Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Rosanti, Perempuan Bersuara Emas

Nur Wachid • Rabu, 24 Januari 2024 | 19:51 WIB
(GRAFIS: DOKUMEN JAWA POS RADAR MADIUN)
(GRAFIS: DOKUMEN JAWA POS RADAR MADIUN)

Perempuan itu tak berkata sepatah pun, hanya airmata bercucuran jatuh ke atas seprai putih yang berbau, lalau ia menghempaskan tubuhnya yang terluka, memeluk bantal ingin berbagi kesedihan.

PenulisDepri Ajopan

Ia mencintai Rosanti, setelah ia tahu perempuan itu bersuara emas. Akhirnya, ia lelaki yang bertubuh tegap memilih menikah dengan perempuan penyanyi itu. Ketika ia sedang gelisah, ia sering menyuruh istrinya Rosanti melantunkan lagu-lagu melayu klasik yang bisa menyingkirkan kesedihan yang tumbuh pada hati. Ia mendengar dengan hidmat, sambil menghisab rokok.

Jika semasa mereka pacaran, ada yang melarang karena cemburu, lalu berkata sok suci, “Poniman, kau tidak boleh sering-sering mendengar suara merdu Rosanti, dia belum jadi istrimu, ketahuilah suara perempuan yang bisa menimbulkan fitnah itu adalah aurat, begitu tertera dalam kitab yang pernah aku baca. Haram hukumnya kau mendengar suara merdu yang mendayu-dayu dari perempuan itu. Apalagi kalian cuma berduaan. Ketahuilah, sesungguhnyayang ketiganya pasti setan,” suara yang menyerupai sabda itu tak pernah ia hiraukan.

Sekarang celoteh yang ia anggap ngeracau dan tak berguna, takberlaku lagi untuk lelaki itu, ketika Rosanti sudah menjadi sawah ladang baginya. Sesekali ia juga menyuruh istrinya melantunkan ayat-ayat suci yang membuat ia merinding sendiri seperti berada di bibir neraka, membayangkan siksa, lalu ia dicemplungkan ke dalamnya.

Ya, dia memang pantas masuk neraka. Terkadang ketika istrinya membacakan ayat-ayat suci dengan suara yang mendayu-dayu tentang surga, ia merasa beda, seolah-olah lagi berada di taman-taman bunga, mecium bau yang semerbak, dan memetik buah-buahan yang manis.

Sekarang rasa cintanya berubah, bahkan sudah terhapus. Ia ingin meninggalkan istrinya yang berbaring di atas kasur itu. Ia hanya bisa duduk pelan-pelan mengangkat tubuh yang lesu, sakitnya sudah berjalan dua tahun lebih. Badannya kurus, bibirnya selalu kering, semangatnya di rampas, matanya yang dulu seksi sekarang layu seperti mata seorang nenek.

“Sudah tiba saatnya aku meninggalkanmu Rosanti,” ucap Poniman pada perempuan lemah itu dengan suara gemulai, mendekatkan wajah ke telinga istrinya yang baru duduk dari persemediannya yang kumuh.

“Kenapa saat seperti ini, ketika aku dan anak-anak kita membutuhkanmu, malah kau memilih pergi, Mas?” Rosanti menatap salah seorang anaknya yang paling kecil, sedang bermain dengan kucing putih dalam kamarnya, ia teriak-teriak kegirangan mengejar-ejar kucing yang siap bergelut dengannya. Sesekali ia menggendong kucing yang bernama Timi itu.

 “Dari dulu, tidak ada yang membuatku jatuh cinta padamu Rosanti, kecuali suaramu yang merdu itu,” lelaki itu begitu tegas dalam pendiriannya yang ingin berpisah dengan Rosanti.

Anaknya masih berlari-lari kecil dalam kamar dengan hewan peliharaannya. Ia belum tahu setumpuk kesedihan, baru jatuh dari langit seperti percikan puing menimpa sekujur tubuh Ibunya. Diusia seperti itu, ia belum mengerti arti kesedihan.

“Jadi kau ingin menceraikanku?”

“Bukan menceraikan, meninggalkanmu.”

“Sama saja, Mas.”

“Beda Rosanti. Kalau aku menceraikanmu, aku usir kau dari rumah ini, bukan aku yang pergi. Dan mengenai anak-anak kita, aku tetap tanggung jawab menafkahimereka dan kamu.”

“Ada apasih sebenarnya yang terjadi denganmu Mas, kok tiba-tiba kau tusuk aku dengan ujung tombakmu yang runcing dan tajam. Kau tidak kasihan melihatku yang berdarah, Mas?” suara yang lemas itu, menyerupai bisikan, dan ia meremas bibirnya yang kering.

Lelaki itu duduk di atas kursi yang gelisah, mendekatkan tubuhnya ke istrinya. Anaknya yang berisik, ia suruh bermain di luar. Anak kecil  itu memeluk Timi, lalu keluar sambil melonjak-lonjak mengikuti perintah sang ayah.

“Kau tahukan, kapan aku mulai mengejar cintamu?” Wajah perempuan itu bertambah pucat, ia tidak mengangguk mengiakan juga tidak menggeleng. Ia hanya terbayang mengingat masa lalu ketika menghadapi suka duka dengan Poniman. Mereka berdua cukup bersabar menempuh ujian, sehingga mereka sampai ketujuan.

“Waktu kau melantunkan lagu Melayu di Taman Budaya itu. Entah kenapa hatiku berdesir, tidak seperti sebelumnya, seolah aku baru mengenalmu dan langsung jatuh hati dan ingin segera mendekapmu, lalu membawamu pulang. Padahal sebelumnya, kau sering bercerita biasa denganku, duduk berdua, bahkan kita pernah naik motor bersama, dan makan di sebuah cafe,” Rosanti tentu tidak bisa melupakan kenangan indah itu, sebelum Poniman mengutarakan isi hatinya yang berkecamuk pada perempuan jelita itu di masa ia gadis.

Baca Juga: Kelir Cerita di Balik Persembunyian Ilyas Hussein

“Awalnya, aku tidak tahu kau ternyata seorang penyanyi Rosanti, dan memiliki suara emas,” Rosanti belum ada berkomentar, ia jadi pendengar setia pada pernyataan suaminya. Ia penasaran ke mana arah pembicaraan lelaki itu, akhirnya ia menunggu.

“Sebelum meminangmu, berkali-kali kubilang dalam pertemuan kita di teras seseorang. Setelah aku mengecup kening dan mencium bibir manismu, aku selalu berkata, aku bukan pengangum kecantikan, aku mencintaimu karena kau perempuan bersuara emas Rosanti. Mengenai wajahmu yang indah itu, dan penampilanmu yang menarik karena kau pandai berhias, hanya kebetulan saja. Seandainya, wajahmu jelek seperti monyet, aku tetap bertahan untukmu, asalkan kemerduan suaramu ketika bernyanyi untukku tidak hilang. Sekarang suaramu telah rusak, lenyap seperti uap, pergi entah ke mana, karena penyakitmu selama dua tahun ini. Karena itu cintaku pun berkurang, bahkan hilang. Aku telah lama menunggu, namun kau belum sembuh juga, kurang sabar apa lagi aku ini. Jadi wajar aku pergi meninggalkanmu. Aku pergi bukan karena benci, bukan karena kau sakit, bukan karena wajahmu pucat, sehinggakau tidak secantik dulu. Tapi karena suaramu telah rusak Rosanti. Apa kau lupa, bunyi detak jantungku yang bernyanyi, ketika berjanji padamu Rosanti?”

 

Perempuan itu tak berkata sepatah pun, hanya airmata bercucuran jatuh ke atas seprai putih yang berbau, lalau ia menghempaskan tubuhnya yang terluka, memeluk bantal ingin berbagi kesedihan. Ia mengutuk diri sendiri, dan bermohon pada Tuhan, agar jiwanya yang menangis, segera pulih, dijadikan segumpal kebahgiaan.

“Begitu murahnya cinta di matamu, Mas Poniman,” bisik Yusdalihafi Rosanti di dalam hati, sebelum ia bertemu mimpi. []

 

BIODATA SINGKAT: Depri Ajopan, S.S. Lulusan Pesantren Musthafawiah Purba-Baru, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Menyelesaikan S-1 Prodi Sastra Indonesia di UNP. Sudah menulis beberapa karya fiksi dan sudah diterbitkan. Cerpennya pernah dimuat di beberapa media cetak dan online seperti, Singgalang, Riau Pos, Jawa Pos Radar Banyuwangi, Koran Merapi, Pontianak Post, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Sinar Indonesia Baru, Langgampustaka.com, tatkala.co, Kurungbuka.com, Labrak.co, LP Maarif NU Jateng, Harian Bhirawa, ayobandung.com, Mbludus.com, g-news.id, Literasi Kalbar.com, Radar Madura.id, marewai.com dll. Sekarang penulis aktif di Komunitas Suku Seni Riau mengambil bidang sastra. Hp/Wa: 082391499398. 


MAKLUMAT

Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.

Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Kunjungi juga Instagram @jawapos.radarlawu. Salam.

Editor : Nur Wachid
#Komunitas Suku Seni Riau #cerpen #rosanti #Depri Ajopan #perempuan