Jawa Post Radar Lawu - Di tengah riuh musik pop-punk Indonesia, Last Child hadir dengan cara yang berbeda. Lagu-lagu mereka tidak sekadar mengandalkan distorsi gitar dan melodi emosional, tetapi juga membawa cerita tentang kehilangan, penyesalan, cinta, hingga perjuangan hidup. Dari panggung underground hingga dikenal jutaan pendengar, perjalanan Last Child menjadi bukti bahwa musik yang lahir dari kejujuran mampu bertahan melewati pergantian zaman.
Band yang terbentuk di Jakarta pada 11 Januari 2006 ini dikenal melalui formasi Virgoun sebagai vokalis dan gitaris, Dimas Rangga pada bass, serta Ipank sebagai drummer. Karakter musik mereka memadukan energi pop-punk dan alternative-rock dengan lirik yang kuat secara emosional.
Nama "Last Child" memiliki cerita tersendiri. Nama tersebut berkaitan dengan latar belakang para personel yang sebagian besar merupakan anak bungsu dalam keluarga. Dari kesamaan itu, mereka membangun sebuah kelompok musik yang kemudian berkembang menjadi salah satu nama penting di skena musik Indonesia.
Dari Panggung Underground Menuju Arus Utama
Perjalanan Panjang Sebelum Dikenal Luas
Sebelum meraih popularitas nasional, Last Child lebih dahulu melewati berbagai panggung underground. Mereka memperkenalkan musiknya melalui rilisan independen, termasuk album mini Grow In Silence yang hadir pada 2007.
Perlahan, nama Last Child mulai menjangkau pendengar yang lebih luas. Album Our Larger Than Life (2009) dan Our Greatest Thing Since Yesterday (2012) menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka menuju panggung musik mainstream.
Lagu-Lagu yang Menjadi Identitas
Sejumlah lagu kemudian memperkuat posisi Last Child sebagai band dengan kekuatan lirik emosional. Beberapa di antaranya adalah:
- "Pedih" & "Duka" — Dua lagu yang menggambarkan kesedihan dan luka dengan balutan musik pop-punk yang kuat.
- "Seluruh Nafas Ini" (feat. Gisella Anastasia) — Kolaborasi yang memadukan karakter musik rock dengan nuansa balada romantis.
- "Sekuat Hatimu" & "Bernafas Tanpamu" — Lagu yang membawa tema keluarga, hubungan, kehilangan, serta perjuangan menghadapi kehidupan.
Kekuatan Last Child Ada pada Lirik dan Panggung
Daya tarik Last Child tidak berhenti pada rekaman studio. Ketika berada di atas panggung, lagu-lagu mereka berubah menjadi ruang bernyanyi bersama bagi para penggemar.
Baca Juga: Profil Barasuara: Ketika Lirik Puitis dan Energi Rock Menjadi Satu Suara
Penampilan di berbagai festival dan tur daerah kerap menghadirkan sing-along massal. Ribuan penonton ikut menyanyikan bagian-bagian paling emosional dari lagu mereka.
Hubungan tersebut juga diperkuat oleh kehadiran komunitas penggemar Last Friends. Basis penggemar ini menjadi bagian penting yang menjaga kedekatan Last Child dengan pendengarnya.
Warisan Musik yang Tetap Dekat dengan Pendengar
Perjalanan Last Child menunjukkan bahwa musik tidak selalu harus berbicara tentang hal-hal besar. Kisah sederhana mengenai patah hati, keluarga, kehilangan, dan harapan justru dapat menjadi alasan sebuah lagu begitu dekat dengan pendengarnya.
Kejujuran dalam menyampaikan emosi membuat karya-karya Last Child terus menemukan pendengar baru. Lagu mereka bahkan tetap relevan bagi generasi yang tumbuh setelah masa awal popularitas band tersebut.
Bagi pendengar yang ingin bernostalgia dengan karya-karya Last Child, berbagai album dan single resmi mereka dapat dinikmati melalui platform streaming musik digital seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music. (*)
(Magang, Fadisca Zahra Prasetya - Universitas Negeri Surabaya)
Editor : Tim Content Writer Radar Lawu