Jawa Pos Radar Lawu - Lebih dari dua dekade setelah terbentuk, The Changcuters masih mampu menghadirkan energi rock and roll yang sulit ditandingi. Gaya panggung atraktif, penampilan retro, dan lagu-lagu jenaka membuat mereka tetap dikenal lintas generasi.
Band asal Bandung ini berdiri pada 19 September 2004. Formasinya terdiri dari Tria Ramadhani, Muhammad Iqbal atau Qibil, Arlanda Ghazali atau Alda, Dipa Nandastyra, dan Erick Nindyo atau Erich.
Musik mereka menggabungkan karakter garage rock dengan semangat rock and roll yang cepat. Di sisi lain, lirik jenaka dan koreografi khas membuat The Changcuters memiliki identitas yang berbeda dari kelompok musik lainnya.
Nama "The Changcuters" sendiri mengambil inspirasi dari kata Sunda cangcut. Pemilihan tersebut kemudian dikemas dengan pendekatan humor yang sesuai dengan karakter mereka yang santai dan penuh kegembiraan.
"Racun Dunia" Mengawali Ledakan Popularitas
Nama The Changcuters semakin besar setelah mereka merilis album Mencoba Sukses pada 2006. Dua tahun kemudian, album tersebut kembali hadir melalui Mencoba Sukses Kembali.
Dari periode tersebut lahir sejumlah lagu yang kemudian menjadi identitas penting mereka. "Racun Dunia" dan "I Love U Bibeh" menjadi contoh bagaimana musik garage rock dapat dikemas dengan cara yang ringan dan mudah diterima publik.
Popularitas tersebut tidak berhenti pada dua lagu. "Main Serong" dan "Gila-Gilaan" turut memperlihatkan karakter musik mereka melalui permainan drum yang agresif dan riff gitar yang enerjik.
Konsisten Melahirkan Album Baru
The Changcuters terus menjaga produktivitas setelah kesuksesan awal. Mereka merilis Tugas Akhir pada 2011, kemudian melanjutkannya dengan Visualis pada 2013 dan Binauralis pada 2016.
Perjalanan tersebut berlanjut hingga Vampir pada 2024. Album ini menjadi salah satu penanda penting perjalanan mereka setelah melewati dua dekade di industri musik Indonesia.
Gaya Retro yang Menjadi Identitas
Musik bukan satu-satunya kekuatan The Changcuters. Sejak kemunculannya, mereka juga membangun citra visual yang sangat mudah dikenali.
Celana skinny jeans, jaket kulit atau jas bergaya retro, serta rambut pompadour menjadi bagian dari penampilan mereka. Gaya tersebut memperkuat nuansa rockabilly yang menjadi bagian dari identitas kelompok.
Inspirasi dari ikon seperti The Beatles dan Elvis Presley turut terasa dalam konsep visual mereka. Namun, The Changcuters mengolahnya dengan karakter humor dan gaya personal yang membuat penampilannya tetap khas.
Dari Panggung Musik ke Layar Lebar
Popularitas The Changcuters kemudian merambah dunia perfilman. Kelima personelnya dipercaya menjadi pemeran utama dalam The Tarix Jabrix yang disutradarai Monty Tiwa pada 2008.
Film tersebut kemudian berkembang menjadi waralaba dengan tiga sekuel. Kehadiran mereka di layar lebar memperluas popularitas The Changcuters sekaligus menunjukkan kemampuan lain di luar musik.
Energi Panggung yang Tidak Pernah Padam
Jika ada satu hal yang selalu menjadi kekuatan The Changcuters, jawabannya adalah live performance. Tria dan kawan-kawan dikenal mampu menghidupkan panggung melalui gerakan enerjik, koreografi serempak, serta komunikasi jenaka dengan penonton.
Penampilan mereka di berbagai festival, termasuk Synchronize Fest dan Soundrenaline, selalu menjadi ruang untuk menunjukkan karakter tersebut. Energi yang mereka bawa mampu membuat penonton ikut bergerak dan bernyanyi bersama.
The Changcuters membuktikan bahwa mempertahankan identitas bukan berarti berhenti berkembang. Selama lebih dari dua dekade, mereka tetap mengandalkan musik yang menyenangkan, penampilan yang kuat, dan semangat menghibur sebagai fondasi perjalanan karier.
Konsistensi itulah yang membuat nama The Changcuters tetap memiliki tempat dalam musik populer Indonesia. Mereka bukan sekadar band rock and roll, tetapi juga bagian dari warna budaya pop yang tumbuh bersama beberapa generasi pendengarnya.
Bagi Anda yang ingin bernostalgia dengan energi rock and roll khas The Changcuters, seluruh album dan single resmi mereka dapat didengarkan secara legal melalui berbagai platform streaming musik digital seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music. (*)
(Magang, Fadisca Zahra Prasetya - Universitas Negeri Surabaya)
Editor : Tim Content Writer Radar Lawu