Nama Ratenggaro berasal dari kata "rate" yang berarti kuburan dan "garo", merujuk pada suku Garo yang pernah mendiami kawasan tersebut. Hingga kini, desa ini masih mempertahankan tradisi leluhur serta kepercayaan Marapu yang diwariskan secara turun-temurun.
Rumah Adat dengan Atap Menjulang Tinggi
Ciri khas Ratenggaro terletak pada Uma Kelada, rumah adat Sumba dengan atap berbentuk menara yang dapat mencapai 15 meter. Tingginya atap bukan sekadar keunikan arsitektur, tetapi juga melambangkan status sosial, penghormatan kepada leluhur, dan kedekatan dengan Sang Pencipta menurut kepercayaan masyarakat setempat.
Deretan rumah adat tersebut berdiri berdampingan menghadap hamparan laut, menciptakan pemandangan yang begitu ikonik.
Memiliki Lebih dari 300 Kubur Batu Megalitik
Keunikan lain yang membuat Ratenggaro berbeda dari desa adat lainnya adalah keberadaan lebih dari 300 kubur batu megalitik yang tersebar di sekitar permukiman. Sebagian kubur bahkan berukuran sangat besar dan diperkirakan telah berusia ratusan tahun.
Keberadaan kubur batu ini menjadi bukti bahwa tradisi megalitikum masih terjaga hingga sekarang dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Ratenggaro.
Baca Juga: Maldives Lewat Dulu! Pantai Pink di NTT Ini Punya Pesona yang Sulit Ditolak
Baca Juga: Bukan Dinosaurus, Hewan Purba Ini Ternyata Masih Hidup di Indonesia!
Baca Juga: Messi Menggila! Inter Miami Kirim Peringatan Keras di Laga Pembuka Leagues Cup 2026
Budaya dan Alam Berpadu dalam Satu Destinasi
Tak jauh dari desa, wisatawan juga dapat menikmati Pantai Ratenggaro yang langsung menghadap Samudra Hindia. Perpaduan rumah adat, kubur batu, padang rumput, dan pantai berpasir putih menjadikan Ratenggaro sebagai salah satu destinasi budaya sekaligus wisata alam terbaik di Sumba.
Bagi wisatawan yang datang pada waktu tertentu, mereka juga berkesempatan menyaksikan Festival Pasola, tradisi perang tombak berkuda yang menjadi salah satu ikon budaya Sumba. (*)
(Magang, Anggie Putri Wijayanti - Universitas Negeri Surabaya)