Jawa Pos Radar Lawu - Ada musisi yang membutuhkan produksi megah untuk menyampaikan emosi, tetapi Arash Buana justru menemukan kekuatannya dari kesederhanaan. Dengan gitar akustik, vokal lembut, dan lirik yang terasa seperti catatan pribadi, ia berhasil membangun kedekatan dengan pendengar muda hingga menjangkau audiens di luar Indonesia.
Arash Buana Mulia lahir di Jakarta pada 12 Juni 2003. Sebelum dikenal sebagai solois indie-pop, ia telah lebih dulu bersentuhan dengan dunia hiburan ketika masih kecil.
Dari Bintang Cilik Menuju Musisi Independen
Karier Arash bermula ketika dirinya masih belia melalui aktivitas sebagai penyanyi dan aktris cilik. Namun, seiring bertambahnya usia, ketertarikannya terhadap penulisan lagu dan produksi musik semakin kuat.
Alih-alih sekadar mengikuti arus industri, Arash memilih membangun identitasnya melalui jalur independen. Pendekatan tersebut kemudian menjadi ciri penting dalam musiknya yang banyak mengeksplorasi bedroom-pop, akustik, dan nuansa lo-fi.
“IF U COULD SEE ME CRYIN' IN MY ROOM” Jadi Titik Balik
Nama Arash semakin diperhitungkan setelah merilis "IF U COULD SEE ME CRYIN' IN MY ROOM" pada 2020 bersama Raissa Anggiani. Lagu dengan atmosfer intim dan emosional tersebut mendapatkan perhatian luas dari pendengar muda.
Popularitasnya kemudian berkembang melalui berbagai platform digital. Lagu tersebut menjadi salah satu karya yang memperkuat posisi Arash di tengah pertumbuhan musik indie-pop Indonesia.
Setelah momentum tersebut, ia melanjutkan perjalanan dengan sejumlah rilisan seperti:
- "I'll Be Waiting"
- "Say You're Done"
- "Di Dekatmu"
- "Stars"
Rangkaian karya tersebut memperlihatkan konsistensinya mempertahankan pendekatan personal dalam menulis lagu.
Baca Juga: Profil Ed Sheeran, Perjalanan dari Musisi Jalanan hingga Megabintang Dunia
“Logic & Heart” Membuka Babak Baru
Eksplorasi musikal Arash kemudian berkembang menjadi album Logic & Heart pada 2022. Judul tersebut merepresentasikan pergulatan antara rasionalitas dan perasaan yang kerap menjadi bagian dari perjalanan hidup seseorang.
Melalui perpaduan gitar akustik, aransemen bedroom-pop, dan vokal yang intim, Arash mempertahankan karakter musiknya tanpa membuat materi album terasa berlebihan.
Dua tahun kemudian, ia melanjutkan perjalanan tersebut melalui life update (2024). Album ini membawa perspektif yang lebih dewasa mengenai proses bertumbuh, hubungan personal, pencarian jati diri, dan perubahan emosional.
Musik Intim yang Dekat dengan Generasi Z
Daya tarik Arash Buana tidak berhenti pada karya rekaman. Ketika tampil langsung, ia mampu mempertahankan atmosfer personal yang menjadi identitas musiknya.
Gitar akustik dan pembawaan vokal yang tenang membuat penampilannya terasa seperti percakapan pribadi antara musisi dan pendengar. Pendekatan tersebut menjadi salah satu alasan musik Arash mudah diterima oleh generasi muda yang mencari lagu dengan cerita emosional dan relatable.
Konsistensinya dalam menulis serta mengembangkan musik secara mandiri membuat Arash Buana menjadi salah satu nama yang menarik dalam perkembangan indie-pop Indonesia. Ia menunjukkan bahwa lagu yang sederhana, personal, dan jujur tetap mampu memiliki daya jangkau luas di tengah industri musik yang semakin kompetitif.
Bagi pendengar yang ingin mengikuti perjalanan musikalnya, berbagai karya Arash Buana dapat dinikmati melalui platform streaming musik digital seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music. (*)
(Magang, Fadisca Zahra Prasetya - Universitas Negeri Surabaya)
Editor : Tim Content Writer Radar Lawu