Jawa Pos Radar Lawu - Cina mengumumkan rancangan reaktor fusi nuklir generasi terbaru di Shanghai Fusion Energy Conference & Fusion Week 2026.
Diberi nama HL-4, fasilitas reaktor fusi nuklir ini diperkirakan akan menjadi reaktor nuklir pertama yang memanas secara stabil terus menerus tanpa mengalami overheating.
Baca Juga: Korupsi Triliunan di Proyek PLTU: Nama Halim Kalla Mencuat, Apa Faktanya?
Perjalanan Terbentuknya Tenaga Nuklir di Cina
Awal mula Cina menggunakan teknologi nuklir adalah pada sekitar tahun 1980an dengan Southwestern Institute of Physics (SWIP).
SWIP mendirikan reaktor nuklir pertama di Cina, yang kemudian dinamai dengan nama HL-1, kependekan dari Huanliu yang berarti "Sirkulasi" atau "Aliran Toroidal".
Reaktor tersebut kemudian menjadi seri dari reaktor-reaktor nuklir bernama Huanliu (HL), mulai dari seri HL-1 hingga seri HL-4.
Reaktor seri sebelumnya, HL-3, walaupun terlihat seperti reaktor yang menggunakan fisika reaktor panas, masih mengandalkan tembaga yang mudah mengalami overheating.
Masalah inilah yang akan diselesaikan di pengembangan seri terbaru, HL-4.
Baca Juga: Harga BBM Melonjak, Kendaraan Listrik Tiongkok Melesat Pesat Pada 2026
Blueprint HL-4 yang Revolusioner
Tujuan utama dirancangnya HL-4 adalah untuk menciptakan reaktor fusi nuklir yang stabil digunakan secara terus menerus tanpa mengalami overheating.
Dengan tipe reaktor nuklir Tokamak, yang dimana tempat terjadinya reaksi nuklir tersebut ada di dalam reaktor yang berbentuk donat tersebut.
Dinding donat berongga itu dialiri arus magnet untuk memerangkap dan memilin plasma dengan arus magnet sebesar 25 tesla.
Karena menggunakan arus magnet untuk mengontrol reaksi nuklir yang berbentuk plasma, hal ini mengurangi pemanasan di dalam reaktor tersebut lebih baik daripada penggunaan tembaga.
Penggunaan arus magnet tersebut tak hanya mengurangi tingkat pemanasan dalam reaktor, namun juga dapat mengurangi ukuran reaktor tersebut.
Bukan Hasil Akhir
Walaupun sangat revolusioner untuk teknologi reaktor fusi nuklir, HL-4 bukanlah produk akhir, namun sebagai batu loncatan.
Tak langsung dibangun dengan skala besar, namun hanya skala kecil yang seukuran dengan tempat untuk menguji teknologi (testing grounds).
HL-4 nantinya akan berfungsi sebagai tempat untuk menguji teknologi magnet superkonduktor dengan temperatur tinggi tanpa hambatan untuk referensi projek kedepannya.
Setelah pengujian teknologi tersebut telah teruji dan tervalidasi, berulah akan dibuat program reaktor fusi nuklir selanjutnya dengan skala komersial.(*)
*Syifa Fitria Hanifah, Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : Interesting Engineering, CGTN