Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bahasa Jawa, K-pop, dan Gen Z

N
Penulis: Nur Wachid❯
(GRAFIS: HABIB/JAWA POS RADAR PONOROGO)
(GRAFIS: HABIB/JAWA POS RADAR PONOROGO)

Kata-katanya pun simpel. Jika dalam bahasa Inggris harus mengatakan I don’t know, bahasa Jawa cukup mbuh. Inggris: I don’t want it, Jawa: moh. Inggris: I don’t care, Jawa: pret.

Oleh: Wawan Isdarwanto*


Advertisement

 

‘’Maaf Pak, ada beberapa mata pelajaran ananda yang nilainya kurang. Salah satunya bahasa Jawa.’’ Begitu kata wali kelas saat saya mengambil rapor anak (kelas IV SD) beberapa waktu lalu.

Terus terang, kalimat itu membuat saya sedikit terhenyak. Tapi, juga tidak terlalu heran.

Advertisement

Ya, suka tidak suka, kalangan gen Z sekarang semakin asing dengan bahasa Jawa.

Mau bukti? Coba tanyakan apa itu nama anak tikus dalam bahasa Jawa. Bisa jadi, dari 10 anak yang ditanya tak satu pun yang mampu menjawab dengan benar.

Berbeda jika mereka disuruh menyebutkan lima penyanyi K-pop yang populer. Mereka bisa dengan cepat menyebut nama-nama semacam Jungkook, Jimin, Lisa Blackpink, dan lainnya.  

Advertisement

Dikutip dari laman Kemdikbud RI, Kepala Badan Bahasa Balai Bahasa Jogjakarta E. Aminudin Aziz menyebutkan bahwa saat ini orang Jawa yang masih menggunakan bahasa daerahnya untuk percakapan sehari-hari di lingkungan keluarganya tersisa 73 persen.

Ironisnya, minat warga asing belajar budaya Jawa –salah satunya gamelan- dari waktu ke waktu semakin meningkat.

Bahkan, beberapa universitas di luar negeri memasukkan gamelan dalam kurikulum pendidikannya. Di antaranya, Universitas Berkeley, California, Amerika Serikat; dan New Zealand School of Music, Selandia Baru.

 

Pun, saat Kedutaan Besar RI di Beijing, Tiongkok, membuka kelas bahasa Jawa beberapa waktu lalu, dari 60 kuota yang tersedia, peminatnya mencapai tiga kali lipatnya.

Ya, bahasa Jawa –terutama Jawa ngoko- memang termasuk bahasa yang mudah dipelajari.

Kata-katanya pun simpel. Jika dalam bahasa Inggris harus mengatakan I don’t know, bahasa Jawa cukup mbuh. Inggris: I don’t want it, Jawa: moh. Inggris: I don’t care, Jawa: pret. (*)

 

*) Penulis adalah redaktur senior Jawa Pos Radar Madiun

Advertisement
Editor : Nur Wachid
Sumber : Radar Lawu

Artikel Terkait

Bukan Sekadar Mainan Gemas, Squishies Jadi Teman Relaksasi Baru bagi Orang Dewasa

Bukan Sekadar Mainan Gemas, Squishies Jadi Teman Relaksasi Baru bagi Orang Dewasa

Squishies kini digemari orang dewasa sebagai koleksi lucu hingga teman relaksasi. Simak alasan tren ini menarik perhatian berbagai generasi!

Dongyangmi Mulai Dilirik Pencinta Beauty, Ini Ciri Khas Makeup Lembut yang Bisa Dicoba

Dongyangmi Mulai Dilirik Pencinta Beauty, Ini Ciri Khas Makeup Lembut yang Bisa Dicoba

Dongyangmi menjadi inspirasi kecantikan Asia Timur dengan riasan lembut dan natural. Kenali ciri khas serta tips makeup-nya di sini!

Eyeshadow Berani hingga Blush Tebal, Tren Maximalist Makeup Jadi Pilihan Baru Gen Z

Eyeshadow Berani hingga Blush Tebal, Tren Maximalist Makeup Jadi Pilihan Baru Gen Z

Tren maximalist makeup menghadirkan warna berani, eyeliner unik, dan blush tegas. Simak inspirasi riasan ekspresif untuk Gen Z.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer