Jawa Pos Radar Lawu - Pasar Watukelir di Desa Jatingarang, Kecamatan Weru, Sukoharjo, bukan hanya menjadi pusat ekonomi masyarakat dan jalur strategis yang menghubungkan Semin, Manyaran, serta Cawas.
Di balik keramaian pasar tradisional yang disebut sebagai “segitiga emas” Sukoharjo selatan ini, tersimpan sebuah kisah tua yang membuat banyak orang merinding.
Keberadaan batu angker di bawah pohon asem raksasa yang dipercaya sebagai saksi bisu dakwah para wali.
Jejak Kuno Watukelir: Sudah Ada Sejak Masa Demak
Watukelir bukan wilayah baru. Jejak sejarahnya diperkirakan sudah ada sejak era Kasultanan Demak, bahkan mungkin lebih tua. Tak jauh dari pasar, tepatnya di Desa Karanganyar, berdiri Candi Sirih yang disebut seangkatan dengan Candi Prambanan.
Wilayah ini juga berkaitan erat dengan tokoh besar: Ki Ageng Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro, paman Joko Tingkir. Petilasannya berada di Sendang Banyubiru, hanya sekitar 200 meter dari kawasan Watukelir. Ia dikenal sebagai penyebar Islam dengan metode dakwah yang lembut, meniru gaya Sunan Kalijaga yang menyampaikan ajaran melalui seni, khususnya wayang kulit.
Batu Mirip Kelir yang Konon Jadi Panggung Wayang Para Wali
Menurut Yudi Janoko, pemerhati budaya Sukoharjo, di tengah Pasar Watukelir terdapat lokasi yang sejak dahulu digunakan sebagai tempat dakwah para wali. Letaknya tepat di bawah pohon asem besar yang usianya mencapai ratusan tahun.
Di sanalah tergeletak sebuah batu besar berbentuk datar yang mirip kelir, layar panggung dalam pertunjukan wayang kulit. Batu itu dipercaya menjadi panggung tempat para dalang menampilkan pertunjukan wayang sebagai media dakwah Islam.
Meski sekarang pasar dipenuhi aktivitas jual beli, area batu itu tetap menyisakan suasana berbeda. Ada keteduhan, ada aura berat, dan banyak orang merasakan energi mistis yang sulit dijelaskan.
Ritual di Malam Jumat Kliwon: Selalu Ramai Tirakat
Yang menarik, tempat ini tidak pernah benar-benar sepi, terutama pada malam-malam tertentu. Setiap malam Jumat Kliwon, area batu dan pohon asem selalu dipadati orang-orang yang melakukan tirakat, membawa sesaji, hingga membakar dupa.
Mereka percaya bahwa lokasi ini dapat memberikan kelancaran dalam mendalang, agar mampu menyampaikan pesan moral dan tuntunan hidup melalui pagelaran wayang kulit.
Hingga kini keyakinan itu tidak pernah padam. Meski zaman berubah dan pasar semakin modern, batu besar yang menyerupai kelir itu tetap dijaga dan dihormati.
Perpaduan Sejarah, Budaya, dan Misteri yang Tak Pernah Padam
Batu kuno di tengah Pasar Watukelir bukan hanya artefak budaya. Ia adalah titik pertemuan antara sejarah, dakwah para wali, tradisi wayang kulit, dan cerita mistis yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Pohon asem raksasa, suasana kuno yang mengelilinginya, serta ritual malam Jumat Kliwon membuat tempat ini tetap dianggap angker oleh sebagian warga.
Di sinilah keunikan Pasar Watukelir: pasar yang hidup, namun menyimpan misteri yang tidak pernah mati. (fin)
Editor : AA Arsyadani