Cerpen ini berupa salah satu lakon pagelaran wayang kulit. Tradisi dan budaya Jawa. 'Kangsa Adu Jago', berkisah tentang niat jahat Kangsa merebut takhta Prabu Basudewa di Kerajaan Mandura.
Kresna, Baladewa, Arjuna, dan Werkudara, turut menjadi tokoh sentralnya. Termasuk Suratimantra, Roro Ireng, serta punakawan pandawa yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.
Cerpen wayang ini mengandung pesan dan makna yang selaras dengan berbagai kondisi kehidupan era sekarang. Mulai politik, sosial, dan lainnya, sampai ihwal cinta alias asmara.
SUATU hari di Kadipaten Sengkapura, Raden Kangsa sedang mendiskusikan tentang perebutan kekuasaan.
Dia dikenal sebagai anak dari Prabu Basudewa (Raja Mandura) dan Dewi Maerah.
Tapi sesungguhnya bukan anak asli Basudewa dengan Maerah.
Kangsa sebenarnya anak Prabu Gurawangsa yang dulu menyamar menjadi Basudewa.
Karena Basudewa sangat cinta pada Maerah, maka Raden Kangsa tetap diakui anak.
Kangsa adalah seorang satria yang sakti. Namun, memiliki watak yang jahat.
Dia mengincar takhta Prabu Basudewa di Mandura.
Untuk mewujudkan keinginannya itu, Kangsa menantang adu jago Basudewa.
Bukan mengadu ayam, melainkan adu kesaktian dari jago manusia.
Kangsa mendiskusikan rencananya bersama pamannya yang bernama Suratimantra.
Suratimantra merupakan patih dari raja sebelumnya, yaitu Prabu Gurawangsa yang juga ayah kandung dari Kangsa.
"Paman, apakah kamu sudah siap bertanding dengan jago dari kerajaan Mandura?," tanya Kangsa.
"Sungguh siap anak prabu, mau bagaimanapun paman ini satria yang tak tertandingi di kadipaten ini," jawab Suratimantra.
"Bagus paman, saya harus bisa melengserkan takhta ayahku, karena selama menjadi raja dia terlalu lemah. Terlalu banyak meminta pendapat orang-orang," sebut Kangsa.
"Dia raja yang tidak punya ketegasan," imbuhnya.
"Benar anak prabu, lebih pantas paduka, masih muda punya kesaktian yang luar biasa, tegas dan wibawa," kata Suratimantra.
"Tapi paman, masih ada anak Basudewa selain aku, aku harus menyingkirkan dia, karena dia adalah penghalang dari rencana kita," kata Kangsa.
"Anak prabu, demi paduka saya siap melakukan apa saja, kita akan mencari dan membunuhnya demi keinginan paduka," jawab sang paman yang berusaha menenangkan keponakannya itu.
"Baik paman, karena aku tidak mau ketika menjadi raja nanti seseorang menjadi kayu dan api untuk melengserkanku," jawab Kangsa.
"Aku ingin siapa saja yang menghalangiku disingkirkan. Demi kekuasaan ini kita harus siap berkorban meskipun itu adalah rakyat Mandura," sambungnya seraya tertawa.
Tak berselang lama, Suratimantra dan prajurit Sengkapura mencari persembunyian anak-anak Basudewa yang lain.
Mereka menuju desa yang dicurigai sebagai tempat persembunyian anak Basudewa, yaitu Desa Widarakandang.
Benar saja, mereka menemukan anak Basudewa di sana.
Yang mana, Basudewa punya tiga anak.
Yaitu Kakrasana (nama muda Baladewa), Narayana (nama muda Kresna), dan Rara Ireng.
Tapi, yang berada di sana hanya Rara Ireng.
Kakrasana dan Narayana sedang pergi berlatih dan mencari ilmu. (*/naz/den)
(*) Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan