
Namaku Raka. Sejak duduk di bangku SMA, aku mulai menyukai olahraga biliar. Awalnya cuma ikut teman karena penasaran. Tapi setelah beberapa kali bermain, aku merasa billiard bukan sekadar memukul bola dengan stik. Ada strategi, konsentrasi, kesabaran, dan ketelitian yang harus dimiliki.
Setiap pulang sekolah, kalau ada waktu luang, aku biasanya mampir ke tempat billiard dekat rumah. Tidak selalu bermain lama. Kadang aku cuma satu atau dua jam, lalu pulang.
Sayangnya, ayah tidak pernah suka dengan hobiku itu.
"Ngapain kamu buang-buang waktu buat main begituan?" tanya Ayah suatu sore.
"Ini bukan cuma main, Yah. Aku suka billiard. Aku juga pengin serius belajar," jawabku.
Ayah hanya menghela napas.
"Serius? Memangnya billiard bisa menjamin masa depanmu?"
Aku diam. Pertanyaan itu sebenarnya sederhana, tapi aku tidak tahu harus menjawab apa.
Bagi Ayah, masa depan berarti kuliah, mendapatkan pekerjaan yang bagus, lalu hidup dengan baik. Menurutnya, hobi seharusnya tidak mengganggu pendidikan.
Sejak saat itu, Ayah semakin sering mengingatkanku untuk berhenti bermain billiard.



