Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

AJARI AKU CARANYA MEMAAFKAN

Nur Wachid • Senin, 15 April 2024 | 18:43 WIB

ILUSTRASI FREEPIK
ILUSTRASI FREEPIK

Namun pertemuan itu seperti merampas lidah mereka berdua. Tak satu patah kata pun bisa mereka ucapkan. Hanya saling memandang, sorot mata penuh kerinduan.

Cerpen: Fileski

Sekali lagi. Seperti tahun lalu, seperti tahun-tahun sebelumnya, di hari ini. Suara pagi yang terus bergema ini, mengajarkan arti terima kasih dan memaafkan.

Terima untuk apapun yang datang, dan kasih untuk apapun yang pergi. 

Bukankah hidup ini memang mengajarkan kita untuk tak berhenti menghirup dan melepas. Agar tak ada beban mengendap. Agar tak ada beban yang hadirkan gelap.

Kalimat yang ditulis Maya di halaman terakhir Diary nya. Wanita lajang yang merantau jauh dari kampung halaman. Wanita yang merindukan pulang. Namun setiap kali akan datang lebaran, ia selalu risau dengan pertanyaan pertanyaan, kapan nikah, kapan kawin, dan mana pasangannya. Meski karirnya sukses di tanah rantau, rasanya belum lengkap bila tak ada lelaki yang menyandingnya. 

Cerita tentang Maya dan Aziz. Awal pertemuan keduanya pada saat awal Ramadhan. Mereka saling tertarik pada pandangan pertama. Aziz adalah seorang lelaki Jawa yang merantau di NTT. Ia datang ke Kupang untuk mengadu nasib. Melalui koneksi dengan seorang teman yang ia kenal di acara sastra, bernama Krisna.

Semenjak acara sastra itu, membuat Aziz jadi semakin akrab, dengan Krisna yang profesinya seorang dokter. Krisna embangun rumah sakit di Kupang NTT. Aziz yang kebetulan sedang butuh pekerjaan, membuatnya tertarik untuk melamar kerja di tempatnya Krisna. Pertemanan yang akrab membuat Krisna tak berpikir dua kali untuk menerima Aziz. Dan kebetulan Aziz adalah lulusan administrasi perkantoran, tentu mampu bekerja di rumah sakit pada bagian administrasi. 

Sedangkan Maya adalah salah satu staf yang sudah cukup lama bekerja di tempatnya Krisna, bagian HRD. Bisa dikatakan termasuk staf senior. Maya juga pendatang yang datang dari Jawa juga. Antara Maya dan Aziz saling terpesona satu sama lain ketika Aziz memperkenalkan diri di depan Maya. Seperti terjalin koneksi batin, membuat mereka seolah sudah pernah bertemu sebelumnya. Tak butuh waktu lama untuk membuat Aziz dan Maya saling akrab. Di sela-sela luangnya waktu kerja, dengan  obrolan-obrolan ringan tentang hobi, sampai obrolan berat tentang filsafat. Membuat mereka berdua cepat akrab satu sama lain. 

Ramadan pun memiliki makna berbeda untuk interaksi kedekatan mereka berdua. Kebetulan saja muslim di NTT adalah minoritas. Khususnya di Kupang, tidak banyak masjid di sini, tidak seperti di Jawa, yang setiap RT bisa ditemukan mushola dan masjid. Kesamaan agama ini membuat Aziz dan Maya selalu bareng saat mencari takjil menjelang buka puasa bersama. Jalan-jalan di pantai Lasiana, ke taman Nostalgia, sampai kulineran di Kampung Solor, banyak ikan segar yang sungguh nikmat bila makan sepuasnya di sana. 

Sayangnya kesamaan sifat antara Aziz dan Maya, tak membuat mereka menjalani pertemanan yang baik-baik saja. Seperti api dengan api, keduanya sama sama gampang tersulut emosi. Membuat hubungan mereka dipenuhi dengan konflik. Hal kecil saja, bisa menjadi besar, tambah lagi mereka berdua sering saling menyakiti dengan melontarkan kata-kata tajam dan tindakan impulsif. Ego yang sama sama tinggi, membuat mereka berdua sering kali berbenturan pendapat. 

Meski hanya sekedar teman, ternyata bisa juga timbul rasa cemburu di antara mereka. Misalnya ketika Aziz lama tak ada kabar, si Maya bisa saja tau-tau marah, mendiamkan Aziz beberapa hari. Begitupun ketika Aziz melihat Maya sedang ngobrol asyik dengan rekan kerja, lelaki lain. Meskipun hanya membahas pekerjaan, si Aziz bisa marah balik ke Maya karena merasa didiamkan, sedangkan Maya dirasa sangat ramah ke lelaki lain. 

Setelah beberapa hari berjalan, sampai pada pertengahan Ramadan. Ketika bulan purnama bersinar cerah sempurna, ternyata tak secerah hubungan mereka berdua, yang lebih banyak saling menyakiti. Hubungan mereka semakin rusak karena masing-masing saling tidak bisa menahan diri untuk tidak berkata kasar, curiga satu sama lain, saling tidak percaya, lunturnya kenyamanan dalam pertemanan mereka berdua. Dan ujungnya mereka menyadari, ego keduanya lah yang menghalangi mereka untuk saling menyayangi tanpa harus ada pertengkaran. 

Lelah dengan pertengkaran yang tak berujung, baik tengkar online di ponsel chatting, juga perang dingin di kantor yang membuat ketidaknyamanan di tempat kerja. Mereka berdua janjian untuk melakukan pertemuan. Momentum pertemuan, di pantai Lasiana, sore hari menjelang waktu berbuka. 

“Aziz, aku lelah dengan pertengkaran ini, kita ini katanya cocok, tapi kenapa tiap hari tengkar terus?” Ujar Maya.

“Aku sendiri juga heran dengan hubungan kita. Mestinya kita saling sayang, bukannya saling serang seperti ini. Coba cermati, aku tak pernah mengawali berkata kasar, aku bicara kasar pasti karena terpancing emosi dari kata-katamu.” Jawab Aziz. 

“Jadi aku terus yang selalu memulai pertengkaran?” Sergah Maya.

Tak ada titik temu, tak ada yang saling mengalah. Namun keduanya sama-sama lelah dengan hubungan ini. Demi yang terbaik untuk keduanya, Aziz dan Maya memutuskan untuk berpisah agar bisa saling menjaga hati. Agar tidak ada lagi pertengkaran. Meskipun rasa cinta antara mereka berdua masih ada, rasanya perpisahan adalah langkah terbaik untuk kedamaian batin mereka.

*****

Setelah pertemuan untuk perpisahan yang disaksikan senja Lasiana. Keduanya merasa sangat terluka, merasakan begitu kehilangan setelah ikrar untuk berpisah. Mereka masing-masing berjuang dengan rasa rindu yang dalam. Bercampur rasa sakit dan kekosongan yang meninggalkan lubang kesepian. Yang biasanya mereka berdua jalan-jalan sore sambil mencari buka bersama, sudah tak lagi ada. Yang biasanya berangkat tarawih ke masjid, dan pulang bersama sekalian mencari lauk pauk untuk makan sahur, kini harus dijalani sendiri.

Dengan kehidupan masing-masing. Menahan diri sebisa mungkin, karena kembali berkomunikasi, artinya kembali memulai saling menyakiti. Di kantor pun, mereka menghindari untuk bertemu, dengan berbagai cara agar tak berpapasan. Untungnya Maya sebagai HRD senior, punya ruangan sendiri. Semenjak perpisahan itu, Maya lebih banyak ada di dalam ruangan pribadinya. 

Selama masa berpisah, Aziz dan Maya masing-masing mengalami pertumbuhan spiritual. Mereka belajar tentang arti kesabaran. Belajar untuk berpikir positif, belajar untuk tidak mudah berkata kasar. Mereka belajar mengatasi ego, memahami pentingnya pengorbanan untuk orang yang dicintai. Pengorbanan yang tak mengenal kata lelah. Karena ketika seseorang merasa telah berkorban dan merasa lelah, itu bukanlah cinta, tapi transaksional. 

“Ya Allah, jika dia bukan jodohku, tolong hilangkan perasaanku padanya. Sungguh rasa ini sangat menyiksa. Membuat siang dan malamku jadi tak tenang, selalu memikirkannya. Namun bila dia jodohku, tolong dewasakan kami. Agar tak lagi saling menyakiti.” Ucap Maya dalam perenungannya.  

Suatu hari menjelang akhir Ramadhan, Aziz dan Maya bertemu secara tak terduga di sebuah pusat perbelanjaan, tempat yang dulu pernah jadi kenangan ketika mereka sering jalan-jalan mendinginkan badan. Pertemuan itu, memicu kembali perasaan yang dalam di antara mereka. Aziz dan Maya mulai mempertimbangkan kembali keputusan mereka untuk berpisah. Mereka menyadari bahwa meskipun saling menyakiti, cinta mereka masih sangat kuat.

Namun pertemuan itu seperti merampas lidah mereka berdua. Tak satu patah kata pun bisa mereka ucapkan. Hanya saling memandang, sorot mata penuh kerinduan. Namun terbayang trauma yang sangat dalam. Trauma tak ingin lagi mendengar kata-kata kasar dan menyakitkan dari orang yang dicintai. 

“Ya Allah, Maya semakin cantik, ini karena aku terlalu rindu atau memang dia berubah lebih cantik selama kita tidak bertemu?” Tanya Aziz dalam batinnya. 

“Aziz, aku sangat kangen, namun aku masih trauma dengan kata-katamu yang kasar ketika marah. Ajari aku caranya memaafkan, aku masih terngiang-ngiang ucapan-ucapanmu ketika marah. Tak mau aku mendengarnya lagi. Tapi jujur aku kangen banget sama kamu Aziz.” Ucap maya dalam hatinya. 

Entah berapa lama mereka berdua akan saling pandang, tanpa kata-kata. yang terus bersuara adalah iklan sirup dan sarung yang terus bergema lewat speaker-speaker di berbagai titik di mall itu. 

Mendadak suara speaker di mall itu mati, dan berganti suara kumandang takbir. Membuat Aziz dan Maya terhenyak dari lamunan bertatapan. Aziz mendekat dan mengucapkan permintaan maaf kepada Maya, diiringi kumandang takbir pertanda datangnya hari lebaran. (*)

 

BIODATA SINGKAT: Fileski, nama asli Walidha Tanjung Files, lahir pada 21 Februari 1988, adalah seorang penulis, musisi, dan penyair Indonesia. Menyelesaikan studi Seni Teater di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya tahun 2012.

Dikenal melalui karya puisi dan cerpen yang dipublikasikan di berbagai media lokal dan nasional, juga pertunjukan Resital Puisi. Meraih berbagai penghargaan termasuk Anugerah HESCOM Musik Puisi dari e-Sastera Malaysia. 5 karya terbaik kategori Seni Budaya di GCC 2021 Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Penulis Terpilih di Peta Sastra Kebangsaan dari Salihara, Jakarta 2024. Founder Negeri Kertas, pendiri Teater Pilar Merah. Dapat ditemui melalui email: fileski21@gmail.com dan WA 08888710313.


MAKLUMAT

Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.

Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Kunjungi juga Instagram @jawapos.radarlawu. Salam.

Editor : Nur Wachid
#cerpen #ajari aku caranya memaafkan #cerita pendek #Fileski