Jawa Pos Radar Lawu - Flores bukan hanya dikenal dengan keindahan laut dan panorama alamnya, tetapi juga menyimpan sebuah permata budaya di pegunungan Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Namanya Desa Wae Rebo, kampung adat yang berdiri di ketinggian ±1.200 mdpl. Letaknya yang seakan menyentuh langit membuat Wae Rebo dijuluki sebagai “desa di atas awan”.
Keunikan Rumah Adat Mbaru Niang
Ikon utama Wae Rebo adalah rumah adat berbentuk kerucut yang disebut Mbaru Niang.
Bangunan tradisional ini bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga pusat kehidupan sosial dan adat masyarakat.
Arsitektur uniknya telah diwariskan turun-temurun, merepresentasikan filosofi hidup yang menyatu dengan alam.
Hingga kini, warga tetap menjaga nilai leluhur serta tradisi kekerabatan yang menjadi identitas Wae Rebo.
Perjalanan Menuju Wae Rebo
Untuk mencapai desa adat ini, wisatawan perlu menempuh trekking sekitar 3–4 jam dari Desa Denge.
Jalurnya menantang, melewati hutan tropis dan bukit terjal. Namun rasa lelah akan segera terbayar saat hamparan hijau pegunungan, udara sejuk, dan ketenangan khas Wae Rebo menyambut.
Keindahan ini membuat UNESCO menetapkan Wae Rebo sebagai warisan budaya dunia.
Pengalaman Wisata Budaya
Wae Rebo bukan sekadar destinasi alam, tetapi juga pusat wisata budaya. Wisatawan dapat tinggal bersama warga, ikut memasak, berkebun, hingga menyaksikan ritual adat Manggarai.
Kehangatan sambutan warga menjadikan kunjungan ke desa ini lebih dari sekadar perjalanan, melainkan sebuah pengalaman autentik yang memberi kedekatan spiritual dan kultural.
Dengan kombinasi alam yang menawan, arsitektur unik Mbaru Niang, dan kekayaan tradisi, Wae Rebo kini menjadi destinasi unggulan Flores.
Desa adat ini bukan hanya memikat wisatawan lokal, tetapi juga telah menarik perhatian dunia.
Bagi pecinta budaya, petualangan, dan perjalanan bermakna, Wae Rebo adalah pengalaman yang tidak boleh dilewatkan.
(*/naz)
Penulis: Diva Vania Candrawati/Politeknik Negeri Madiun