Jawa Pos Radar Lawu - Bali identik dengan pantai indah, budaya sakral, dan suasana tenang.
Namun di balik pesonanya, Pulau Dewata juga menyimpan sisi lain yang tak kalah menarik.
Deretan tempat wisata angker yang sarat cerita mistis dan pengalaman horor.
Mulai dari bangunan terbengkalai, pura sakral, hingga lokasi alam yang dipercaya sebagai gerbang dunia gaib.
Berikut 10 wisata angker di Bali yang kisah seramnya masih sering diperbincangkan hingga kini.
1. Hotel P.I Bedugul, Bangunan Mangkrak Paling Misterius
Hotel P.I Bedugul telah terbengkalai sejak era 1990-an dan hingga kini identitas pemiliknya masih menjadi tanda tanya. Berdiri di kawasan berkabut dan berhawa dingin, bangunan ini memancarkan suasana mencekam.
Banyak pengunjung mengaku mendengar langkah kaki, bisikan, hingga melihat sosok misterius. Nama hotel ini kembali viral setelah seorang wisatawan asing mengunggah video eksplorasi yang memperlihatkan kondisi horor di dalamnya.
2. Kompleks Candi Karangasem, Sakral dan Sarat Aura Gaib
Candi Karangasem merupakan bagian dari kompleks candi Hindu kuno yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-11. Beberapa titik seperti Candi Dasa, Lempuyang Luhur, dan Besakih dikenal memiliki energi spiritual kuat.
Konon, Candi Dasa dijaga ular raksasa, sementara Lempuyang dipercaya sebagai gerbang menuju alam spiritual. Aura magis paling terasa saat kabut turun atau menjelang senja.
3. Air Terjun Tegenungan, Indah tapi Tak Sepenuhnya Tenang
Air Terjun Tegenungan di Gianyar kerap dijadikan lokasi ritual melukat. Namun di balik keindahannya, beredar kisah tentang penampakan wanita misterius dan makhluk penjaga berupa ular besar.
Cerita tragis tentang pengunjung yang mengakhiri hidup di kawasan ini turut memperkuat kesan angker yang masih dipercaya hingga kini.
4. Pantai Padang Galak, Gerbang Dunia Gaib?
Pantai Padang Galak dikenal sebagai lokasi ritual melasti umat Hindu. Di luar fungsi sakralnya, pantai ini juga sering dikaitkan dengan kemunculan sosok wanita berbaju putih pada malam hari.
Cerita tentang ritual pesugihan dan energi gaib membuat kawasan ini terasa berbeda dibanding pantai lain di Bali.
5. Patung Bayi Sakah, Tangisan Misterius Tengah Malam
Patung Bayi Sakah di Gianyar berdiri megah di persimpangan jalan sejak 1989. Warga sekitar kerap mengaku mendengar suara tangisan bayi pada malam hari.
Penampakan sosok putih dan cerita tentang kekuatan magis yang berkaitan dengan kesuburan membuat patung ini dikenal angker sekaligus sakral.
6. Goa Lawah, Dijaga Dewi Durga
Goa Lawah di Klungkung merupakan pura tua yang dihuni ribuan kelelawar. Suara kepakan sayap dipercaya sebagai bagian dari energi spiritual tempat ini.
Banyak pengunjung merasakan hawa dingin yang menusuk dan aura mistis kuat saat berada di kawasan pura yang diyakini dijaga Dewi Durga.
7. Taman Festival Bali, Wahana Mati yang Penuh Cerita
Taman Festival Bali di Sanur dulunya taman hiburan megah sebelum ditutup misterius pada 1997. Sejak terbengkalai, tempat ini menjadi magnet cerita horor.
Pengunjung mengaku melihat penampakan, mendengar suara anak-anak tertawa, hingga merasakan perubahan suhu mendadak di area tertentu.
8. Kuburan Desa Trunyan, Tradisi Kematian yang Tak Biasa
Kuburan Trunyan di tepi Danau Batur terkenal dengan tradisi meletakkan jenazah di bawah pohon Taru Menyan tanpa dikubur atau dikremasi.
Meski tak berbau, aura mistis sangat terasa. Masyarakat setempat percaya kawasan ini dijaga roh penjaga yang harus dihormati oleh setiap pendatang.
9. Kuil Pamuteraan Bawah Laut, Sunyi tapi Berenergi
Pura bawah laut di Pemuteran merupakan situs buatan yang kini menjadi rumah biota laut. Meski relatif modern, banyak penyelam mengaku merasakan energi spiritual kuat.
Cerita tentang suara aneh dan penampakan di kedalaman laut membuat tempat ini dikenal angker sekaligus sakral.
10. Bangkai Kapal Ho Tsai Fa No. 18, Misteri di Tengah Laut
Bangkai kapal Ho Tsai Fa No. 18 menyimpan cerita kelam tentang pembajakan, pembunuhan, hingga kutukan.
Penampakan bayangan, suara tangisan, dan teriakan misterius kerap dilaporkan, terutama saat malam hari di sekitar lokasi kapal. (fin)
Editor : AA Arsyadani