Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Segelas Kopi pada Suatu Malam Minggu

Mizan Ahsani • Senin, 11 Desember 2023 | 21:24 WIB
Ilustrasi cerpen (DOKUMEN RADAR MADIUN)
Ilustrasi cerpen (DOKUMEN RADAR MADIUN)

Cerpen: Mahan Jamil Hudani

APA yang Agnes ceritakan tak urung membuat keningku berkerut. Aku terdiam cukup lama. Suasana malam Minggu yang cerah itu hening untuk beberapa saat.

Suasana memang tak lagi seramai tadi saat beberapa ibu rumah tangga ikut berkumpul di suatu pekarangan cukup luas yang dijadikan tempat berdagang beberapa warga. Ibu Atik, ibunya Agnes sendiri, berjualan kopi saset dan makanan berupa gorengan untuk anak-anak seperti otak-otak, sosis, nugget, dan usus ayam. Kebetulan di lapak ibu Agnes ada balai bambu yang cukup leluasa untuk duduk. Tadi aku mengangkat dan memindahkan balai bambu itu untuk bisa santai ngobrol bareng Agnes.

“Biasanya teman-teman datang kemari, Pak,” kata Agnes saat aku baru saja duduk di balai tersebut.

“Tapi kenapa sudah satu setengah jam Bapak duduk di sini, mereka tak juga datang?

“Tadi sebenarnya Maryam sudah lewat, tapi sepertinya ia melihat Bapak lalu urung singgah kemari,” lanjut Agnes.

“Wah, Bapak jadi mengganggu malam Minggu Agnes, ya.”

“Oh, sama sekali tidak. Bahkan Agnes sangat senang dan merasa berterima kasih pada Pak Didi karena telah datang kemari.”

Aku melihat keseriusan pada ucapannya.

“Tambah lagi kopinya ya, Pak.” Untuk kesekian kalinya perempuan yang baru saja melewati usia tujuh belas itu kembali menawariku segelas kopi.

“Cukup Nes, perut Bapak sudah kembung.”

“Baru juga segelas, Pak. Itu pisang gorengnya juga baru Bapak makan satu biji. Ayo habiskan dong, Pak. Tadi Agnes sendiri yang goreng lho. Bapak lihat sendiri kan tadi. Enak tidak, Pak? Kalau tidak Bapak habiskan berarti tidak enak ya, Pak.” Kalimat-kalimat ramah dan ceria meluncur dari bibirnya. Aku juga melihat parasnya yang cerah.

Ia jarang kulihat seperti ini di kelas. Aku mengenalnya sebagai sosok pendiam namun ramah jika sedang menyapaku. Parasnya terlihat lebih dewasa daripada usianya. Ia cocok sebagai seorang mahasiswi semester akhir atau seorang karyawati di sebuah perusahaan. Kini aku baru tahu kenapa ia terlihat seperti itu.

***

Agnes Santa Putri, begitu nama lengkapnya. Kali pertama aku mengajar kelasnya saat ia duduk di kelas sepuluh, aku agak kurang paham akan parasnya. Itu karena pada awal aku masuk kelasnya, aku sering tak menemuinya. Ia hampir dua minggu tak masuk kelas. Menurut informasi, ia sedang sakit dan dirawat di kampung asal ibunya di kota lain.

Setelah Agnes sembuh dan masuk kelas, ia kukenal sebagai sosok cukup pendiam namun ramah. Di dalam kelas saat pelajaranku, Agnes sering terlihat letih dan kuyu. Tampak sekali ia menahan kantuk. Ia memang tak begitu aktif di mata pelajaran yang kuampu. Meski jarang bertanya, tapi Agnes termasuk siswi yang cukup rajin karena selalu mengerjakan tugas yang aku berikan.

Sekolah tempatku mengajar, meski di tengah kota, bisa dikatakan sekolah sederhana. Ada banyak murid di setiap kelas. Mereka berasal dari kalangan tak mampu. Hampir seratus persen muridnya tinggal di permukiman kumuh, bukan di kompleks perumahan yang banyak terdapat di kota ini.

Satu tahun awal aku mengajar di sekolah Agnes, aku cenderung disibukkan dengan rutinitas yang nyaris membuatku kurang memahami kondisi murid di luar jam sekolah. Seusai mengajar, aku masih mencari kerja tambahan sebagai pengajar ekstrakurikuler di sekolah lain, guru bimbel, juga memberi les privat pada siswa dari keluarga berada. Kondisi ekonomi mereka tentu jauh lebih baik dan beruntung dibanding siswa di sekolah yang aku ajar. Beberapa waktu kemudian, semua aktivitas terhenti karena pandemi menghantam. Meski semua berjalan seakan normal kembali karena faktor tuntutan hidup.

Itulah mengapa aku memaksakan diri berkendara. Sengaja ingin mengunjungi murid-muridku. Kuniatkan mengunjungi murid-murid kelas dua belas terlebih dahulu. Mereka akan lulus tahun ajaran baru ini. Aku harus memberi perhatian ekstra pada mereka. Namun, entah mengapa paras Agnes Santa Putri –siswi kelas sepuluh itu– yang muncul kali pertama di kepalaku. Mungkin saja karena ia ramah dan santun.

Berbekal alamat yang kusimpan, aku coba memasuki daerah permukiman Agnes yang rapat dan agak kumuh. Tak kusangka, pada gang sempit yang hanya cukup untuk lewat satu mobil pribadi –dan gang itu adalah arah menuju rumah Agnes, sesuai alamat yang kucatat– seseorang memanggilku ramah dengan sedikit berteriak. Agnes sedang berada di pinggir jalan, berjualan jajanan. Aku sebenarnya juga akan berhenti di situ, bertanya pada orang di mana letak rumah Agnes.

Cerita Agnes itulah yang membuatku merenung dan berpikir dalam. Ia setiap malam berjualan membantu ibunya hingga sulit untuk belajar di rumah. Itulah mengapa ia sering merasa ngantuk dan lelah saat di kelas. Bahkan, jika malam Sabtu dan Minggu, Agnes bisa berjualan hingga pukul satu dini hari.

Ayahnya bekerja serabutan. Kadang bekerja sebagai sopir tembak angkot yang sudah mulai sepi penumpang pada zaman sekarang ini, kadang ikut membantu memperbaiki rumah orang yang ledeng dan listriknya sedang bocor atau rusak –tapi tentu saja ayahnya tak ahli dalam hal listrik, kecuali nekat saja karena lelaki itu memang biasa diperintah atau dimintai tolong orang–, kadang juga membantu tukang tambal ban jika sedang ramai. Ibu Agnes sendiri jika siang hari bekerja sebagai tukang cuci dan setrika pakaian, sore hingga malam berjualan, bergantian dengan Agnes karena harus ada yang menjaga dua adik Agnes yang masih kecil.

Satu hal lagi, Agnes yang paras mukanya terlihat dewasa itu belum pernah memiliki pacar. Tak pernah tebersit sedikit pun di pikirannya. Toh ia harus menghabiskan malam-malam, juga malam Minggunya, di lapak ini. Ia berkata bahwa dirinya sempat merasa minder, namun selalu ia tutup-tutupi.

“Jadi, sepertinya malam Minggu ini adalah malam pertama Agnes diapelin seorang lelaki, Pak. Bapak guru lagi yang apelin Agnes,” ucap Agnes lebih santai dan lepas diiringi dengan tawa yang renyah.

Aku hampir tak pernah melihatnya tertawa seperti itu. Aku juga tertawa lepas meski ada rasa empati dan nelangsa mendengarnya. Agnes telah kehilangan masa-masa emasnya sebagai seorang anak dan remaja. Dua kali ucapan itu terlontar dari bibirnya, sekali tadi di rumahnya, masuk ke bagian dalam pada gang yang lebih sempit dari lapak ini. Ia sempat mengajakku ke sana. Sebuah rumah kontrakan petakan berjajar yang hanya disekat tiga ruang. Aku membayangkan Agnes tidur di ruang depan yang juga berfungsi sebagai ruang tamu, di depan televisi model lama yang sudah tak jernih gambarnya. Aku tahu itu, karena saat ia mengajakku ke sana, adik Agnes sedang menonton bersama ayahnya.

Tak terasa hampir empat jam aku mengobrol dengan Agnes. Segelas kopi telah tandas dari tadi. Tapi, rasa segelas kopi itu masih saja membekas, entah sampai kapan. []

Mahan Jamil Hudani. Nama pena dari Mahrus Prihany.

Cerpen ini dimuat di koran Jawa Pos Radar Madiun pada 17 Juli 2022

Editor : Mizan Ahsani
#kopi #cerpen #malam minggu