Jawa Pos Radar Lawu- Pembangunan Waduk Bendo menyisakan beragam cerita yang masih kekal. Tidak hanya berkaitan dengan sebuah kampung yang direlokasi.
Agar pembangunan Waduk Bendo maksimal, pemerintah bersama masyarakat juga harus merelokasi satu pemakaman umum.
Pada musim kemarau lalu, keberadaan makam-makam di sekitar lokasi pembangunan Waduk Bendo sempat viral.
Debit air di Waduk Bendo menurun. Gara-gara itu, makam yang sempat terendam air muncul kembali.
Meski sempat terendam air selama 2 tahun, Batu nisan dan bangunan di atas makam masih tampak utuh. Meskipun ada beberapa yang sedikit rusak.
Secara posisi, makam berada di Dusun Krajan, Desa Ngadirojo, Sooko.
Sebelum dipindahkan, kondisi makam sudah memprihatinkan karena terdampak pembangunan Waduk Bendo.
Sebab lokasinya hanya berjarak 50 meter dari genangan air Waduk Bendo.
Warga khawatir jika tak segera dipindah, makam leluhurnya bakal tenggelam.
Karena takut hilang, maka warga berinisiatif untuk memindahkannya.
Mereka tak ingin kualat, ada ritual khusus dalam pemindahannya.
Saat prosesi pemindahan makam, warga-warga diminta mengambil masing-masing tanah kuburan leluhurnya.
Lalu tanah dibungkus kain kafan layaknya jenazah dan diboyong ke tanah makam baru.
Proses pemindahan ini penuh perjuangan, salah satunya karena akses jalan yang licin karena masih berupa tanah liat.
Warga pun harus rela menyeberangi sungai. Yang menarik ada warga tidak hanya membawa satu tanah makam.
Bahkan ada yang membawa delapan tanah makam.
Di tempat makam baru pun, warga didampingi Modin setempat untuk prosesi pemindahan makam. (*)
Editor : Riana M.