
Oleh: S. Tedjo Kusumo
/1/
Anyir sudah sungai literasi negeriku.
Tak ada riak ubah sepuluh tahun berlalu. Literasi itu hati, jiwa, rasa dan spiritualitas negeri. Tetapi, di mana ke mana gerak riak air literasi mengalir.
Literasi bukan dunia proyek, dari proyek yang satu ke proyek yang itu-itu. Beku.
/2/
Realitas Indonesia dipenuhi peselingkuh, peleceh seksual, pemerkosa, penarkoba, penjudi. Pun kekerasan dan kebiadaban sedang berlomba lari.
Negeriku seperti landasan Pacuan Kuda. Serupa lintasan balap Karapan Sapi. Masing-masing punya joki, baik kasat mata atau tersembunyi. Oh, nestapa literasi negeri. Jika ini terus terjadi, kelak akan kau lihat buih dan sampah kebudayaan merambat dan melumat bangsa dan ibu pertiwi.
/3/
Jika literasi itu melek kahanan pesan sang Profesor, di mana itu. Tua muda lupa diri, politikus dan pejabat berlomba sendiri, agamawan jelma artis dan artis jadi agamawan. Panutan dan tontonan bertukar fungsi.
Ngeri mendenging dari telinga hingga ke hati. Nyeri merayap di kulit ari, otot-otot arteri, hingga syaraf hati. Oh, bagaimana kita ayunkan kaki. Jika ini tak disadari, sebentuk apa masa depan negeri dan ibu pertiwi.
/4/
Perguruan tinggi jelma pabrik-pabrik produksi barang pecah belah: mudah patah dan pecah. Itulah generasi baru, generasi milenial negeri. Apalagi generasi Z ini.
Mereka pengeluh, melenguh serupa sapi-sapi lapar di kandang penuh ramban. Oh, generasi buta literasi. Jika terus terjadi bagaimana kita memoles wajah ibu pertiwi.
/5/
Sekolah jadi tempat sampah jargon-jargon pendidikan, bukan terpaan penguat jiwa. Pendidikan ramah anak itu apa, bukankah dunia tak pernah ramah pada pemalas, pengeluh, dan pemanja.
Guru penggerak menggerakkan dirinya saja tak bisa, bagaimana menggerakkan anak didiknya. Gerak itu inspirasi, ulur nur hati, jiwa dan rasa pada sesama. Mereka eforia materi, membuang muka sesama. Megah di festival dan upacara dari hotel ke hotel.
Sekolah Merdeka dan Kurikulum Merdeka itu apalagi. Seakan bangsa negara ini belum pula merdeka dan tak bisa ekspresikan harga diri sebagai sebuah bangsa merdeka. Anak didik wajib naik kelas, pelajar wajib tamat belajar. Lulus dengan angka manipulasi. Oh malapetaka pendidikan negeri ini. Jika terus terjadi: apa yang dipanen ibu pertiwi.
/6/
Guru dan dosen hilang syahwat bakti, kerakusan pengakuan menghipnotis tengkorak kepala. Mata buta pada duka nestapa realitas sosial budaya. Telinga tuli tak dengar jerit dusta menganga di segala penjuru. Mereka gila pangkat, gila jabatan, gila angka kredit, gila jurnal, gila gaji, dan gila kekuasaan.
Oh, penggembala generasi. Akan ke mana arah dan oreantasi kesejatian pendidikan ini. Sekolah dan perguruan tinggi memburu-buru peringkat. Aku rindu universitas negeri ini sebagaimana Universitas Kairo Mesir, tak nggubris peringkat.
/7/
Di mana oase nurani bangsa.
Tersimpan ia di tempat terpencil sehingga susah dikenali. Atau hati nurani telah tergadai sejumlah materi. Dunia pendidikan jelma panggung politik. Dunia belajar merupa pentas sandiwara, tanpa jiwa, tanpa rasa, dan nir makna.
Kelak bagaimana, jika mata hati terus buta tak bisa mengeja warna kebaikan dan keburukan pendidikan kita.
/8/
Kebudayaan rapuh karena mata remaja, mudah silau pada bunga-bunga seberang. Kita punya empu Prapanca, Panuluh, Kanva, dan lusinan lagi para empu di balik sejarah Nusantara. Di mana akar dan kaki indah pendidikan ditanam Ki Hadjar Dewantara.
Oh munafiknya generasi negeri dan bangsaku. Mengapa kini sepasang mata kita mudah silau dengan di luar diri!
/9/
Kebudayaan kepemimpinan di riak golak kebangkitan bangsa dulu ditandai oleh anak muda brilian macam HOS Cokroaminoto, Soekarno, Hatta, Bung Tomo, Muh Yamin, Tan Malaka, Sahrir, dan WR Supratman. Puluhan anak negeri lain, pikiran dan hati menyala, membakar dan mengobarkan jati diri bangsa. Sekarang pergi ke mana ruh-ruh kemulian leluhur itu.
Oh, prahara modernitas bangsa menjelma gunung sampah sosial budaya, bagaimana membakar jika sekolah dan perguruan tinggi adalah sampah modern pula. Mereka hanya burung beo.
/10/
Jalan panjang literasi itu ke mana, di mana. Generasi milineal terpental-pental terpelanting di comberan kemajuan bangsa. Kemajuan itu jati diri. Kemajuan adalah kesadaran. Kemajuan itu mata kritis terbuka membaca tanda zaman, mendaras isyarat Kalabendu.
Oh, Jika tidak, serupa apa masa depan ibu pertiwi. Aku bertanya, oh dengarkah telinga jiwa dan rasa kita?
*
Tajuk,
26 Oktober 2022 - Oktober 2023
