Jawa Pos Radar Lawu - Banyak orang datang ke Prambanan untuk menikmati kemegahan candi utamanya.
Namun, hanya sedikit yang menyadari bahwa kawasan di sekelilingnya menyimpan cerita yang jauh lebih besar.
Di balik megahnya bangunan utama, tersebar puluhan situs arkeologi yang menjadi saksi berkembangnya peradaban Hindu dan Buddha berabad-abad silam.
Kawasan Prambanan bukan hanya rumah bagi satu kompleks candi, melainkan sebuah bentang sejarah yang dipenuhi peninggalan kuno.
Mulai dari bangunan candi yang masih berdiri, reruntuhan, hingga fragmen arca dan batu candi ditemukan di berbagai titik, baik di wilayah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, maupun Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Kawasan Prambanan Menjadi Salah Satu Lanskap Arkeologi Terpadat di Jawa
Prambanan dikenal sebagai salah satu kawasan dengan konsentrasi situs purbakala yang sangat tinggi.
Jejak peradaban yang berasal dari sekitar abad ke-8 hingga ke-10 Masehi tersebar di berbagai desa, lahan pertanian, hingga pekarangan warga.
Di wilayah Klaten terdapat sejumlah peninggalan penting yang melengkapi keberadaan Candi Prambanan, antara lain:
- Candi Lumbung
- Candi Bubrah
- Candi Gana
- Candi Plaosan Lor
- Candi Plaosan Kidul
- Berbagai temuan batu candi yang masih terus didokumentasikan
Keberadaan situs-situs tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas keagamaan dan pembangunan monumental pada masa lampau berlangsung dalam kawasan yang sangat luas.
Baca Juga: Dapat Diakses Lewat Wisata Genilangit, Gunung Kendil di Magetan Jadi Buruan Pencinta Alam
Sleman Menyimpan Ragam Situs Cagar Budaya
Di sisi barat kawasan Prambanan, tepatnya di wilayah Sleman, persebaran situs bersejarah bahkan lebih beragam.
Tidak hanya berupa bangunan candi, tetapi juga berbagai peninggalan arkeologi seperti yoni, lingga, arca, hingga susunan batu yang diduga menjadi bagian dari bangunan suci.
Sumberharjo Menyimpan Banyak Temuan Penting
Di kawasan Sumberharjo terdapat beberapa lokasi yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Situs Sorogedug dan Grogol menyimpan sejumlah batu candi yang diduga berasal dari bangunan keagamaan masa lampau.
Sementara itu, Situs Polangan dan Sawo (Sawoek) menghasilkan temuan berupa fragmen yoni, antefik, dan makara yang identik dengan arsitektur candi bercorak Hindu.
Situs Krapyak juga menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian para peneliti.
Berdasarkan berbagai literatur lama, kawasan ini pernah ditemukan arca Durga, arca Nandi, serta yoni.
Luasan area yang mencapai sekitar 50 meter memperkuat dugaan bahwa lokasi tersebut dahulu merupakan kompleks peribadatan.
Bokoharjo dan Sambirejo Dipenuhi Peninggalan Bersejarah
Wilayah Bokoharjo dan Sambirejo menjadi kawasan lain yang kaya akan peninggalan arkeologi.
Candi Banyunibo masih berdiri dengan kondisi yang relatif utuh sebagai salah satu candi bercorak Buddha.
Tidak jauh dari sana terdapat Candi Ijo yang berada di atas perbukitan dan dikenal sebagai kompleks Hindu terbesar di kawasan tersebut, lengkap dengan candi induk beserta candi-candi perwara.
Sementara itu, Kompleks Ratu Boko memperlihatkan perpaduan fungsi keagamaan dan pemerintahan.
Di kawasan ini terdapat berbagai struktur bangunan seperti gapura, pendapa, serta area ritual yang menunjukkan keberadaan unsur Hindu maupun Buddha.
Banyak Situs Kini Tinggal Menyisakan Fragmen
Selain bangunan yang masih dapat disaksikan hingga sekarang, banyak pula situs yang hanya meninggalkan sisa-sisa peninggalan.
Situs Watu Gedig diyakini sebagai bekas pendopo kuno. Di sekitarnya ditemukan batu candi dan arca Amitabha yang menjadi petunjuk aktivitas masa lalu.
Situs Gatak juga menyimpan temuan penting berupa tiga yoni berukuran besar serta peripih yang berisi fragmen emas dan berbagai benda ritual.
Jejak kebudayaan Buddha juga ditemukan di Situs Dawangsari dan Sumberwatu.
Kedua kawasan tersebut menghasilkan temuan stupa, arca Buddha, hingga prasasti bertahun 856 Masehi yang menjadi bukti aktivitas keagamaan pada masa lampau.
Sejumlah Situs Terancam Hilang
Perkembangan wilayah membuat sebagian situs bersejarah kini nyaris tidak lagi terlihat.
Nama-nama seperti Situs Grembyangan, Candi Gajah, dan Candi Tinjon masih tercatat dalam berbagai literatur sejak abad ke-19, tetapi sebagian besar peninggalannya kini hanya berupa catatan sejarah serta sebaran batu candi.
Di wilayah Madurejo, kepadatan situs juga cukup tinggi.
Baca Juga: Dessert Klasik Naik Daun Lagi! Begini Resep London Chocolate Cake yang Moist dan Elegan
Candi Bubrah, Candi Singo, serta Situs Macanan memperlihatkan bahwa kawasan tersebut dahulu menjadi bagian penting dari jaringan kompleks candi di Prambanan.
Berbagai temuan seperti arca Durga, arca Ganesa, yoni, hingga batu antefik semakin memperkuat gambaran mengenai tingginya perkembangan seni bangunan klasik Jawa pada masa itu.
Pelestarian Menjadi Tantangan Besar
Padatnya persebaran cagar budaya di kawasan Prambanan menunjukkan bahwa wilayah ini merupakan pusat peradaban besar, bukan hanya lokasi berdirinya satu kompleks candi terkenal.
Di sisi lain, pelestarian menjadi tantangan yang semakin mendesak.
Selain menjaga candi-candi yang telah menjadi destinasi wisata populer, upaya melindungi puluhan situs kecil yang berada di tengah permukiman masyarakat juga menjadi pekerjaan penting agar jejak sejarah tersebut tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Azarine Nirwasita Zada, Politeknik Negeri Madiun
Editor : Tim Content Writer Radar Lawu