Jawa Pos Radr Lawu – Kalau kamu sedang penat dan ingin melarikan diri sejenak dari rutinitas kota, Wonogiri menyimpan kejutan alam yang belum banyak dijamah.
Kabupaten di ujung tenggara Jawa Tengah ini bukan cuma indah, tapi juga tenang, alami, dan penuh pesona tersembunyi.
Dari air terjun mistis hingga pasar tradisional bernuansa tempo dulu, semuanya bisa kamu temukan di sini.
Berikut 3 destinasi hidden gems di Wonogiri yang wajib kamu eksplorasi!
1. Air Terjun Girimanik, Slogohimo
Terletak di lereng selatan Gunung Lawu, Air Terjun Girimanik berada di Desa Setren, Kecamatan Slogohimo.
Berjarak sekitar 40 km dari pusat Kota Wonogiri, kawasan ini menawarkan tiga air terjun sekaligus.
Meliputi air terjun Manikmoyo, Tejomoyo, dan Condromoyo.
Selain panorama air terjun yang menyegarkan mata dan jiwa, Girimanik juga dikenal sebagai lokasi pertapaan Pangeran Sambernyawa (RM Said).
Terdapat petilasan seperti Batu Besi, Sendang Drajat, dan Pertapaan Girimanik yang membuat tempat ini sarat nuansa spiritual.
Kombinasi alam dan sejarah menjadikan Girimanik sebagai destinasi healing sekaligus kontemplatif yang unik di Jawa Tengah.
2. Goa Resi, Bulukerto
Baru dibuka pada November 2021, Goa Resi di Desa Conto, Kecamatan Bulukerto, adalah destinasi yang masih alami dan belum ramai dikunjungi.
Terletak sekitar 54 km dari pusat kota, kamu bisa mencapainya lewat rute Wonogiri–Pracimantoro.
Goa ini menyuguhkan udara segar khas pegunungan, lanskap hijau, dan keheningan yang cocok untuk eksplorasi santai maupun fotografi.
Meski tergolong baru, fasilitas wisata cukup memadai untuk wisatawan keluarga dan backpacker.
Goa Resi cocok buat kamu yang suka suasana sunyi, alam terbuka, dan ingin menyatu dengan keindahan bumi Wonogiri yang masih perawan.
3. Pasar Kuliner Dhoplang
Ingin wisata kuliner yang unik dan bernuansa lokal? Pasar Kuliner Dhoplang jawabannya!
Pasar ini hanya buka setiap Minggu pagi dan menyajikan berbagai jajanan tradisional khas Wonogiri.
Yang menarik, semua transaksi menggunakan koin khusus (dhoplang) yang ditukar dari uang tunai.
Para penjual mengenakan pakaian adat Jawa: lurik, blangkon, kebaya, dan jarik.
Tanpa plastik dan dengan sentuhan budaya, pasar ini tak cuma jadi tempat makan, tapi juga wisata edukatif dan heritage yang menyentuh rasa dan rasa bangga akan budaya lokal. (cor)
Editor : Andi Chorniawan