Ada Cahaya Rahasia di Tubuh Salamander Api, Ilmuwan Baru Menemukannya

Jawa Pos Radar Lawu - Di tengah hutan yang gelap, seekor salamander api tampak seperti amfibi biasa dengan tubuh hitam dan kuning mencolok. Namun, ketika disinari ultraviolet, penampilannya berubah. Bagian tertentu pada tubuhnya memancarkan cahaya hijau dan sian yang tidak terlihat oleh mata manusia dalam kondisi normal.
Ilmuwan baru mengungkap kemampuan tersembunyi tersebut pada salamander api (Salamandra salamandra), spesies yang sebenarnya sudah lama dikenal dan banyak diteliti. Cahaya tersebut berasal terutama dari kelenjar kulit dan zat yang dikeluarkannya, termasuk sekresi beracun yang ternyata masih dapat berpendar selama lebih dari 24 jam setelah keluar dari tubuh salamander.
Penemuan ini mengejutkan karena para peneliti masih belum mengetahui secara pasti mengapa salamander memiliki kemampuan tersebut. Ada kemungkinan cahaya itu membantu mereka berkomunikasi, menemukan sesama salamander, menarik pasangan, atau bahkan membuat warna peringatan terhadap predator semakin mencolok.
Tubuh Hitam-Kuning yang Menyimpan Rahasia
Salamander api merupakan salah satu amfibi yang mudah dikenali karena pola hitam dan kuning pada tubuhnya. Warna tersebut bukan sekadar hiasan.
Hewan ini memiliki mekanisme pertahanan kimia berupa zat beracun yang dapat membantu menjauhkan predator. Senyawa beracun tersebut berkaitan dengan pola warna tubuhnya yang mencolok, sebuah strategi yang dikenal sebagai aposematisme.
Dengan kata lain, warna tubuh salamander bisa menjadi semacam tanda:
“Jangan dimakan.”
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sinyal visual salamander mungkin tidak berhenti pada warna yang bisa dilihat manusia.
Ketika terkena sinar ultraviolet, beberapa bagian tubuhnya menghasilkan cahaya yang terlihat dalam spektrum hijau dan sian. Fenomena inilah yang disebut biofluoresensi.
Biofluoresensi Bukan Berarti Salamander Menghasilkan Cahaya Sendiri
Ada perbedaan penting antara salamander yang berfluoresensi dan hewan yang benar-benar menghasilkan cahaya.
Pada bioluminesensi, hewan menghasilkan cahaya melalui proses kimia di dalam tubuhnya. Kunang-kunang adalah salah satu contoh yang terkenal.



