Jawa Pos Radar Lawu - Buya Hamka dikenal sebagai sosok yang produktif dalam menulis.
Salah satu karya monumentalnya adalah Tafsir Al-Azhar, yang hingga kini menjadi rujukan utama dalam studi Islam di Indonesia.
Apa yang sebenarnya memotivasi beliau untuk menulis tafsir ini?
Awalnya, Tafsir Al-Azhar bukanlah proyek kepenulisan yang direncanakannya secara khusus.
Dilansir dari laman bincangsyariah.com, tafsir ini berasal dari ceramah kuliah subuh yang beliau sampaikan di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta.
Nama tafsir ini pun diambil dari nama masjid tempat beliau mengajar.
Proses penulisan tafsir ini dimulai dari penjelasan Buya Hamka tentang Surah Al-Kahfi pada tahun 1959.
Catatan kajian tersebut kemudian diterbitkan dalam majalah Gema Islam pada 15 Januari 1962.
Menggantikan Panji Masyarakat yang dibredel oleh pemerintahan Presiden Soekarno pada tahun 1960.
Ada empat faktor utama yang mendorong Buya Hamka untuk menulis tafsir ini:
1. Menjawab Fanatisme Mazhab
Banyak mufassir klasik yang cenderung menafsirkan Al-Qur’an sesuai dengan mazhab yang mereka anut.
Buya Hamka ingin menghadirkan tafsir yang lebih objektif dan tidak terpaku pada satu mazhab tertentu.
2. Meningkatkan Pemahaman Keislaman Masyarakat Indonesia
Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, masyarakat Indonesia membutuhkan tafsir Al-Qur’an yang sesuai dengan konteks lokal dan mudah dipahami.
3. Mewariskan Ilmu untuk Bangsa
Buya Hamka ingin meninggalkan warisan intelektual bagi umat Islam di Indonesia, agar mereka dapat memahami Al-Qur’an secara lebih luas dan mendalam.
4. Menghormati Universitas Al-Azhar
Universitas Al-Azhar di Mesir pernah menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa kepada Buya Hamka.
Sebagai bentuk penghormatan, beliau memberikan nama tafsirnya sesuai dengan nama universitas tersebut.
Penulisan tafsir ini pun mengalami tantangan besar.
Salah satunya adalah ketika Buya Hamka ditahan oleh rezim Orde Lama selama dua tahun tanpa proses pengadilan.
Namun, justru di dalam tahanan inilah beliau menyelesaikan sebagian besar tafsirnya.
Hal ini menunjukkan betapa tekad dan kecintaan beliau terhadap ilmu begitu besar. (fin)
Editor : Mizan Ahsani