Jawa Pos Radar Lawu - Ada masa ketika satu lagu patah hati terdengar hampir di setiap sudut Indonesia. "Cinta Ini Membunuhku" menjadi suara yang menemani banyak pendengar pada akhir 2000-an sekaligus membuka jalan besar bagi D’MASIV. Lebih dari dua dekade berlalu, band ini masih mempertahankan tempatnya di industri musik dengan kekuatan lirik emosional dan formasi yang tetap solid.
D’MASIV dibentuk di Jakarta pada 3 Maret 2003. Grup yang mengusung pop-rock dan balada ini diperkuat Rian Ekky Pradipta atau Rian sebagai vokalis, Dwikky Aditya Marsall atau Kiki dan Nurul Damar Ramadan atau Rama pada gitar, Rayyi Kurniawan Dinata Rai atau Rai pada bass, serta Wahyu Piadji pada drum.
Kelima personel tersebut menjadi bagian dari perjalanan D’MASIV sejak awal. Konsistensi formasi menjadi salah satu keunikan yang membuat perjalanan mereka berbeda dari banyak grup musik lain.
Dari Kompetisi Menuju Puncak Popularitas
Sebelum dikenal luas melalui radio dan televisi, D’MASIV lebih dulu membangun perjalanan mereka melalui berbagai panggung dan kompetisi. Salah satu titik balik terbesar terjadi ketika mereka memenangkan A Mild Live Wanted pada 2007.
Kemenangan tersebut membuka peluang bagi D’MASIV untuk masuk ke industri rekaman secara lebih luas. Setahun kemudian, album debut Perubahan dirilis melalui Musica Studio's dan langsung membawa nama mereka ke tingkat popularitas yang jauh lebih besar.
“Cinta Ini Membunuhku” Mengubah Segalanya
Album Perubahan melahirkan sejumlah lagu yang kemudian menjadi identitas D’MASIV. Yang paling menonjol adalah "Cinta Ini Membunuhku", sebuah lagu dengan tema patah hati yang sederhana tetapi mampu menjangkau pengalaman emosional banyak orang.
Popularitas lagu tersebut membuat D’MASIV semakin dikenal sebagai salah satu kekuatan baru musik pop Indonesia. Tidak hanya itu, "Di Antara Kalian" dan "Merindukanmu" ikut memperkuat karakter mereka melalui lirik yang dekat dengan persoalan hubungan dan kehilangan.
Kesuksesan tersebut kemudian berlanjut lewat "Jangan Menyerah" pada 2009. Berbeda dari lagu-lagu patah hati mereka, lagu ini membawa pesan optimistis tentang menghadapi kehidupan dan menjadi salah satu karya D’MASIV yang paling sering diasosiasikan dengan semangat pantang menyerah.
Nama Besar yang Terus Berkembang
Setelah memperoleh popularitas melalui album pertama, D’MASIV tidak berhenti pada formula yang sama. Mereka terus menghasilkan karya baru sembari mempertahankan kekuatan utama berupa melodi yang mudah diingat dan lirik yang emosional.
Perjalanan panjang tersebut juga membawa mereka ke berbagai panggung di luar Indonesia. D’MASIV tercatat melakukan pertunjukan di sejumlah negara, termasuk kawasan Asia Tenggara, Australia, hingga beberapa kota di Amerika Serikat.
Langkah tersebut memperlihatkan ambisi mereka untuk memperluas jangkauan musik sekaligus membawa karya berbahasa Indonesia kepada pendengar internasional.
Abbey Road Menjadi Bagian Penting Perjalanan
Salah satu pencapaian menarik dalam perjalanan D’MASIV terjadi pada 2019. Band ini melakukan perjalanan ke London untuk menjalani proses rekaman di Abbey Road Studios, studio legendaris yang telah menjadi bagian dari sejarah musik dunia.
Kesempatan tersebut menjadi simbol perkembangan produksi musik D’MASIV setelah bertahun-tahun berkarier. Rekaman di tempat bersejarah tersebut juga memperlihatkan keberanian mereka membawa proses kreatif ke level yang lebih tinggi.
Bagi sebuah band yang memulai perjalanan dari kompetisi musik pada 2000-an, pengalaman tersebut menjadi salah satu bab penting dalam perjalanan karier mereka.
Rian dan Kekuatan Emosi di Atas Panggung
Jika lagu menjadi jantung D’MASIV, maka penampilan langsung menjadi ruang untuk menghidupkan kembali emosi tersebut. Karakter vokal Rian yang khas membuat lagu-lagu D’MASIV tetap terasa kuat ketika dibawakan di depan penonton.
Konser mereka juga kerap berubah menjadi sesi bernyanyi bersama. Ketika lagu-lagu populer seperti "Cinta Ini Membunuhku" atau "Jangan Menyerah" dimainkan, penonton biasanya ikut menyanyikan bagian-bagian penting secara serempak.
Baca Juga: Profil Judika, Vokalis dengan Karakter Suara yang Sulit Dilupakan
Pemandangan tersebut dapat ditemui dalam berbagai pertunjukan, mulai dari festival seperti Synchronize Fest dan Joyland hingga konser tunggal D’MASIV.
MASIVERS dan Ikatan yang Bertahan
Hubungan antara D’MASIV dan pendengarnya juga menjadi bagian penting dari perjalanan panjang mereka. Komunitas penggemar yang dikenal sebagai MASIVERS terus menjadi salah satu kekuatan yang mendukung keberadaan band tersebut.
Dukungan penggemar terasa semakin berarti karena D’MASIV mampu mempertahankan formasi yang sama sejak awal. Di tengah banyaknya perubahan dalam industri musik, kelima personel tetap berjalan bersama dan mengembangkan karier sebagai satu kesatuan.
Lebih dari 20 tahun perjalanan menunjukkan bahwa popularitas bukan satu-satunya alasan D’MASIV mampu bertahan. Kekuatan mereka justru terletak pada kemampuan mengolah pengalaman manusia menjadi lagu yang mudah dipahami dan dirasakan.
Dari "Cinta Ini Membunuhku" yang menggambarkan luka dalam hubungan hingga "Jangan Menyerah" yang menawarkan semangat untuk terus berjalan, D’MASIV telah mengisi banyak fase kehidupan pendengarnya.
Konsistensi formasi, produktivitas berkarya, karakter vokal Rian, serta kedekatan dengan MASIVERS membuat perjalanan D’MASIV tetap relevan hingga hari ini. Mereka membuktikan bahwa lagu dengan emosi yang jujur dapat melampaui perubahan tren dan terus menemukan pendengarnya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagi pendengar yang ingin bernostalgia dengan karya-karya D’MASIV, seluruh album dan single resmi mereka dapat dinikmati secara legal melalui berbagai platform streaming musik digital seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music. (*)
(Magang, Fadisca Zahra Prasetya - Universitas Negeri Surabaya)
Editor : Tim Content Writer Radar Lawu