Profil Nidji dan Warna Musik yang Tak Pernah Pudar: Dari “Laskar Pelangi” hingga Era Ubay

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:19 WIB
Potret Penyanyi Band Nidji
Potret Penyanyi Band Nidji

Jawa Pos Radar Lawu - Satu lagu bisa membawa seseorang kembali ke masa tertentu. Bagi banyak pendengar Indonesia, suara Nidji mungkin mengingatkan pada era ketika lagu "Hapus Aku" dan "Laskar Pelangi" memenuhi radio, televisi, hingga ruang-ruang karaoke. Lebih dari dua dekade kemudian, band asal Jakarta ini masih bergerak dengan warna musik yang terus berkembang.

Nidji dibentuk di Jakarta pada Februari 2002. Menggabungkan pop-rock, Britpop, dan elemen elektronik, mereka membangun karakter melalui permainan gitar melodis, suara synthesizer yang menonjol, serta pertunjukan panggung yang penuh energi.

Formasi Nidji saat ini terdiri atas Muhammad Yusuf Nur Ubay atau Ubay sebagai vokalis, Andi Ariel Harsya atau Ariel dan Ramadhista Raya atau Raya pada gitar, Randy Danistha pada synthesizer dan kibor, Andro Regantoro pada bass, serta Adri Prakash pada drum.

“Breakthru!” Menjadi Titik Ledakan Nidji

Popularitas Nidji meningkat pesat setelah album perdana Breakthru! dirilis pada 2006. Album tersebut memperkenalkan karakter musik mereka kepada publik secara lebih luas dan menghasilkan sejumlah lagu yang kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan musik Indonesia.

Dari “Hapus Aku” hingga “Disco Lazy Time”

Lagu "Sudah" dan "Hapus Aku" menjadi dua karya yang paling kuat mengangkat nama Nidji pada masa awal karier. Melodi yang mudah diingat berpadu dengan karakter vokal dan aransemen rock yang membuat lagu-lagu tersebut cepat melekat di telinga pendengar.

Di sisi lain, "Disco Lazy Time" dan "Kau dan Aku" menunjukkan keberanian Nidji memainkan warna musik yang lebih luas. Unsur pop yang ringan berpadu dengan synthesizer dan elemen elektronik sehingga menghasilkan karakter yang terdengar segar pada masanya.

Ketika Lagu Nidji Menjadi Soundtrack Generasi

Selain sukses lewat album, Nidji juga memiliki rekam jejak kuat dalam menciptakan lagu untuk film. Salah satu yang paling membekas adalah "Laskar Pelangi", soundtrack film yang diadaptasi dari novel karya Andrea Hirata pada 2008.

Lagu tersebut berkembang jauh melampaui fungsi sebagai soundtrack. Lirik dan melodinya membuat "Laskar Pelangi" identik dengan semangat mengejar mimpi dan menjadi salah satu karya Nidji yang tetap dikenang hingga sekarang.

Nidji kemudian kembali terlibat dalam soundtrack film melalui "Sumpah & Cinta Matiku" untuk Tenggelamnya Kapal Van der Wijck pada 2013.

Era Baru Bersama Ubay

Perjalanan Nidji memasuki babak berbeda setelah Giring Ganesha tidak lagi menjadi vokalis utama. Band ini kemudian membuka proses pencarian vokalis baru dan pada 2019 memilih Ubay, yang sebelumnya dikenal sebagai kontestan Indonesian Idol.

Kehadiran Ubay memberikan warna baru tanpa menghapus karakter utama Nidji. Karakter vokalnya membawa energi berbeda, sementara kemampuannya memainkan saksofon turut memberikan variasi dalam pertunjukan langsung.

Era baru tersebut ditandai dengan sejumlah karya dan aransemen baru, termasuk "Bila Aku Jatuh Cinta" serta "Vibrasi (Dua Arah)". Langkah ini menunjukkan bahwa perubahan personel tidak selalu berarti hilangnya identitas sebuah band.

Energi Panggung yang Tetap Menyala

Nidji juga dikenal sebagai kelompok yang mampu menerjemahkan energi rekaman ke atas panggung. Penampilan mereka di berbagai festival seperti Synchronize Fest dan Joyland selalu menjadi ruang bagi personel untuk berinteraksi dengan penonton secara lebih lepas.

Lagu-lagu lama maupun materi dari era baru dapat memperoleh respons berbeda ketika dimainkan secara langsung. Gerakan para personel, permainan instrumen yang dinamis, serta respons penonton menciptakan atmosfer konser yang khas.

Baca Juga: Profil Paramore, Band yang Tumbuh Bersama Perubahan Zaman

Lebih dari sekadar pertunjukan, konser Nidji juga menjadi ruang pertemuan antara band dan komunitas penggemarnya, Nidji-holic. Komunitas tersebut ikut menjaga hubungan emosional antara Nidji dan para pendengarnya.

Warna yang Terus Berubah

Nama Nidji berasal dari kata Jepang Niji yang berarti Pelangi. Makna tersebut terasa selaras dengan perjalanan musik mereka yang selalu menghadirkan berbagai warna.

Selama lebih dari dua dekade, Nidji telah melewati perubahan personel, tren musik, dan pergantian generasi pendengar. Namun, kemampuan untuk beradaptasi tanpa sepenuhnya meninggalkan karakter awal menjadi salah satu alasan mereka tetap bertahan.

Dari "Hapus Aku" hingga "Laskar Pelangi", kemudian berlanjut ke era Ubay, Nidji menunjukkan bahwa sebuah band dapat terus berevolusi tanpa harus kehilangan akar musikalnya.

Bagi pendengar lama, lagu-lagu mereka menawarkan nostalgia. Sementara bagi generasi baru, karya dan penampilan Nidji menjadi pintu untuk mengenal salah satu warna penting dalam perjalanan musik populer Indonesia.

Seluruh album dan single resmi Nidji juga dapat dinikmati secara legal melalui berbagai platform streaming musik digital seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music. (*)

(Magang, Fadisca Zahra Prasetya - Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Nidji Profil Nidji musik indonesia laskar pelangi band indonesia