Cerita Misteri Jalur Pendakian Keramat Gunung Lawu Part 11
LEMAH Alya mengangkat kepalanya. Air mata menggenang di pelupuk.
Alya menyerah. “Mati. Mati. Mati. Aku pasti mati.”
Bukan dia yang bicara, namun kata “mati” seolah menggema di telinganya tanpa henti.
Tetapi sebentar kemudian di antara hening dia mendengar sesuatu.
Suara. Sayup-sayup tipis, namun jelas. Suara Sarah, Reno, dan Dika. Mereka mengobrol sambil sesekali berteriak memanggil nama Alya.
Jantung Alya berdegup kencang. Di tengah kesunyian yang mencekik, suara-suara itu seperti nyala api kecil di dalam kegelapan.
"Sarah! Dika! Reno! Aku di sini!" Alya refleks berdiri. “TOLONG!! SARAH! DIKA! RENO!”
Suara Alya pecah, hilang di antara pepohonan yang menjulang tinggi. Dengan gemetar, dia berlari ke arah suara-suara itu.
Napasnya tersengal, dedaunan kering remuk di bawah telapak kakinya. Harapan mulai tumbuh di hatinya. Dia akan selamat. Dia akan kembali.
Langkahnya semakin cepat, semakin kuat. Jaraknya semakin dekat, suara teman-temannya semakin jelas.
Dia bisa melihat bayangan mereka di kejauhan. Mereka berdiri di tengah jalan setapak, menunggunya.
"SARAH! DIKA! RENO! AKU DI SINI!" serunya sambil melambaikan tangan penuh semangat.
Namun, mendadak semuanya berubah.
Kabut turun begitu cepat, menutupi jalan di depan Alya dalam hitungan detik. Kakinya otomatis berhenti. Napasnya memburu.
Jalan di depannya tak terlihat sama sekali.
Anehnya bayangan tiga sosok itu masih ada di sana, tak bergerak, tetap menunggu.
Alya tersenyum lega, masih melambai-lambaikan tangan.
Dia ingin segera berlari lagi, tetapi ada sesuatu yang membuat langkah kakinya terpatri.
Bayangannya…. “Kenapa mereka tidak menjawab panggilanku?”
“Gleekkk...!!” Alya menyadarinya. Ketika Alya melangkah lebih dekat, kabut sedikit tersibak.
Cahaya redup menyapu wajah-wajah mereka. Alya tersentak. Mereka melotot. Mata mereka merah menyala dalam pekat kabut.
Seketika, darah Alya membeku. Rasa dingin menjalari seluruh tubuhnya, menekan paru-parunya hingga sulit bernapas. Tubuhnya gemetar hebat.
“AAAAA... !!!” Alya menutup mata, mulutnya terbuka lebar, menjerit sekuat tenaga.
Bukan. Itu bukan mereka. Mereka bukan manusia. (bersambung)
Editor : Nur Wachid