Jawa Pos Radar Lawu - Cirebon dikenal sebagai Kota Wali, pusat penting penyebaran Islam di Jawa Barat dan Banten. Kota pesisir ini bukan hanya menyimpan jejak dakwah para wali, tetapi juga menjadi simbol akulturasi budaya Jawa, Arab, dan Tionghoa yang harmonis sejak abad ke-15.
Menariknya, wisata religi di Cirebon tak melulu bernuansa Islami. Ada pula destinasi ziarah lintas agama yang memperlihatkan wajah toleransi dan sejarah panjang perjumpaan budaya.
Berikut 10 tempat ziarah dan wisata religi bersejarah yang wajib dikunjungi saat berada di Cirebon.
1. Makam Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati merupakan tokoh utama penyebaran Islam di Jawa Barat sekaligus pendiri Kesultanan Cirebon. Kompleks makamnya di kawasan Gunung Jati menjadi destinasi ziarah paling ramai.
Arsitekturnya memadukan unsur Jawa, Arab, dan Tiongkok. Pengunjung umumnya hanya diperbolehkan hingga gerbang utama. Terdapat sembilan pintu dan tujuh anak tangga di setiap gerbang yang sarat makna simbolik.
2. Masjid Merah Panjunan
Masjid Merah Panjunan dibangun sekitar tahun 1480 dan memiliki nama asli Masjid Al Athyah. Julukan “Merah” berasal dari dinding bata merah khas arsitektur masa awal Islam di Jawa.
Masjid ini diyakini menjadi tempat penting dalam proses dakwah dan pengesahan para wali.
3. Tajug Agung Pangeran Kejaksan
Tajug Agung Pangeran Kejaksan merupakan bangunan cagar budaya abad ke-15 yang didirikan oleh Pangeran Kejaksan, kerabat Sunan Gunung Jati.
Keaslian arsitekturnya masih terjaga, termasuk mimbar kayu, tiang penyangga, hiasan piring keramik, hingga sumur tua bersejarah.
4. Tajug Pejlagrahan
Tajug Pejlagrahan termasuk masjid tertua di Cirebon, berdiri sejak 1452 di belakang Keraton Pakungwati.
Selain sebagai tempat ibadah, tajug ini dahulu menjadi pusat musyawarah dan kegiatan masyarakat.
5. Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Masjid Agung Sang Cipta Rasa berdiri sejak 1498 di kompleks Keraton Kasepuhan. Masjid ini dibangun secara gotong royong oleh para Wali Songo.
Konon, pendiriannya merupakan hadiah Sunan Gunung Jati untuk istrinya, Nyi Mas Pakungwati. Hingga kini, masjid ini menjadi pusat aktivitas keagamaan penting di Cirebon.
6. Petilasan Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga memiliki petilasan di kawasan Harjamukti, Cirebon. Tempat ini dipercaya sebagai lokasi persinggahan beliau saat berdakwah.
Suasana alami dan kisah-kisah lokal membuat lokasi ini memiliki daya tarik spiritual tersendiri.
7. Taman Doa Regina Rosari
Taman Doa Regina Rosari berada di belakang Gereja Katolik Bunda Maria. Tempat ini menjadi lokasi doa dan refleksi bagi umat Katolik.
Lingkungan yang teduh dengan pepohonan rindang dan patung Bunda Maria menciptakan suasana hening yang menenangkan.
8. Makam Putri Ong Tien
Putri Ong Tien adalah istri Sunan Gunung Jati yang berasal dari Tiongkok. Makamnya berada dalam satu kompleks dengan makam sang wali.
Keberadaannya memperkuat jejak akulturasi budaya Tionghoa dan Islam di Cirebon. Kompleks ini biasanya ramai saat perayaan Imlek.
9. Gua Maria Sawer Rahmat
Gua Maria Sawer Rahmat terletak di kaki Gunung Ciremai pada ketinggian sekitar 700 mdpl.
Untuk mencapainya, pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga. Suasana sejuk dan sumber mata air alami dari Curug Sawer menjadikannya tempat refleksi yang tenang.
10. Kelenteng Talang
Kelenteng Talang berdiri sekitar tahun 1450 dan termasuk salah satu kelenteng tertua di Cirebon.
Awalnya digunakan komunitas Tionghoa Muslim, kemudian berkembang menjadi tempat ibadah umat Konghucu. Keberadaannya menjadi simbol harmoni budaya dan agama di Kota Wali.
Cirebon, Simbol Toleransi dan Warisan Sejarah
Wisata religi di Cirebon bukan sekadar perjalanan spiritual, tetapi juga perjalanan sejarah. Dari makam wali hingga gua doa dan kelenteng berusia ratusan tahun, semuanya memperlihatkan bagaimana akulturasi budaya membentuk identitas kota ini.
Jika ingin merasakan pengalaman ziarah yang sarat makna sekaligus belajar sejarah Islam dan toleransi di Nusantara, Cirebon adalah destinasi yang layak masuk daftar kunjungan berikutnya. (fin)
Editor : AA Arsyadani