Jawa Pos Radar Lawu – Pernah merasa ponsel di saku bergetar atau berdering, tetapi saat dicek ternyata tidak ada notifikasi apapun?
Kalau kamu pernah mengalami hal seperti ini, hati-hati. Bisa saja kamu terkena Phantom Vibration Syndrome (PVS).
Phantom Vibration Syndrome, atau dikenal sebagai phantom ringing syndrome, ringxiety, atau phonetom, merupakan jenis halusinasi taktil.
Kondisi saat otak menafsirkan sensasi yang sebenarnya tidak terjadi.
Kondisi ini umum terjadi pada mereka yang sangat bergantung pada ponsel dan terbiasa menunggu notifikasi.
Bagaimana PVS Terjadi?
Menurut penelitian dari Georgia Institute of Technology, 9 dari 10 orang yang menyimpan ponselnya di saku pernah mengalami sensasi getaran palsu ini.
Otak yang terbiasa menerima sinyal getaran mulai “salah deteksi” rangsangan lain, seperti tekanan pakaian, kontraksi otot, suara di sekitar atau gerakan kecil di area saku.
Faktor psikologis seperti stres, kecemasan, dan obsesi mengecek ponsel juga memperkuat gejala ini.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Selain sensasi getaran palsu, PVS dapat memicu kondisi-kondisi mulai dari stres berlebih, kecemasan, gangguan konsentrasi hingga perubahan emosi.
Jika dibiarkan, kebiasaan ini bisa memperburuk kesehatan mental dan mengganggu produktivitas.
Cara Mengatasi Phantom Vibration Syndrome
Pakar kesehatan mental menyarankan beberapa langkah berikut:
- Batasi penggunaan ponsel. Setidaknya beri jeda 30–60 menit tanpa melihat ponsel.
- Ubah posisi penyimpanan. Usahakan jangan menyimpan ponsel di saku yang sama.
- Atur ulang notifikasi. Atur dupaya notifikasi di hp mu berbunyi saat ada hal-hal yang penting. Nonaktifkan getaran yang tidak penting.
- Alihkan perhatian. Lakukan aktivitas fisik, berinteraksi langsung, atau berkegiatan di luar ruangan.
- Ikuti terapi. Jika sudah parah, konsultasikan dengan psikolog.
PVS Bukan Sekadar Masalah Sepele
Phantom Vibration Syndrome adalah cerminan pengaruh teknologi terhadap kesehatan mental manusia.
Meski terdengar sepele, fenomena ini bisa menjadi tanda bahwa seseorang perlu menata ulang kebiasaan digitalnya.
PVS bukan hanya soal getaran palsu, tapi juga sinyal bahwa otak dan tubuh sedang terlalu siaga terhadap ponsel.
Menjaga keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata menjadi kunci untuk menghindari gangguan seperti ini.
Dengan mengatur penggunaan ponsel secara bijak, kamu bisa terhindar dari PVS sekaligus menjaga kesehatan mental tetap prima. (*)
Editor : Riana M.