Jawa Pos Radar Lawu-Gunungkidul memang tak pernah kehabisan kejutan soal keindahan pantai. Selain deretan pantai populer seperti Indrayanti dan Pok Tunggal, ada satu pantai yang menawarkan nuansa berbeda, yaitu Pantai Midodaren.
Pantai ini bukan hanya menghadirkan panorama alam yang memukau, tetapi juga menyimpan kisah mistis yang melekat erat dalam budaya masyarakat setempat.
Keindahan yang Masih Alami
Pantai Midodaren dikenal karena suasananya yang tenang dan masih jarang dikunjungi wisatawan. Hamparan pasir putih berpadu dengan batu karang besar menciptakan lanskap eksotis, sementara deburan ombak khas laut selatan menghadirkan kesan dramatis.
Tebing karst yang menjulang di sekitarnya semakin menambah daya tarik visual, menjadikan pantai ini tempat yang cocok untuk menikmati ketenangan.
Aktivitas Menarik di Pantai Midodaren
-Menikmati panorama senja: Cahaya matahari sore yang keemasan menjadikan pantai ini spot ideal untuk berburu sunset.
-Fotografi alam: Tebing, karang, dan garis pantai unik membuat Midodaren sangat fotogenik.
-Camping: Karena masih sepi, pantai ini kerap dijadikan tempat berkemah bagi wisatawan yang ingin suasana tenang.
-Menjelajah gua alami: Beberapa gua kecil di sekitar pantai bisa dijelajahi sambil menikmati cerita mistis yang melekat.
Kisah Mistis yang Melegenda
Nama “Midodaren” diambil dari kata bidadari. Menurut kepercayaan masyarakat, pantai ini sering menjadi persinggahan para bidadari yang turun ke bumi, terutama saat bulan purnama.
Mereka dipercaya mandi di pantai ini, meninggalkan aura mistis yang masih terasa hingga sekarang.
Selain itu, sebagian masyarakat juga mengaitkan Pantai Midodaren dengan legenda Nyi Roro Kidul, penguasa Laut Selatan. Gua-gua di sekitar pantai diyakini sebagai jalur gaib yang menghubungkan dunia manusia dengan kerajaan laut selatan.
Karena itu, pantai ini dianggap keramat, dan beberapa ritual tradisional masih dilakukan sebagai bentuk penghormatan
Lokasi dan Akses
Pantai Midodaren berada di kawasan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Perjalanan dari pusat Kota Yogyakarta memakan waktu sekitar 2–3 jam.
Jalur menuju lokasi cukup menantang dengan jalan berliku di perbukitan karst, namun panorama yang disajikan di ujung perjalanan membuat semua lelah terbayar.(galuh-mg-pnm/kid)
Editor : Nur Wachid