Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ada Cahaya Rahasia di Tubuh Salamander Api, Ilmuwan Baru Menemukannya

T
Salamander api ternyata berpendar hijau dan sian di bawah sinar UV (Bernat Burriel-Carranza, Museu de Ciències Naturals de Barcelona, Spain)
Salamander api ternyata berpendar hijau dan sian di bawah sinar UV (Bernat Burriel-Carranza, Museu de Ciències Naturals de Barcelona, Spain)

Advertisement

Jawa Pos Radar Lawu - Di tengah hutan yang gelap, seekor salamander api tampak seperti amfibi biasa dengan tubuh hitam dan kuning mencolok. Namun, ketika disinari ultraviolet, penampilannya berubah. Bagian tertentu pada tubuhnya memancarkan cahaya hijau dan sian yang tidak terlihat oleh mata manusia dalam kondisi normal.

Ilmuwan baru mengungkap kemampuan tersembunyi tersebut pada salamander api (Salamandra salamandra), spesies yang sebenarnya sudah lama dikenal dan banyak diteliti. Cahaya tersebut berasal terutama dari kelenjar kulit dan zat yang dikeluarkannya, termasuk sekresi beracun yang ternyata masih dapat berpendar selama lebih dari 24 jam setelah keluar dari tubuh salamander.

Penemuan ini mengejutkan karena para peneliti masih belum mengetahui secara pasti mengapa salamander memiliki kemampuan tersebut. Ada kemungkinan cahaya itu membantu mereka berkomunikasi, menemukan sesama salamander, menarik pasangan, atau bahkan membuat warna peringatan terhadap predator semakin mencolok.

Advertisement

Tubuh Hitam-Kuning yang Menyimpan Rahasia

Salamander api merupakan salah satu amfibi yang mudah dikenali karena pola hitam dan kuning pada tubuhnya. Warna tersebut bukan sekadar hiasan.

Hewan ini memiliki mekanisme pertahanan kimia berupa zat beracun yang dapat membantu menjauhkan predator. Senyawa beracun tersebut berkaitan dengan pola warna tubuhnya yang mencolok, sebuah strategi yang dikenal sebagai aposematisme.

Advertisement

Dengan kata lain, warna tubuh salamander bisa menjadi semacam tanda:

“Jangan dimakan.”

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sinyal visual salamander mungkin tidak berhenti pada warna yang bisa dilihat manusia.

Ketika terkena sinar ultraviolet, beberapa bagian tubuhnya menghasilkan cahaya yang terlihat dalam spektrum hijau dan sian. Fenomena inilah yang disebut biofluoresensi.

Biofluoresensi Bukan Berarti Salamander Menghasilkan Cahaya Sendiri

Ada perbedaan penting antara salamander yang berfluoresensi dan hewan yang benar-benar menghasilkan cahaya.

Pada bioluminesensi, hewan menghasilkan cahaya melalui proses kimia di dalam tubuhnya. Kunang-kunang adalah salah satu contoh yang terkenal.

Advertisement
Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Science Daily

Artikel Terkait

Laba-Laba Ternyata Bisa Tidur seperti Manusia, Ilmuwan Temukan Tahap Mirip REM

Laba-Laba Ternyata Bisa Tidur seperti Manusia, Ilmuwan Temukan Tahap Mirip REM

Laba-laba ternyata mengalami tahap tidur mirip REM. Simak temuan ilmuwan dan misteri apakah mereka benar-benar bisa bermimpi!

Burung Kota Ternyata Lebih Cepat Kabur Saat Didekati Perempuan, Ilmuwan Bingung Kenapa

Burung Kota Ternyata Lebih Cepat Kabur Saat Didekati Perempuan, Ilmuwan Bingung Kenapa

Burung perkotaan ternyata lebih cepat kabur saat didekati perempuan. Temuan ini berlaku pada 37 spesies. Simak alasan di baliknya!

Tak Terduga, Buaya Terkecil di Dunia Ternyata Memburu Kelelawar di Dalam Gua

Tak Terduga, Buaya Terkecil di Dunia Ternyata Memburu Kelelawar di Dalam Gua

Buaya kerdil di Gabon terekam menangkap kelelawar dalam gua gelap. Simak perilaku langka dan adaptasi uniknya di sini!

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer