Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Cerita Misteri Gunung Lawu: Jalur Pendakian Keramat, Alya Memasuki Dimensi Lain di Tengah Hutan Belantara

Saestu Saget • Jumat, 11 April 2025 | 00:25 WIB
Cerita misteri Gunung Lawu.
Cerita misteri Gunung Lawu.

Cerita Misteri Jalur Pendakian Keramat Gunung Lawu Part 10

GUNUNG Lawu yang keramat mengambil bagiannya. Kicau burung jalak Lawu berentetan mengabarkan kehilangan.

“Firasat gue nggak enak, Dik.” Sarah memijat kepalanya. “Gimana kalau Alya—“

“Guys come on!” Reno berdiri merenggut perhatian Sarah dan Dika sekaligus.

“Serius? Plis lah jangan lebay. Kita lagi di gunung, pakai akal sehat kalian. Kalian percaya sama hal-hal begituan?”

Dika dan Sarah bertukar tatap.

“Tapi kalau dia kenapa-kenapa?” Dika menatapnya tajam. “Aku pemimpin regunya, No.”

Reno mendengus. “Oke, Alya hilang. Tapi plis jangan bawa-bawa hal mistis dong. Gue nggak percaya begituan.”

Sarah ganti menatapnya tajam. “Ini bukan soal percaya atau nggak, Ren. Ini soal Alya. Dia sahabat gue.”

“Cukup!” Dika mengulur napas. “Kita turun ke pos pendakian minta bantuan.”

Matanya beredar meminta jawaban Sarah dan Reno. “Mumpung belum terlambat. Semoga Alya belum jauh.”

Sarah tegas mengangguk. “Setuju.” Reno tak punya pilihan selain mengangguk juga.

“Dasar pendaki amatir. Cuma kurang 2 pos lagi sampai puncak padahal,” gerutunya dalam hati.

Di tempat lain nan jauh—di antara nyata dan tak nyata—Alya duduk memeluk lutut.

Semua yang ada di sekitarnya tampak asing. Pepohonan menjulang tinggi. Menutupi sinar matahari, remang.

Keheningan yang mencekik. Dia mencoba menarik napas dalam-dalam, tapi udara yang masuk ke paru-parunya terasa berat.

Ada rasa sesak di dada, seolah alam di sekitarnya menolak kehadirannya.

"Ha-haloo,” ujar Alya ragu-ragu. Tak ada jawaban. Rapat pepohonan menelan suarannya begitu saja.

Rasa nyeri menjangkit sekujur tubuhnya. Ia sendiri. Benar-benar sendiri.

Di tengah hutan belantara, memeluk lutut menangis ketakutan.

Dalam hati, dia terus berdoa. Memohon agar ini semua hanya mimpi buruk. Tapi ketika dia mencubit lengannya sendiri, sakitnya terlalu nyata.

Dia tidak bermimpi. Dia benar-benar sendirian.

Dalam tangis Alya menyadari, barangkali, ia tidak akan pernah bisa kembali. (bersambung) 

Editor : Nur Wachid
#gunung lawu #cerita misteri #jalur pendakian