Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Pagi Ini, Saat Hujan Turun

Nur Wachid • Sabtu, 16 Desember 2023 | 21:09 WIB
(ILUSTRASI: IRUL/JAWA POS RADAR MAGETAN)
(ILUSTRASI: IRUL/JAWA POS RADAR MAGETAN)

HUJAN turun, aku melompat dan mendarat setengah terpeleset dari kepala truk tangki. Otong melongo melihat aksi nekatku. Petir menyambar-nyambar pilar besi yang menjulang di antara kilang minyak yang besar. Otong gegas pindah ke kursi supir, melongokkan kepala memanggil namaku berkali-kali. Suara Otong samar, tersapu deru hujan, dan gema tangis anakku di ingatan.

Suasana kian riuh di dada. Aku terus mengayuh sepeda unta warisan mertua, menerobos jalanan licin genangan air dan minyak. Terpaksa dalam suasana tak menentu itu, aku kembali mengingat suara istriku yang menelepon gelisah. Suara yang mendesak, memaksaku pulang cepat. Sapi Agus mati Kang, kata istriku.

Aku dongakkan kepala ke atas melihat langit kelabu. Wajahku perih, ditimpa hujan yang lebat. Air hujan kian terasa asam, apa minyak telah menguap dan bercampur di awan? Atau hanya perasaanku saja lantaran sebulan belakangan, aku mulai ikut dalam perkumpulan warga desa yang menuntut PT atas pencemaran lingkungan.

Sesampainya di rumah, aku menerobos masuk ke arah dapur. Agus tidur meringkuk di atas dipan, tubuhnya dipeluk sarung kumal pemberian Kardi. Di seberang, seekor sapi tergeletak tak berdaya dalam kandang. Matanya terpejam. Mulutnya masih menganga, pedih. Aku sengaja menelpon Kardi, mengatakan sapiku mati. Ia balas mengumpat dan mengatakan dua sapinya mati juga.

Sebulan belakangan, Kardi mengajak kepala desa untuk kembali menuntut PT. Banyak petani gagal panen. Sebagian besar merasa padi tumbuh begitu lambat. Mereka sepakat, air bercampur minyak yang menggenangi sawah beberapa waktu belakangan adalah biang keladinya.

Sebenarnya, gejala ini sudah kurasakan saat masih menggarap sawah Kardi. Saat itu, aku belum banting profesi jadi supir truk tangki. Aku mencium bau minyak pada air yang menggenangi sawah. Meski tidak semua petak sawah terjadi seperti itu, tetapi sebagian lahan sawah yang kugarap menempel dengan pematang di pinggir pagar terminal Tanjungan. Tak ayal hanya petak sawah paling dekat dengan pematang yang mengalami demikian. Ketika aku mengeluh soal ini pada petani lain, mereka masih abai. Malah mengatakan aku ngga becus mengurus sawah. Dari pada rugi, mending kamu cari ganti pekerjaan lain, kata Pak Gimin.

“Mending kamu daftar jadi sopir di PT, ini ada lowongan.” Kardi memberikan selembar halaman koran lusuh berisi iklan baris.

“Percuma, kamu nyupiri selepan padi. Panen masih jauh.” kata Pak Gimin yang pindah duduk di sampingku. Ia mencomot sebatang rokokku, menyulutnya cepat-cepat.

“Apa ngga papa?” jawabku pasrah, kujelaskan ulang pada mereka. “Kalian ngga dengar, warga etan kali lagi protes ke PT?”

“Kalau kamu ikut mereka, mau kamu kasih makan apa anak istrimu?” tanya Kardi. “Apalagi, sudah ada yang tanya-tanya juga soal sawah garapan? Ngga usah pusing-pusing mikir. Buat makan besok saja kamu sudah pusing. Itung-itung, biar kemampuan nyupirmu kepakai. Iya kan kang?” Kardi melirik pada Pak Gimin.

Kulihat wajah dua temanku dengan sengit. Sampai kemudian dua orang asing yang mengaku peneliti dari universitas negeri di Jogja datang bergabung dengan kami. Tanpa banyak basa-basi, mereka bertanya banyak hal padaku. Mulai dari cara mengolah tanah, mengatur jarak tanaman, memilih pupuk, hingga menyiangi. Baru pertama ini aku ditanyai soal begituan. Seolah-olah aku baru bertani kemarin sore. Padahal sebelum Kardi dan Pak Boston datang, mertuaku adalah satu-satunya pemilik lahan sawah terbesar setelah jatah sawah bengkok untuk perangkat desa. Kini, lahan sawah itu hanya tersisa dua petak, itupun dua-duanya bisa dikatakan gagal panen. Sial betul nasibku! Meskipun di masa jaya dulu, aku kerap bantu-bantu mertuaku di sawah, tetapi sejak krismon semua lahan ambles di tangan penagih bank sialan.

Sejak saat itu, aku dan istriku baru sadar banyaknya utang yang menjerat mertuaku. Bahkan sampai meninggal pun, tak bisa lunas. Hingga kini kami tanggung berdua. Tiga saudara istriku yang tinggal di kota seperti tutup mata dan telinga soal itu. Padahal gelar yang mereka sandang di undangan pernikahan, semua berkat utang.

***

Malamnya, rumah Kardi didatangi banyak orang. Sebagian mereka pernah kujumpai di warung kopi saat istirahat nyupir. Sebagian lain, warga etan kali yang telah lama protes soal pencemaran lingkungan hingga membawa ahli dari dinas. Sebagian lagi, aku tak kenal. Tetapi aku ingat salah satu dari peneliti asal universitas negeri di Jogja itu, juga turut datang. Aku yang sedari maghrib di rumah Kardi sebenarnya tidak diberi bocoran, mau apa malam itu kami berkumpul. Kardi cuma bilang, diam dan tunggu saja, nanti kalau waktunya ngomong ya ngomong.

Tidak beberapa lama kami menunggu, Pak Kades datang. Ia didampingi oleh dua orang. Satu kukenal sebagai tangan kanannya. Satunya lagi, baru pernah kujumpai. Ia memakai kaos hitam dengan gambar pulpen dan buku di dada kanan. Lekas Pak Kades memperkenalkan laki-laki ini bernama Bahar. Aktivis lingkungan dan penulis lepas katanya. Rupanya, Pak Kades diminta oleh Kardi datang untuk mendengarkan keluhan warga soal pencemaran air yang kian parah. Tidak hanya sapiku dan sapi Kardi, ada tujuh warga yang mengeluh sapi mereka sakit bahkan ada yang mati. Aku merasa bingung akan posisiku. Di satu sisi, aku dirugikan atas keluhan yang sama-sama dirasakan. Di sisi lain, mungkin saja aku satu-satunya karyawan PT yang berada di rumah ini.

“Begini, Bapak-Bapak kita sudah mendengar, kalau gagal panen yang Bapak-Bapak rasakan itu bukan karena air yang tercampur minyak! Coba Bapak cek lagi, diingat-ingat, pupuk apa yang Bapak gunakan, bisa jadi malah kurang pupuk. Apalagi sepertinya Bapak tidak maksimal dalam membersihkan gulma yang ada di padi,” ucap peneliti dari jogja.

Aku tercenung lama di tengah suara dengung warga. Satu dua warga protes telah melakukan proses tanam seperti biasa. Seperti kala mereka panen melimpah dan beras hasil berkualitas. Warga lain malah mengeluh soal pasokan pupuk bantuan pemerintah yang datang tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Ada pula warga yang mulai membahas ke hal lain, minyak mulai mencemari air. Sapi mereka mati dan air sumur mulai tercium bau minyak.

Lalu tanpa kusadari, kepalaku menggeleng perlahan.

“Oh, ngga bisa gitu Pak!”

Aku tersentak. Mendadak ada warga yang mulai panas dan memancing warga lain untuk ikut memperkeruh keadaan. Dengungan warga kini berubah menjadi suara-suara yang semakin keras. Hingga Pak Kades menggebrak meja. Semua hening seketika.

Aku teringat Agus, anakku. Betapa sedih hati Agus ditinggal sapi yang saban hari menemaninya. Sudah satu tahun, Agus tidak mau melanjutkan sekolah. Ia berkata pengin membantu ibu dan bapak. Sekolah untuk apa Pak? Pak Boston yang lulusan SD aja kaya raya, sawahnya banyak, ucap Agus. Perkataan Agus terngiang-ngiang di kepalaku, hingga Kardi menepuk pahaku.

“Man, ayo ngomong.”

“Ngomong apa Kang?” jawabku.

“Bilang saja, kamu pernah diajak rapat sama PT sebagai salah satu perwakilan warga,”

“Terus, aku mesti bohong gitu, bilang kalau PT siap tanggung jawab?”

“Lha, itu kan yang kamu ceritakan kemarin, katanya kamu pernah nguping?” desak Kardi.

“Tapi itu cuma obrolan supir di warung,”

Kardi nekat bicara dan mengatakan kalau aku mendengar bahwa PT siap ganti rugi. Apalagi, Kardi juga menekankan tentang janji PT yang akan mereka penuhi. “Mereka siap renovasi balai desa, ngaspal jalan, air bersih, dan siap kasih kesempatan warga kita untuk kerja,” tandas Kardi meyakinkan.

Satu dua warga balas mengatakan ketidakpercayaannya. Aku pun menjawil Kardi dan berbisik, kamu di pihak siapa?

Sejenak aku sadar, ucapan Kardi membuat posisiku semakin susah. Di satu sisi mungkin saja bisa memberikan rasa lega di hati warga. Namun, di sisi lain, aku merasa ada tali yang mengikat antara warga desa dengan PT dan akulah tali itu. Selepas acara, warga berangsur pulang dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda. Ada yang terlihat dongkol, ada juga yang terlihat menyimpan harapan. Saat itulah, Pak Kades memanggilku. Bahar berada di sampingnya bersama si peneliti dan Kardi.

***

Hujan deras kembali turun sejak subuh. Suara adzan terdengar samar. Hingga jam enam pagi, meski masih hujan, istriku nekat memetik kangkung di kebun belakang rumah. Aku menggoreng tempe yang hampir bosok, alih-alih menunggu sampai bosok, dan menjadikannya sambal. Udara dingin membuat perut cepat lapar. Aku butuh apa saja masuk ke perut sebelum ngopi dan ngrokok. Tetapi, istriku malah sudah memasak nasi setelah sholat subuh. Bersyukur benar aku mendapatkan istri yang memahamiku tanpa aku bicara. Karena tidak biasanya ia melakukan itu.

Bau tempe menguar bercampur bau sambal tomat matang lekas membangkitkan Agus dari kasur. Masih mengucek-ngucek mata, ia mengatakan, “Pak, sapinya….”

Istriku menggoreng ikan pindang kesukaan Agus. Hanya satu ikan pindang yang sengaja kami sisakan kemarin untuk Agus. Istriku sempat melirik pada Agus. Aku lekas merangkul pundaknya dan menuntun duduk. Tanpa banyak bicara, kuambilkan nasi, kangkung, dan tempe yang masih panas. Tidak lupa, kusiram sambal tomat di atas kangkung dan tempe. “Makanlah dulu,” kataku.

Belum sempat satu suap tangannya masuk ke mulut, terdengar suara teriakan dari teras. “Man! Timaaaan! Tanggul jebol!”

Aku tersentak kaget. Gegas berlari ke teras. Agus dan istriku mengekor di belakang. Otong berdiri menenteng mantel plastik tipis berwarna hijau. Sebagian kaosnya basah. Otong menatap mataku lekat. Terbata ia kembali berkata, “Tanggul jebol,”

Aku tercenung. Tanggul yang dimaksud Otong tentu saja pematang terdekat dengan pagar terminal Tanjungan. Itu artinya limbah minyak akan meluber dan menggenangi sawah warga. Di tengah hujan lebat, aku melihat warga keluar rumah. Ada yang nekat lari tanpa payung dan mantel, ada juga yang menggunakan motor. Otong membalikkan badan menatap ke jalan. Ia berkata lirih, “Tanggul jebol, Maan.”

Agus merapatkan tubuhnya kepadaku. Tiba-tiba tercium bau gosong ikan pindang dari dapur. Asap mengepul hitam. “Bu! Ikanmu!” sontak aku berteriak.

“MasyaAllah!” istriku berlari.

Sayup-sayup aku mendengar suara warga saling mengabarkan: tanggul jebol! Tanggul jebol! Tanggul jebol! Aku pun teringat ucapan Kardi semalam, saat kutanya berada di pihak mana.

“Mana saja Man, yang penting untung buat kita.” []

 

Ponorogo, Desember 2023

*Sapta Arif. Lahir di Banyumas, berkarya dari komunitas Sutejo Spektrum Center Ponorogo. Saat ini menjadi Kepala Humas STKIP PGRI Ponorogo. Buku terbarunya “Bulan Ziarah Kenangan”. Kenali lebih hangat melalui IG: @saptaarif

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Nur Wachid
#pendek #cerpen #pagi #hujan #Cerita