
Menatap gubuk di seberang masjid, aku masih tak menyangka Mbah Har dan Mbah Sum akan mengalami kematian yang tragis. Di usia yang telah renta, mereka tetap berjuang keras demi sesuap nasi esok hari.
Aku menyaksikan sendiri bagaimana cinta akan berusaha untuk tetap hidup. Yang mengganjal di benakku adalah, anak mereka pergi ke mana?
Apakah mereka belum dianugerahi keturunan? Sampai-sampai, di sisa-sisa senja, mereka masih berjuang mencari nafkah.
Malam itu, udara dingin memelukku sempurna. Membutuhkan satu jaket tebal dan sarung untuk menghangatkan badan. Aku duduk di teras menikmati suasana tenang sambil murajaah, ketika melihat Mbah Har tengah sibuk membelah bambu-bambu sepanjang satu depa itu dengan parang.
Meskipun penerangan yang digunakannya hanya sebuah senter yang telah remang, tangannya cekatan membagi belahan bambu berdiameter sepuluh senti menjadi delapan bagian. Kemudian potongan itu kembali di belah menjadi bilah-bilah yang akan dianyam oleh Mbah Sum.
Sebelum menganyamnya menjadi senikmaupuntampah, Mbah Sum lebih dulu menghaluskan bilah-bilah tadi dengan pisau untuk menghilangkan bagian yang tajam.
Kemistri mereka begitu kentara, aku tafakur memandanginya, sesederhana itumenyalakan api cinta.Pernah suatu ketika aku berpapasan dengan mereka saat berjalan berdampingan di tepi jalan raya—di luar gapura masuk.
Mbah Sum berjalan di sebelah kiri, menggendong beberapa senikdi punggungnya, sedangkan Mbah Har menenteng tampah di tangan kanan, sementara jemari lainnya menggandeng tangan Mbah Sum.
Aku agak risau melihat hal itu. Karena kutahu, penglihatan Mbah Har sudah tidak setajam masa mudanya dulu. Mengapa ia memilih berjalan di sisi kanan, yang jelas-jelas lebih membahayakan.
Ketika kutanya alasannya, dengan tegas ia menjawab, saya khawatir Mbah Uti keserempet motor yang ngawur itu,Mas, kalau Mbah Uti berjalan di sebelah kanan. Aku tertegun mendengar jawabannya. Ya Allah, beginikah cinta, batinku.
Tadi sore, sehabis salat Ashar, Mbah Din mengajakku ke suatu tempat, “mas, ayo ikut saya!” ajaknya. Ucapannya berat, raut mukanya gelisah.
Sigap aku duduk di jok belakang motornya, kami bergegas menuju entah. Dadaku berdetak cepat, Mbah Din tampak tergesa-gesa.
“Mbah Har dan Mbah Sum kena musibah, Mas.” Mbah Din seakan menjawab pertanyaan yang bahkan belum aku lontarkan.
“Innalilahiwainnailaihiraji’un. Musibah apa, Mbah?”
Mbah Din tak lekas melahirkan kata-kata. Senyap menyerbu kami dalam perjalanan. Pikiranku lekas terbang, apa yang terjadi pada Mbah Har dan istrinya?
Di jalan raya dekat gapura, nampak orang-orang sedang berkerumun. Kulihat mereka sedang gelisah. Ada yang muntah. Ada yang tersedu.
Motor Mbah Din berhenti di dekat kerumunan itu. Aku langsung mengenali benda di tengah kerumunan itu. Tampahdansenik. Astaghfirullahaladzim.
Darah berceceran di permukaan aspal, di tampah, dan di kain yang kuketahui itu adalah jarik yang biasa dikenakan Mbah Sum untuk menggendong senik. Kain itu menutupi sesuatu di bawahnya.
Dari lekuknya, jelas ada dua orang dibalik kain itu. Seketika diriku membatu, tak percaya akan insiden ini. Aku menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya lewat mulut.
Seakan tak percaya dengan insiden yang terjadi. Belum genap sepekan aku menanyai Mbah Har tentang kondisi matanya dan alasannya berjalan di sisi kanan tepi jalan.
Cinta mereka, telah menyatukan lahir dan batin, juga hidup dan mati mereka. Memang maut sudah digariskan turun pada setiap yang hidup, namun aku tak mengira ajal menjemput dengan insiden yang bahkan tak ternalar pikiranku.
Saat itulah aku mengamalkan ilmu tentang jenazah yang telah kudapat. Pasca kematiannya tadi sore, aku, Mbah Din, Lastri, dan beberapa ibu-ibu turut membantu proses pemulasaraan jenazah.
Dari sini kuketahui bahwa pengetahuan masyarakat tentang pemulasaraan jenazah masih minus. Selesai dikafani, jenazah mereka berdua dibaringkan di rumah duka. Malam harinya, jenazah keduanya masih bersemayam di rumah duka, seakan mengikuti prosesi makan malam terakhir.
Tahlil dikumandangkan setelah salat isya didirikan. Masyarakat percaya, tidak baik menguburkan jenazah pada malam hari, nanti akan ada kejadian tidak masuk akal, katanya.
Untuk menghormati kepercayaan itu, aku menoleransi hal yang terjadi. Para warga berbondong-bondong untuk layat. Kebanyakan para lelaki.
Malam semakin sendu, angin menghembuskan rasa bela sungkawa melalui celah-celah gedek rumah. Semakin ramai bapak-bapak yang datang melayat.Yang membuatku tidak habis pikir, rumah duka berubah jadi kasino dengan beragam permainan.
Mereka duduk sebagai kelompok-kelompok kecil empat-lima orang. Ada yang mengelilingi kartu remi, memainkan domino, ada juga yang membaca buku togel. Astaghfirullahaladzim.
Bahkan Mbah Din, Mas Dul, dan dua orang temannya yang kutemui tempo hari, ikut duduk melingkari kartu remi. Sebelum mulai mengocok kartu, mereka mengeluarkan sejumlah uang dari saku masing-masing.
Pikiranku tambah melayang mendapati hal ini. Padahal, tadi sore, benakku sudah terganjal sebongkah tanya. Bahkan pertanyaan ini telah kusimpan sejak pertama kali menatap Mbah Har dan istrinya tengah sibuk dengan bilah-bilah bambu pada malam itu.
Kemanakah perginya keluarga Mbah Har? kemanakah anak-anaknya? Mengapa kedua renta itu harus berjuang keras menyambung hidup sedemikian hingga mengalami insiden tragis ini?
Aku tak bisa berkata-kata lagi. Aku cuma bisa duduk pasrah di dekat pintu reyot rumah itu. Sejurus kemudian, muncul Lastri dari luar, membawa peti yangberdencing-dencing. “Pak, ini... pesanan Bapak tadi.”
Kebun Literasi, Juni 2025
BIODATA SINGKAT: Mualif Hidayatulloh. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari STKIP PGRI Ponorogo Mulai berkarya sejak bergabung di komunitas Sutejo Spektrum Center Ponorogodan Himpunan Mahasiswa Penulis.
Cerpen berjudul Aku Menyesal, Puisi Kembali berhasil merebut peringkat kedua penulis terbaik di ajang Antologi Jejak Kasih yang diselenggarakan oleh LumierePublishing. Kenali dirinya lebih hangat melalui IG:@mualif_hdytllh.
MAKLUMAT
Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.
Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Kunjungi juga Instagram @jawapos.radarlawu. Salam.
Editor : Nur Wachid