Jawa Pos Radar Lawu - Tak banyak band alternatif yang mampu membangun identitas sekuat The Neighbourhood. Sejak muncul pada awal 2010-an, grup asal California ini berhasil menarik perhatian lewat perpaduan musik indie rock, alternative pop, R&B, hingga hip-hop yang terdengar berbeda dari tren musik saat itu. Dipadukan dengan konsep visual hitam-putih yang konsisten, The Neighbourhood berkembang menjadi salah satu band paling berpengaruh bagi generasi muda di era digital.
Popularitas mereka semakin melejit setelah merilis lagu "Sweater Weather", sebuah karya yang kemudian menjadi lagu ikonik dan terus dinikmati jutaan pendengar di berbagai platform streaming. Kesuksesan tersebut membuka jalan bagi The Neighbourhood untuk memperluas pengaruhnya di industri musik internasional.
Awal Perjalanan The Neighbourhood
The Neighbourhood dibentuk pada tahun 2011 di Newbury Park, California. Formasi awal band ini terdiri dari Jesse Rutherford sebagai vokalis, Zach Abels dan Jeremy Freedman pada gitar, Mikey Margott sebagai bassis, serta Brandon Fried di posisi drummer.
Sejak awal, mereka memilih jalur musik yang memadukan berbagai genre sekaligus. Alih-alih terpaku pada satu warna musik, The Neighbourhood menggabungkan unsur alternative rock, indie pop, R&B modern, hingga hip-hop menjadi identitas yang unik.
Pilihan tersebut membuat karya-karya mereka memiliki nuansa atmosferik yang kuat dengan lirik yang cenderung reflektif dan emosional.
"Sweater Weather" Jadi Titik Balik Karier
Baca Juga: Australia Perkuat Strategi AI, Robot Humanoid Jadi Sorotan Baru Industri Global
Nama The Neighbourhood mulai dikenal luas setelah merilis singel "Sweater Weather" pada tahun 2012. Lagu tersebut menjadi hit global dan berhasil menembus tangga lagu Billboard, sekaligus memperkenalkan karakter musik khas band asal California tersebut kepada pendengar di berbagai negara.
Hingga kini, "Sweater Weather" masih menjadi salah satu lagu alternatif paling populer di platform digital. Lagu tersebut bahkan kembali viral beberapa kali melalui TikTok dan media sosial lainnya, sehingga berhasil menjangkau generasi pendengar yang lebih muda.
Keberhasilan itu turut mengangkat album debut mereka, I Love You., sebagai salah satu rilisan penting dalam perkembangan musik alternatif dekade 2010-an.
Identitas Monokrom yang Menjadi Ciri Khas
Visual Hitam Putih yang Ikonik
Selain musik, The Neighbourhood juga dikenal karena konsep visualnya yang unik. Pada masa awal karier, hampir seluruh materi promosi mereka menggunakan warna hitam dan putih.
Mulai dari sampul album, video musik, sesi pemotretan, hingga kostum panggung, semuanya dirancang dengan konsep monokrom. Pendekatan tersebut menjadi identitas yang membedakan mereka dari banyak band lain pada era yang sama.
Konsep visual itu juga selaras dengan tema lagu-lagu mereka yang banyak membahas hubungan, pencarian jati diri, kesepian, hingga kehidupan anak muda di lingkungan perkotaan.
Terus Bereksperimen dengan Musik
Setelah sukses melalui album debut, The Neighbourhood tidak berhenti bereksplorasi. Mereka terus menghadirkan warna baru lewat sejumlah album, seperti:
- Wiped Out!
- Hard To Imagine The Neighbourhood Ever Changing
- Chip Chrome & The Mono-Tones
Pada proyek Chip Chrome & The Mono-Tones, Jesse Rutherford bahkan menghadirkan alter ego bernama Chip Chrome dengan tampilan wajah berwarna perak yang futuristis. Konsep tersebut memperlihatkan keberanian band ini dalam mengeksplorasi sisi artistik tanpa meninggalkan karakter musik mereka.
Lagu-Lagu The Neighbourhood yang Paling Populer
Selain "Sweater Weather", sejumlah lagu The Neighbourhood juga berhasil meraih popularitas tinggi di berbagai platform streaming, di antaranya:
- Sweater Weather
- Daddy Issues
- Softcore
- Reflections
- You Get Me So High
- R.I.P. 2 My Youth
- Stargazing
Sebagian besar lagu tersebut kembali viral berkat penggunaan sebagai musik latar berbagai konten di TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts.
Pengaruh Besar di Era Digital
The Neighbourhood menjadi salah satu band alternatif yang mampu mempertahankan popularitasnya melalui media sosial. Lagu-lagu mereka terus digunakan dalam jutaan video bertema nostalgia, romansa, sinematik, hingga ekspresi diri.
Kesuksesan tersebut membuktikan bahwa karya mereka mampu melintasi batas waktu. Pendengar lama tetap menikmati lagu-lagu klasik mereka, sementara generasi baru menemukan kembali musik The Neighbourhood melalui platform digital.
Kombinasi produksi musik yang atmosferik, lirik yang emosional, serta identitas visual yang kuat membuat The Neighbourhood tetap relevan meski industri musik terus mengalami perubahan.
Warisan Musik Alternatif Modern
Lebih dari satu dekade setelah debutnya, The Neighbourhood masih dipandang sebagai salah satu band yang memberi warna baru pada musik alternatif modern. Mereka berhasil membangun identitas yang konsisten tanpa takut bereksperimen dengan berbagai genre maupun konsep visual.
Melalui karya-karya yang sarat emosi dan produksi musik yang khas, The Neighbourhood telah meninggalkan jejak penting dalam perkembangan indie rock dan alternative pop. Bagi penggemar musik bernuansa melankolis dan atmosferik, diskografi mereka masih menjadi pilihan yang layak untuk dinikmati hingga sekarang melalui berbagai layanan streaming musik resmi.
Fadisca Zahra Prasetya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Lawu