Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menanti Berkah Bandara Kediri

N
Penulis: Nur Wachid❯

 


Advertisement

 

Photo
Photo

Penulis: Eko Hendri Saiful

Mahasiswa S2-Unesa, Wartawan Jawa Pos

Advertisement

 

KADO manis untuk warga di kawasan Selingkar Wilis (Nganjuk, Madiun, Kediri, Tulungagung, Trenggalek dan Ponorogo) jelang pergantian tahun. Bandara Internasional Dhoho di Kabupaten Kediri yang pembangunannya menelan Rp 13 triliun tak lama lagi bakal beroperasi. Tidak hanya pebisnis elit. Bandara yang pembangunannya didanai PT Gudang Garam itu tentunya juga diharapkan membawa berkah bagi rakyat kecil. Kita menanti itu.

Meski, kehadirannya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat. Alih-alih warga di Ponorogo. Masyarakat yang tinggal di sekitar bandara juga masih kebingungan mencari peluang. Sah-sah saja pengelola beralasan karena bandara masih belum dibuka. Namun tak ada salahnya pula jika kepala daerah di Kediri dan sekitarnya mulai berpikir agar bandara yang kabarnya juga dipakai melayani umroh dan haji itu turut mengangkat perekonomian rakyat.

Advertisement

Setidaknya masyarakat bisa bangga memiliki Bandara Dhoho. Selain megah, sarana transportasi anyar itu diklaim memiliki sejumlah keunggulan. Salah satunya panjang landasan pacu atau runway yang panjangnya mencapai 3.300 meter dengan 45 m. Itu memungkinkan  bandara mampu didarati Pesawat terbesar B777-300ER.

Tidak hanya itu. Jalur perpindahan pesawat atau taxiway bandara ini juga cukup panjang. Ukurannya 306 meter x 32 meter dan 438 meter x 32 meter. Keberadaan bandara ditopang dengan adanya gedung terminal berkapasitas 1,5 juta penumpang per tahun.

Apresiasi juga layak diberikan pada arsitekturnya. Sebagai satu-satunya bandara yang dimodali swasta, Dhoho Internatioal Airport cukup membuat kesengsem. Arsitekturnya nyeni. Dengan konsep modern, pembangunan bandara tak meninggalkan unsur budayanya. Tampak sejumlah ornamen budaya, miniatur kesenian,  dan candi terpampang di beberapa sudut bandara.

Namun bukan perkara fasilitas atau arsitekturnya apik yang menjadi bahan rasan-rasan. Sebagaimana bangunan yang ke depannya jadi ‘ikon’, sama seperti di awal tulisan, berkah dari keberadaannya juga perlu direnungkan.  Ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan bagi kepala daerah.

Yang pertama yakni mengenai konektivitas ke dan dari bandara. Masalah konektivitas ini bukan saja persoalan angkutan. Busnya bagaimana bentuknya? Jumlahnya berapa ? atau berapa kapasitanya. Persoalan konektivitas juga bisa diasumsikan mengenai kondisi jalan yang akan dilalui pengguna bandara.

Saat ini, berdasar pengamatan, memang belum sepenuhnya jalan penghubung antardaerah di wilayah Selingkar Wilis mulus dilewati. Misalnya saja akses Ponorog-Trenggalek. Jalur itu masih seringkali dikeluhkan pengendara. Selain minim penerangan. Jalur Ponorogo-Trenggalek juga rawan longsor. Perlu duduk bersama antarpihak-pihak pengelola jalan. Sebab notabene jalur itu merupakan jalan nasional yang wewenangnya berada di pemerintah pusat.

Perbaikan jalur Ponorogo-Trenggalek penting karena akses itu akan menjadi tumpuan utama pengguna bandara. Utamanya dari Kota Reog dan sekitarnya. Jalur Ponorogo-Trenggalek akan menjadi akses yang dilewati sebagian warga Pacitan, Madiun dan Magetan.

Selain masalah konektivitas, kepala daerah juga harus berupaya memanfaatkan hadirnya bandara secara maksimal dari sisi ekonomi. Pertumbuhan investasi menjadi kunci. Sektornya bisa apa saja.

Semisal Trenggalek dan Tulungagung. Dua wilayah itu tidak hanya menjadi basis perikanan dan perkebunan. Modal pantai yang natural dan indah juga layak diperhatikan. Kepala daerah bisa membuka peluang investasi di sektor industri wisata.

Bandara Kediri akan menghadirkan lapangan kerja cukup banyak. Pengelola perlu banyak petugas bandara. Rumah makan juga perlu pelayan. Hotel-hotel yang rencananya dibangun juga memerlukan banyak penjaga. Agar keberadaan bandara tidak ‘dihujat, maka penguatan SDM menjadi kunci. Utamanya juga pada kesiapan masyarakat di sekitar bandara menyambut wira-wirinya pengguna pesawat.

Para kepala daerah tidak boleh berpikir egois. Harus ada sinergi dalam menuntaskan persoalan transportasi. Sebab sesuai yang ditegaskan pemprov Jatim, keberadaan bandara akan mengurangi disparitas pembangunan dan pertumbuhan perekonomian.

Maka dengan segala potensi dan daya upaya, rasanya tak sulit mewujudkan target pengguna bandara sebanyak 10 juta per tahun. Terlebih, akses menuju bandara dari segala sisi sudah sangat komplit. Ada jalur pantai selatan (pansela) yang pembangunannya telah mencapai 350 kilometer. Adapula jalan tol Kertosono-Kediri dan Kediri-Tulungagung yang mulai memasuki tahap kontruksi.

Advertisement

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer