Beberapa Jam Setelah 20 Oktober

Redaksi • Dipublikasikan Minggu, 4 Mei 2025 | 01:45 WIB
Cerpen karya Rusmin Sopian.
Cerpen karya Rusmin Sopian.

Cerpen Beberapa Jam Setelah 20 Oktober, Karya : Rusmin Sopian

Matahari mulai memanjat langit. Keriuhan menerpa bumi. Kesibukan para penghuni bumi menggeliat. Kebahagian dan kesedihan bersatu padu.

Di sebuah gedung mewah yang terbuat dari tulang rakyat, orang-orang berdasi dan berbaju safari yang dijahit dari suara rakyat mulai memasuki ruangan yang sakral.

Sorot lampu kamera menyala. Terlihat wajah-wajah bahagia. Terpotret wajah-wajah berbalut kegembiraan. Menyongsong masa depan negeri yang indah.

Suara indah pembawa acara dari mikropon mulai terdengar. Menggelegar. Menghiasi suasana hari yang cerah itu.

Matahari berdiri gagah. Cahayanya terang benderang. Suasana dalam gedung mewah itu terasa hangat.

" Pelantikan Presiden baru segera dimulai. Undangan dimohon untuk tertib dan duduk di kursi yang telah disediakan,"

Di rumah-rumah penduduk, di warung kopi, di cafe hingga nebeng di rumah tetangga, para warga asyik menonton televisi. Menyaksikan hari yang bersejarah. Pelantikan Presiden baru.

Saat matahari mulai di atas kepala, keriuhan masih terus berlanjut.

Kegembiraan terus menyalak. Suara-suara dari pendukung Presiden baru bergema. Ramaikan semesta.

Di sebuah rumah yang baru selesai dibangun, lelaki setengah baya itu terdiam. Duduk terpaku di kursi sofa produk terkini sendirian.

Ya, sendirian. Matanya menatap sekeliling. Suara penyiar televisi bergemuruh. Segemuruh jiwanya yang dilanda kesepian.

Sesekali dia menatap ke luar rumah barunya yang baru saja semalam ditempatinya.

Aroma cat bermerek mahal tercium di hidung. Mengaliri seluruh raganya.

Lelaki itu menatap keluar rumah lagi. Kali ini lewat jendela rumahnya yang artistik. Karya arsitek ternama.

Sepi. Hening. Dedaunan pun enggan bergoyang.

Padahal sepoinya angin menghantam tubuhnya. Mengguncang jiwanya. Nyaris membuatnya sempoyongan.

Kini tidak ada lagi yang lalu lalang di sekitar rumah dengan langkah rapi.

Tidak ada lagi tamu yang datang. Tidak ada lagi penjagaan yang sangat ketat. Tidak ada lagi jadwal dirinya.

Semuanya pergi seketika. Lenyap seketika seiring berakhirnya masa kekuasaannya.

Padahal saat masih berkuasa, puluhan orang mendampinginya.

Terkadang membuatnya susah bergerak. Susah berinteraksi dengan orang lain.

Dan itu yang sering dikeluhkannya. " Ini standar protokoler Pak," jelas bawahannya. Dia cuma diam. Melipat kedua tangannya di perut.

Mata lelaki itu menoleh ke arah televisi super besar yang ada di ruang tamu rumahnya yang artistik.

Menyaksikan jalannya pelantikan Presiden baru. Melihat prosesi kesakralan acara dengan seksama seorang diri.

Terlihat wajah-wajah yang tak asing di matanya hadir di sana.

Wajah mereka terlihat bergelimpangan kebahagiaan. Orang-orang dekatnya selama 10 tahun terlihat jelas disana.

Padahal semalam beberapa orang terdekatnya dan yang pernah dipercayainya itu berjanji untuk datang ke rumah dan menemaninya menyaksikan acara pelantikan Presiden baru di rumahnya. " Insya Allah, ya Pak," ujar seorang mantan bawahannya. " Saya usahakan Pak untuk datang ke rumah Bapak," sebut bawahannya yang lain. " Tapi saya tidak janji ya, Pak," elak mantan bawahannya lagi.

Dikejauhan, di layar televisi, tampak prosesi pengambilan sumpah jabatan Presiden telah dimulai.

" Insya Allah, saya akan bekerja untuk masyarakat negeri ini. Saya Presiden semua warga. Ini janji saya. Ini pengabdian saya kepada bangsa ini," ucap Presiden baru saat memulai pidato pertama sebagai Presiden baru.

Lelaki itu menelan ludah. Terngiang narasi sahabat masa kecilnya di Kampung.

" Nanti kalau kamu sudah tidak menjabat lagi, tidak akan ada lagi orang yang menemui kamu. Itu siklus alam. Apalagi kalau saat menjabat kamu tidak memberikan dampak positif untuk negeri ini," cerita seorang temannya saat dirinya masih berkuasa. " Makanya saat kamu mengemban amanah, manfaatkan amanah itu untuk kepentingan publik. Karena jabatan itu dari publik," lanjut temannya nyerocos.

Lelaki itu terdiam. Sepoi dedaunan yang masuk lewat celah pintu menghantam tubuhnya. Seketika jiwanya merintih.

Dia merasa tersindir dengan narasi temannya. Sahabat kecilnya di Kampung. Hanya dia yang berani mengkritisi kebijakannya saat masih berkuasa. Yang lainnya memuji dan memujanya bak dewa.

Dia merasakan ada bongkahan batu besar yang menghantam jiwanya. Memukul kepalanya seolah pecah berkeping-keping. Tercerai-berai di lumpur yang hitam.

Tiba-tiba dia teringat dengan beragam manuver yang dikerjakannya saat masih berkuasa. Membuat publik bereaksi keras. Membuat seluruh negeri terperangah dengan kebijakan yang diambilnya.

Suara sumbang diarahkan kepadanya dengan penuh kedongkolan. Suara gugatan publik bertebaran di media berbungkus kekecewaan yang teramat dalam.

Bahkan orang-orang yang dulu mendukungnya kini beralih menjadi kelompok kecewa. Mereka menganggap dirinya bukan pemimpin yang dulu mereka rindukan.

Kelompok pendukungnya pun meminta maaf kepada publik dan mengaku salah. " Kami mohon maaf. Salah mendukung pemimpin," ucap seorang Ketua relawan pendukungnya dengan suara terbata-bata memohon maaf. " Kami salah mengajak memilih pemimpin yang baik," ujar Ketua kelompok relawan lainnya yang dikenal sebagai loyalis dirinya sambil berlinang air mata.

Apalagi saat dirinya memerintahkan seluruh keluarga dan ponakannya untuk diberikan amanah dan mengemban amanah. Mulai dari tingkat Kampung, Kota hingga lembaga yang ada di Pusat Pemerintahan.

Dirinya melemahkan hukum. Membangun aturan yang bertentangan dengan aturan yang berlaku. Narasinya kocar-kacir. Tidak sesuai antara ucapan dan kenyataan. " Saya yang berkuasa," ucapnya saat bawahannya memberikan argumentasi yang berbeda. " Kamu eksekusi saja. Ikuti arahan saya" perintahnya. " Siap Pak," Hanya itu jawaban yang disampaikan bawahannya yang diliputi wajah tegang bahkan bingung.

Lelaki itu kembali terngiang dengan ucapan temannya. Teman masa kecilnya di Kampung. Teman yang tidak pernah merepotkannya saat dia berkuasa.

" Orang-orang yang berada disekitar kamu pasti menghilang setelah kamu tidak berkuasa lagi. Mereka mencari perlindungan baru. Mencari rumah baru yang nyaman buat mereka berlindung. Meninggalkan kamu sendirian yang tidak memiliki apa-apa. Kecuali sebutan mantan," temannya terus mengoceh.

" Masa sih?," ujarnya seolah kaget. Gaya lugunya muncul lagi. " Kamu lihat saja. Nanti kamu merasakannya sendiri. Siapa yang mau berteman dengan orang yang tidak memiliki kekuasaan? Hantu pun enggan. Dan ini bukan lelucon. Bukan candaan. Dan bukan guyonan pula ," jelas temannya lagi.

Dan ketika baru dalam hitungan jam, dirinya berstatus sebagai warga biasa, suasana sepi dirasakannya. Tidak ada teman. Tidak ada lagi yang berkerumun disekitarnya. Sepi. Hening menghantui sekitarnya.

Tidak ada lagi yang menanyakan keadaan dirinya. Tidak ada lagi yang meminta waktu bertemu. Tidak ada yang meminta izin untuk datang bersilaturahmi. Tidak ada sama sekali.

Setidaknya itu yang dia rasakan saat menanyakan kepada sekretaris pribadinya. " Tidak ada, Pak," jelas Sekretarisnya. " Pesan?," tanyanya lagi. " Tidak ada sama sekali Pak. Sekretarisnya pun heran.

Lelaki itu kembali ke ruang tamu. Matanya kembali menatap layar lebar televisi. Dia menyaksikan upacara pelantikan Presiden baru sambil berdiri di dekat jendela.

Terlihat di matanya, orang-orang yang dulu berada di sekitarnya, sudah berada di rumah Presiden baru. Wajah mereka bergelimang kegembiraan.

Suara komentar mereka di media penuh kebahagiaan saat memberikan komentar untuk Presiden baru. Penuh pujian setinggi langit yang dulu diterimanya saat memulai amanah sebagai Presiden.

Dia kembali ke ruang Sekretaris pribadinya. Meminta untuk menghubungi beberapa kawan-kawannya. Beberapa bawahannya yang dulu setia dan mengaku loyal kepadanya.

Suara yang terdengar dari handphone Sekretarisnya sungguh memilukan. " Nomor yang anda hubungi, tidak dapat dihubungi," " Nomor yang anda hubungi, salah,"

Lelaki itu menatap langit rumahnya.Tiba-tiba matanya berkunang-kunang. Dan dalam waktu singkat, tubuhnya tersungkur di lantai rumah.

" Saya ada dimana," tanyanya. " Beristirahatlah Pak," ucap istrinya. " Saya di rumah sakit?," tanyanya lagi. Istrinya mengangguk.

Sudah seminggu dirinya berada di Rumah Sakit. Tak ada tamu yang menjenguk. Paling keluarga besarnya yang datang membesuk. Mereka berduyun-duyun datang menjenguknya. Membawa oleh-oleh khas Kampung.

" Kok, mereka tidak membesuk," gumamnya dengan nada suara yang teramat pelan.

Tiba-tiba dia kembali teringat dengan narasi temannya. Sahabat kecilnya di Kampung. Terngiang di gendang telinganya. Menyadarkan jiwanya. " Siapa yang mau berteman dengan kamu, saat kamu, tidak berkuasa lagi? Sejarah telah menulisnya. Hantu pun enggan bersama kamu"

Dia teringat dengan institusi hukum. Dia teringat dengan aparat hukum. Dia teringat dengan musuh politik yang dizolominya. Dikriminalisasikannya. " Apakah mereka masih mengenali saya sebagai mantan pimpinannya?," gumamnya.

Jiwanya bergidik saat mendengar suara dari pembaca berita televisi yang didengarnya di ruang inapnya yang memberitakan bahwa mantan Presiden sebuah negara sahabat ditangkap aparat hukum negara tersebut karena menyalahkan wewenang dan kekuasaan saat menjabat sebagai Presiden.

Toboali, 2024


BIODATA SINGKAT: Rusmin Sopian adalah Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca ( GPMB) Kabupaten Bangka Selatan.

Rusmin Sopian dikenal pula sebagai penggiat literasi Toboali Bangka Selatan dan telah melahirkan beberapa buku kumpulan cerpen.

Diantaranya Mereka Bilang Ayahku Koruptor dan Penjaga Makam yang diterbitkan oleh penerbit Galuh Patria Jogjakarta.

Sekarang Rusmin Sopian tinggal di Toboali Bangka Selatan bersama istri dan dua putrinya yang cantik serta kakek dari Nayyara Aghnia Yuna.

Editor : Nur Wachid
Sumber : Radar Lawu
Toboali cerpen Rusmin Sopian GPMB bangka selatan