Jawa Pos Radar Lawu - Di dunia otomotif, hanya sedikit mobil yang memiliki julukan seikonik Godzilla. Sebutan tersebut melekat pada Nissan GT-R, mobil sport asal Jepang yang selama puluhan tahun dikenal mampu menantang bahkan mengalahkan mobil-mobil Eropa dengan harga jauh lebih mahal.
Julukan itu bukan sekadar nama keren. Di baliknya tersimpan kisah bagaimana sebuah mobil buatan Jepang mampu mengubah pandangan dunia terhadap performa mobil sport dan membuat para rival mulai memberikan perhatian serius.
Awal Mula Nissan GT-R
Sejarah GT-R dimulai pada 1969 melalui Nissan Skyline GT-R generasi pertama. Mobil ini dirancang dengan fokus utama pada performa dan langsung menunjukkan potensinya di dunia balap.
Namun, nama GT-R benar-benar kembali bersinar ketika Nissan memperkenalkan Skyline GT-R R32 pada 1989. Berbekal mesin RB26DETT 2.6 liter twin-turbo dan sistem penggerak empat roda ATTESA E-TS, R32 menjadi salah satu mobil sport paling canggih pada zamannya.
Kombinasi tenaga, traksi, dan teknologi membuat GT-R tampil dominan di berbagai ajang balap.
Baca Juga: Enzo Ferrari Pernah Meremehkan Ferruccio Lamborghini, Kini Lahir Rival Terbesar Ferrari
Dari Jepang Menguasai Australia
Popularitas julukan Godzilla berawal dari kejuaraan Australian Touring Car Championship pada awal 1990-an.
Saat itu, Skyline GT-R R32 tampil luar biasa dan berulang kali mengalahkan mobil-mobil lokal maupun Eropa yang sebelumnya mendominasi kompetisi. Kecepatan serta konsistensinya membuat banyak pesaing kesulitan mengejar.
Melihat dominasi tersebut, media otomotif Australia menjulukinya "Godzilla", terinspirasi dari monster fiksi Jepang yang dikenal sangat kuat dan sulit dihentikan.
Julukan itu kemudian menyebar ke berbagai negara dan menjadi identitas yang melekat hingga sekarang.
Teknologi yang Mendahului Zamannya
Salah satu alasan GT-R begitu disegani adalah teknologi yang dibawanya.
Beberapa keunggulan yang membuat GT-R berbeda pada masanya antara lain:
- Mesin RB26DETT twin-turbo yang terkenal tangguh.
- Sistem penggerak semua roda ATTESA E-TS untuk meningkatkan traksi.
- Sistem kemudi empat roda HICAS yang membantu stabilitas saat menikung.
- Potensi modifikasi yang sangat besar sehingga mampu menghasilkan tenaga jauh di atas spesifikasi standar.
Kombinasi tersebut membuat GT-R tidak hanya cepat di lintasan lurus, tetapi juga sangat kompetitif di tikungan.
Dijuluki Supercar Killer
Ketika Nissan memperkenalkan GT-R R35 pada 2007, reputasi Godzilla semakin kuat.
Meski dibanderol dengan harga yang lebih rendah dibandingkan banyak supercar Eropa, R35 mampu mencatatkan performa yang mengesankan di berbagai sirkuit dunia. Mobil ini beberapa kali dibandingkan dengan Ferrari, Porsche, Lamborghini, hingga Audi R8.
Karena mampu memberikan performa setara dengan harga yang lebih kompetitif, GT-R pun sering dijuluki sebagai supercar killer.
Ikon Budaya Pop
Popularitas Nissan GT-R tidak hanya datang dari lintasan balap.
Mobil ini juga menjadi bintang dalam berbagai film, video game, dan budaya modifikasi. Seri Fast & Furious, gim Gran Turismo, hingga Need for Speed ikut memperkenalkan GT-R kepada generasi baru pecinta otomotif.
Khusus Skyline GT-R R34, model ini bahkan menjadi salah satu mobil Jepang paling ikonik sepanjang masa berkat tampilannya yang khas dan performanya yang luar biasa.
Baca Juga: Di Balik Senyumnya di Atas Panggung, Freddie Mercury Menyimpan Rahasia Terbesar dalam Hidupnya
Warisan Godzilla Masih Bertahan
Meski dunia otomotif kini mulai beralih ke elektrifikasi, nama GT-R tetap memiliki tempat istimewa.
Setiap generasi GT-R selalu membawa inovasi baru tanpa meninggalkan karakter utamanya sebagai mobil sport yang mengutamakan performa. Itulah sebabnya julukan Godzilla tetap relevan hingga sekarang.
Bagi banyak penggemar, GT-R bukan sekadar mobil cepat. Ia adalah simbol bahwa sebuah mobil buatan Jepang mampu bersaing dan bahkan mengungguli banyak supercar dari Eropa.
Lebih dari tiga dekade setelah julukan itu pertama kali muncul, Godzilla masih menjadi salah satu nama paling dihormati dalam sejarah otomotif dunia.
Roofy Chesta Adabi - Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Lawu