Bule Bebas Maling di Bali, Imigrasi Cuma Nonton? Netizen Ramai-ramai Desak Sidak Serius

Jawa Pos Radar Lawu - Sebuah video mencengangkan kembali mengguncang dunia maya dan memancing kemarahan publik.
Kejadian kali ini datang dari kawasan Tegal Gundul, Tibubeneng, Canggu, Bali, di mana seorang wanita bule terekam CCTV sedang melakukan pencurian paket di depan rumah warga.
Dalam rekaman video yang diunggah oleh akun Instagram @niluhdjelantik, bule itu terlihat menyusupkan tangan melewati celah pagar untuk mengambil sebuah paket yang tergeletak di atas mobil di dalam garasi.
Namun setelah mengetahui isi paket hanyalah masker, ia justru merobek, mengacak-acak isinya, lalu membuang sembarangan di jalan.
Aksi tak terpuji itu membuat Ni Luh Djelantik, seorang aktivis dan pengusaha mode asal Bali, angkat suara.
Dalam unggahannya, ia mengecam keras ulah bule tersebut dan langsung menandai akun @polsekkutautara dan Imigrasi Ngurah Rai.
Ni Luh, menegaskan bahwa kejadian ini adalah puncak dari keresahan warga Bali terhadap WNA yang bertingkah semena-mena.
Tak hanya menyoroti kasus pencurian ini, Ni Luh juga mengungkap praktik ilegal lain yang dilakukan sejumlah WNA, seperti membuka usaha dengan omzet ratusan juta per bulan menggunakan rekening pribadi, tanpa izin resmi.
“Bali tidak perlu WNA sampah. Imigrasi ayo kita cuss sidak lagi,” tulisnya.
Unggahan tersebut sontak saja diserbu komentar netizen yang ikut geram melihat kelakuan bule tersebut dan minimnya tindakan nyata dari pihak berwenang, terutama Imigrasi.
Beragam komentar muncul, sebagian bahkan menyindir langsung kinerja aparat:
“Usir!” tulis akun @karinabdmn:
“@ditjen_imigrasi @imngurahrai KERJA KERJA KERJA.”, sahut akun @poejastawa penuh geram.
“Salam kenal mbok @niluhdjelantik saya dukung mbok niluh pokoknya ,” jelas netizen @dianfafa91 mendukung.
“Jangan cuma di sidak mbok.. tp berlakukan aturan yg sama kyk klo kita ke LN.. hrs ada ticket PP, uang di rekening, alamat hotel.. jd yg datang ke Bali bukan modelan yg beginian,” ujar akun @vebydaandel penuh emosi.
“Siap sayang” tulis komentar milik si mbok @niluhdjelantik membalas para komentar netizen.
Komentar-komentar tersebut menunjukkan kekesalan publik yang semakin besar terhadap WNA yang dianggap kebal aturan, sementara aparat dianggap terlalu lamban dan reaktif hanya setelah sesuatu viral.
Seharusnya peristiwa ini menjadi alarm keras bagi pihak Imigrasi dan aparat hukum di Bali khususnya.
Jika pembiaran terus terjadi, bukan hanya keamanan lokal yang terancam, tapi juga reputasi Bali sebagai destinasi wisata dunia.
Masyarakat tidak menolak WNA, tetapi menuntut penegakan hukum yang adil agar turis yang datang benar-benar berkualitas dan menghormati aturan.
Kini, sorotan tajam tertuju ke Imigrasi. Mampukah mereka menjawab desakan publik, atau justru tetap hanya jadi penonton saat Bali diacak-acak? (okta)
