Jawa Pos Radar Lawu - Di atas panggung, Freddie Mercury selalu tampil penuh energi. Vokalis Queen itu dikenal dengan karisma, suara yang luar biasa, dan kemampuan menghidupkan ribuan penonton dalam setiap konser. Namun, di balik penampilannya yang penuh percaya diri, Freddie menyimpan sebuah rahasia besar yang hanya diketahui oleh orang-orang terdekatnya.
Saat kesehatannya mulai menurun pada akhir 1980-an, berbagai rumor mulai bermunculan. Meski begitu, Freddie Mercury memilih tetap diam dan tidak memberikan penjelasan kepada publik. Baru sehari sebelum meninggal dunia, ia akhirnya mengonfirmasi bahwa dirinya mengidap AIDS.
Diagnosis yang Disimpan Bertahun-tahun
Freddie Mercury diduga mengetahui kondisi kesehatannya sekitar tahun 1987, meski ia tidak pernah mengungkapkan secara terbuka kapan tepatnya menerima diagnosis tersebut.
Di masa itu, HIV/AIDS masih menjadi penyakit yang sangat disalahpahami. Banyak penderita menghadapi stigma sosial, diskriminasi, hingga perlakuan yang tidak adil. Situasi inilah yang diyakini menjadi salah satu alasan Freddie memilih menjaga privasinya.
Alih-alih menjawab berbagai spekulasi media, ia lebih memilih fokus menjalani hidup dan terus berkarya bersama Queen.
Tetap Berkarya Meski Kondisi Menurun
Meski kesehatannya semakin memburuk, Freddie tidak berhenti membuat musik.
Ia tetap masuk studio rekaman bersama Brian May, Roger Taylor, dan John Deacon. Beberapa lagu dalam album The Miracle dan Innuendo direkam ketika kondisi fisiknya sudah jauh berbeda dibandingkan masa kejayaannya.
Rekan-rekannya di Queen kemudian menceritakan bahwa Freddie selalu berusaha menyelesaikan sebanyak mungkin rekaman selama dirinya masih sanggup bernyanyi.
Semangat itu membuat Queen tetap menghasilkan karya-karya yang dikenang hingga kini.
Alasan Freddie Memilih Diam
Keputusan Freddie untuk tidak mengumumkan penyakitnya bukan berarti ia ingin menipu publik.
Dalam berbagai wawancara setelah kepergiannya, anggota Queen menjelaskan bahwa Freddie adalah sosok yang sangat menjaga kehidupan pribadinya. Ia ingin masyarakat mengingat dirinya karena musik yang diciptakan, bukan karena penyakit yang dideritanya.
Selain itu, ia juga tidak ingin perhatian publik beralih dari karya Queen menjadi sekadar pembahasan mengenai kondisi kesehatannya.
Pernyataan Terakhir yang Menggemparkan Dunia
Pada 23 November 1991, Freddie Mercury akhirnya merilis pernyataan resmi kepada media.
"Following the enormous conjecture in the press over the last two weeks, I wish to confirm that I have been tested HIV positive and have AIDS."
Ia juga menambahkan:
"I felt it correct to keep this information private to date in order to protect the privacy of those around me."
Pernyataan itu menjadi konfirmasi pertama sekaligus terakhir dari Freddie mengenai kondisi kesehatannya.
Sehari kemudian, tepat pada 24 November 1991, Freddie Mercury meninggal dunia di rumahnya di London akibat komplikasi bronkopneumonia yang dipicu oleh AIDS.
Warisan yang Jauh Lebih Besar
Kepergian Freddie Mercury meninggalkan duka besar bagi dunia musik. Namun, warisan yang ditinggalkannya jauh melampaui perjalanan hidupnya.
Lagu-lagu seperti Bohemian Rhapsody, We Are the Champions, Somebody to Love, hingga Don't Stop Me Now terus didengarkan oleh berbagai generasi dan menjadi bukti besarnya pengaruh Queen dalam sejarah musik dunia.
Di sisi lain, kisah Freddie juga membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang HIV/AIDS. Setelah kepergiannya, para personel Queen mendirikan Mercury Phoenix Trust, sebuah organisasi amal yang hingga kini aktif mendukung upaya pencegahan dan penanganan HIV/AIDS di berbagai negara.
Sebuah Keputusan yang Lahir dari Keinginan Menjaga Privasi
Hingga kini, keputusan Freddie Mercury merahasiakan penyakitnya masih sering menjadi bahan pembahasan. Sebagian orang mungkin mempertanyakan pilihannya, tetapi banyak pula yang memahaminya sebagai hak setiap individu atas privasi, terutama di masa ketika stigma terhadap HIV/AIDS masih sangat kuat.
Pada akhirnya, Freddie ingin dikenang sebagai seorang musisi yang memberikan segalanya di atas panggung. Dan puluhan tahun setelah kepergiannya, dunia memang lebih sering mengenangnya lewat suara, karya, dan pengaruh besarnya terhadap musik daripada penyakit yang pernah ia sembunyikan.
Roofy Chesta Adabi - Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Lawu