Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

CERPEN WAYANG | Sengkuni Beset (4): Amarah Werkudara Berujung Dipermalukan di Pertarungan

Ki Damar • Jumat, 26 April 2024 | 04:39 WIB
Ilustrasi cerpen wayang Sengkuni Beset (Radar Lawu)
Ilustrasi cerpen wayang Sengkuni Beset (Radar Lawu)

Julukan Sengkuni acap disandangkan ke seseorang karena berwatak licik dan suka adu domba. Cerpen wayang 'Sengkuni Beset' mengisahkan akhir hidup kesatria dari Plosojenar itu.

Banyak tokoh wayang kulit, budaya dan tradisi Jawa,  terlibat dalam cerpen ini. Mulai Destarastra, Duryudhana, Werkudara alias Bima, sampai Kresna. Pun, punakawan Semar.

Cerpen wayang ini berlatar perang Baratayudha. Sebuah peperangan antara pandawa melawan kurawa yang terjadi di hutan Kurusetra.


 

DENGAN geram Werkudara melompat dan berlari menuju Kurusetra. Wajahnya sarat ambisi membunuh Sengkuni. 

Bukan tanpa sebab, dia seperti itu. Werkudara ingat betul semua hal yang telah Sengkuni lakukan kepada pandawa.

Seperti, upaya pembunuhan, kudeta, fitnah, dan sikap sewenang-wenang terhadap pandawa.

Sampai di Kurusetra, Werkudara menengok kanan dan kiri. Sembari menenteng pusakanya (gada rujakpolo), dia mencari keberadaan Sengkuni. Bak harimau yang sedang berburu, siap betul menerkam mangsanya.

Keberadaan kereta milik Sengkuni masuk ke penglihatan Werkudara. Dia seketika melompat menjangkau apa yang tengah dicari-cari itu.

Kereta Sengkuni langsung hancur ditimpa Werkudara.

Sengkuni terhempas. Belum sempat bangkit dari tanah, Sengkuni dihajar habis-habisan.

Semua rasa kecewa, sakit hati, dan marah, diluapkan menjadi satu.

Herannya, Sengkuni tidak merasakan kesakitan atas apa yang dilakikan Werkudara. Hantaman gada rujakpolo tak berarti apa-apa.

Werkudara kaget. Sebab, seekor gajahpun akan hancur kepalanya saat ketiban gada rujakpolo.

Sengkuni berkata ''Apakah kamu terkejut hai anak Pandu, karena aku tidak apa-apa seperti ini?Jangankan senjatamu itu, senjata dewa kamu pakai tak akan membuat kulitku lecet sedikitpun,''.

Mendengar perkataan Sengkuni itu, amarah Werkudara semakin menjadi-jadi. Dia merasa merasa diremehkan.

Sengkuni kembali berkata, ''Apakah benar ini Raden Bima yang dikondangkan ksatria paling banyak membunuh kurawa dan senopati Astina? Ah, sungguh aku tidak percaya hanya seperti ini kemampuannya”.

Werkudara merasa dipermalukan. Dia lantas pergi dan mencari Kresna untuk mempertanyakan apa sebab Sengkuni kelewat sakti seperti itu. (*/naz/den/bersambung)

(*) Penulis alumnus ISI Surakarta

Editor : Deni Kurniawan
#Kresna #sengkuni beset #Sengkuni #Punakawan #Baratayudha #cerpen #bima #Pandawa #semar #destarastra #werkudara #kurawa #Lakon #kurusetra #Duryudana #jawa #tradisi #wayang #budaya #wayang kulit