Julukan Sengkuni acap disandangkan ke seseorang karena berwatak licik dan suka adu domba. Cerpen wayang 'Sengkuni Beset' mengisahkan akhir hidup kesatria dari Plosojenar itu.
Banyak tokoh wayang kulit, budaya dan tradisi Jawa, terlibat dalam cerpen ini. Mulai Destarastra, Duryudhana, Werkudara alias Bima, sampai Kresna. Pun, punakawan Semar.
Cerpen wayang ini berlatar perang Baratayudha. Sebuah peperangan antara pandawa melawan kurawa yang terjadi di hutan Kurusetra.
DESTARASTRA tak henti menyerang Sengkuni dengan argumen dan pertanyaan bertubi-tubi.
''Caramu buruk, kau merebut kesuksesan dengan cara mengadu domba anakku (kurawa) dan anak dari adikku Pandu (pandawa), Sengkuni,'' kata Destarastra.
Sengkuni menjawab, ''Baik buruk tergantung siapa orangnya, bukannya aku sudah termasuk baik, aku memuliakan anakmu yang berjumlah 100 orang. Apakah itu hal yang mudah kakakku?''.
''Ibarat seorang guru yang menilai muridnya, baik yang mana? Aku yang bukan bapaknya tapi memuliakan keponakannya yg berjumlah 100 orang, atau seorang ayah yang hanya mampu membuat tapi tidak bertanggung jawab atas karakter dan kesuksesannya?’' tambah Sengkuni.
Seketika itu Destarasrta mengingat kesalahannya. Berlinang air matanya. Dia menyesal telah memarahi Sengkuni.
Destarastra merasa gagal menjadi orang tua yang seharusnya merawat, membesarkan, dan mendidik karakter anak.
Dia malah lepas tangan dan memberikan tanggung jawab kepada Sengkuni.
Kesadaran Destarastra terhadap kesalahannya membuat Sengkuni berani ambil tindakan.
''Baiklah, Baratayudha ini adalah tempat seseorang akan memanen apa yang ia tanam. Maka, saya akan bertanggung jawab dan menebus kesalahan saya,'' ujar Sengkuni mengakhiri perdebatannya dengan Destarastra.
Sengkuni pergi dengan sangat percaya diri untuk maju ke palagan Baratayudha.
dia membawa pasukan dari Plasajenar (wilayah kekuasaan Sengkuni) untuk perang melawan para pandawa.
Genderang perang bergemuruh. Sorak prajurit bergema di medan peperangan Kurusetra.
Tak lama kemudian, Duryudhana (kurawa anak sulung Destarata yang juga Raja Astina) sengaja menghampiri Sengkuni.
Keduanya lantas terlibat dalam percakapan haru antara paman dan keponakan.
''Pamanku, kenapa engkau maju menjadi senopati Astina? Biarlah saya keponakanmu yang akan mengayomimu, tidak akan aku biarkan engkau maju. Bila kau mati bagaimana aku harus membalas budi kepadamu?'' kata Duryudana.
Sengkuni menanggapi, ''Keponakanku, memangnya apa yang telah aku lakukan padamu sehingga kau berbicara seperti padaku?''.
''Paman, engkau adalah orang yang membuat aku menjadi raja,'' terang Duryudana.
''Engkau juga yang membuat kita, para kurawa, menjadi orang terpandang dan mempunyai jabatan tinggi di Astina,'' imbuhnya. (*/naz/den/bersambung)
(*) Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan