Profil Payung Teduh, Pelopor Folk-Pop Indonesia Pencetak Fenomena Digital

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 09:14 WIB
Potret Penyanyi Payung Teduh
Potret Penyanyi Payung Teduh

Jawa Pos Radar Lawu - Ada masa ketika musik tidak perlu terdengar keras untuk meninggalkan kesan mendalam. Dari panggung teater kampus hingga menjadi salah satu nama penting dalam skena musik independen Indonesia, Payung Teduh membangun identitas lewat melodi hangat, lirik puitis, dan aransemen yang terasa akrab. Perjalanan mereka kemudian mencapai titik istimewa ketika “Akad” menjelma menjadi salah satu lagu paling dikenal dan melekat dalam budaya populer Tanah Air.

Berawal dari Kampus, Payung Teduh Menemukan Warnanya

Payung Teduh terbentuk di lingkungan Universitas Indonesia, Depok, pada 2007. Musik mereka sejak awal menawarkan pendekatan berbeda melalui perpaduan indie-folk, pop, jazz, serta sentuhan keroncong modern yang membuat karakter mereka mudah dikenali.

Formasi awal Payung Teduh diisi oleh Mohammad Istiqamah Djamad atau Is sebagai vokalis dan gitaris, Comi Takabayashi pada bass, Cito pada drum, serta Ivan Penwyn yang memainkan guitalele dan terompet.

Nama Payung Teduh pun terasa selaras dengan musik yang mereka tawarkan. Lagu-lagu mereka menghadirkan atmosfer hangat dan intim, seolah menjadi tempat singgah bagi pendengar setelah menjalani hari yang panjang.

“Resah” hingga “Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan”

Perjalanan rekaman Payung Teduh dimulai melalui album self-titled Payung Teduh pada 2010. Lagu seperti “Angin Pujaan Hujan” dan “Resah” perlahan memperluas penggemar mereka di kalangan penikmat musik alternatif.

Dua tahun kemudian, album Dunia Kartun semakin memperkuat posisi Payung Teduh. Salah satu lagu yang paling menonjol adalah “Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan”, yang memperlihatkan kemampuan mereka menyatukan melodi sederhana dengan lirik penuh imaji.

“Akad” Mengubah Perjalanan Payung Teduh

Momentum terbesar datang pada 2017 ketika Payung Teduh memperkenalkan “Akad”, bagian dari album Ruang Tunggu. Dengan melodi ringan, permainan terompet yang khas, dan lirik romantis, lagu tersebut berkembang jauh melampaui ekspektasi.

Baca Juga: Profil D’MASIV dan Rahasia Bertahan Lebih dari 20 Tahun: Dari “Cinta Ini Membunuhku” hingga Abbey Ro

“Akad” kemudian menjadi lagu yang sangat populer di berbagai platform digital dan kerap hadir dalam berbagai momen romantis, termasuk pernikahan. Lagu tersebut juga membawa Payung Teduh meraih penghargaan di ajang Anugerah Musik Indonesia 2017.

Perubahan Formasi dan Lahirnya Parade Hujan

Di tengah popularitas “Akad”, perjalanan band mengalami perubahan besar. Is dan Comi memilih meninggalkan Payung Teduh pada akhir 2017 untuk mengembangkan perjalanan musikal mereka sendiri melalui Pusakata.

Payung Teduh kemudian meneruskan aktivitas dengan formasi baru dan menghadirkan Marsya Ditia sebagai vokalis. Namun, kerinduan terhadap formasi awal akhirnya menemukan jawaban.

Pada akhir 2022, Is, Comi, Cito, dan Ivan kembali bersama melalui proyek bernama Parade Hujan. Wadah baru tersebut menjadi ruang bagi mereka untuk melanjutkan eksplorasi musik sekaligus menghadirkan karya seperti “Datang” dan “Membelah Angin”.

Warisan Musik yang Tetap Teduh

Lebih dari sekadar lagu populer, Payung Teduh meninggalkan pengaruh melalui cara mereka mengemas cerita menjadi musik. Lirik yang puitis, aransemen yang hangat, serta atmosfer pertunjukan yang intim membuat karya mereka tetap memiliki tempat di hati pendengar.

Perjalanan dari panggung kampus menuju fenomena “Akad” menunjukkan bahwa musik yang lahir dari ketulusan tidak selalu membutuhkan formula besar untuk menjadi berarti. Payung Teduh membuktikan bahwa kesederhanaan pun mampu menghasilkan karya yang bertahan lama.

Bagi pendengar yang ingin kembali menikmati karya mereka, album dan single resmi Payung Teduh maupun Parade Hujan tersedia melalui berbagai platform streaming musik digital seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music. (*)

(Magang, Fadisca Zahra Prasetya - Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Payung Teduh Profil Payung Teduh musik indonesia band indonesia