Jawa Pos Radar Lawu - Nama Brisia Jodie telah menjadi salah satu warna yang mudah dikenali dalam musik pop Indonesia. Maria Brisia Jodie Maurinne, yang lahir di Yogyakarta pada 30 Maret 1996, membangun popularitas melalui karakter vokal yang lembut dan emosional, sekaligus kepribadiannya yang spontan serta dekat dengan publik.
Perjalanan tersebut bermula dari sebuah panggung pencarian bakat. Dari sana, Jodie perlahan membangun identitasnya sendiri hingga dikenal sebagai penyanyi yang kerap menghadirkan lagu-lagu bertema cinta, kehilangan, dan hubungan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Dari Indonesian Idol Menuju Industri Musik
Nama Jodie mulai mendapatkan perhatian luas ketika ia mengikuti Indonesian Idol Musim Kesembilan pada 2017–2018. Bukan hanya kemampuan bernyanyi, pembawaannya yang polos dan interaksinya yang jenaka dengan para juri turut membuat sosoknya mudah diingat penonton.
Setelah perjalanan di Indonesian Idol, Jodie segera melanjutkan karier profesional. Momentum besar datang ketika ia berduet dengan Arsy Widianto melalui single "Dengan Caraku" pada 2018.
“Dengan Caraku” Jadi Titik Balik
Lagu ciptaan Yovie Widianto tersebut mempertemukan karakter vokal Jodie dan Arsy dalam balutan pop romantis. Respons pendengar yang besar membuat lagu itu menjadi salah satu kolaborasi populer di kalangan penikmat musik muda Indonesia.
Keberhasilan tersebut juga membawa nama keduanya ke ajang penghargaan musik nasional. Kolaborasi Jodie dan Arsy kemudian menjadi fondasi penting bagi perjalanan Jodie sebagai penyanyi solo.
Album Kisahku Memperkuat Identitas Jodie
Eksistensi Brisia Jodie semakin kokoh setelah ia menghadirkan album debut Kisahku pada 2020. Melalui album tersebut, Jodie mengeksplorasi berbagai cerita mengenai cinta dan dinamika hubungan dengan pendekatan vokal yang tetap menjadi ciri khasnya.
Baca Juga: Profil The Jansen, Unit Indie-Punk Penakluk Kancah Musik Independen
Beberapa karya yang menonjol dalam perjalanan musiknya antara lain:
- "Kisahku" dan "Rekat", yang menampilkan sisi emosional sekaligus kemampuan Jodie dalam menyampaikan cerita melalui lagu.
- "Tak Bisa Bersama", yang kembali mempertemukannya dengan Arsy Widianto.
- "Soulmate", yang memperlihatkan eksplorasi Jodie terhadap karya dengan nuansa romantis.
- "Sehari Lagi" dan "Kedua Kalinya", yang memperluas katalog musiknya dengan cerita cinta dari sudut pandang berbeda.
- "Tabu", yang turut memperkenalkan suara Jodie melalui proyek musik untuk film.
Rangkaian karya tersebut membuat Jodie tidak berhenti pada kesuksesan satu lagu. Ia terus mengembangkan katalog musiknya dengan mempertahankan karakter vokal yang menjadi identitas utama.
Melebarkan Sayap ke Dunia Akting
Kreativitas Jodie kemudian merambah ke ranah seni peran. Ia mendapat kesempatan tampil dalam sejumlah produksi layar lebar dan serial, termasuk proyek bergenre horor dan komedi romantis.
Langkah tersebut memperlihatkan sisi lain Jodie sebagai entertainer. Pengalaman di depan kamera juga menjadi ruang baru baginya untuk mengembangkan kemampuan di luar musik.
Kepribadian yang Menjadi Kekuatan
Salah satu faktor yang membuat Brisia Jodie tetap memiliki tempat khusus di hati pendengar adalah kepribadiannya yang apa adanya. Ia mampu membawa karakter tersebut ke atas panggung melalui interaksi spontan dan humor yang membuat penampilannya terasa lebih dekat.
Hubungan dengan penggemar juga menjadi bagian penting dari perjalanan kariernya. Komunitas Teman Jodie terus memberikan dukungan terhadap berbagai karya dan aktivitas sang penyanyi.
Dengan perpaduan suara lembut, karakter personal yang kuat, serta konsistensi menghasilkan karya, Brisia Jodie berhasil mempertahankan eksistensinya di tengah perubahan tren musik Indonesia. Lagu-lagunya pun terus menjadi pilihan bagi pendengar yang mencari musik pop dengan sentuhan romantis dan emosional. (*)
(Magang, Fadisca Zahra Prasetya - Universitas Negeri Surabaya)
Editor : Tim Content Writer Radar Lawu