Jawa Pos Radar Lawu - Media sosial kembali menghadirkan fenomena menarik di dunia musik Indonesia. Kali ini, lagu "I Miss U But I Hate U" milik band legendaris Slank kembali ramai digunakan sebagai latar musik di berbagai konten TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts. Potongan reff yang berbunyi "I miss you but I hate you, my girl" menjadi bagian yang paling sering digunakan karena dianggap mampu menggambarkan perasaan cinta, rindu, sekaligus kecewa terhadap seseorang.
Banyak pengguna media sosial yang mengira lagu tersebut merupakan rilisan baru. Padahal, lagu ini sudah menemani penikmat musik Indonesia selama lebih dari dua dekade dan hingga kini masih terdengar relevan.
Dirilis Sejak Tahun 2002
"I Miss U But I Hate U" merupakan lagu yang dibawakan oleh Slank bersama DJ Hudi. Lagu ini pertama kali dirilis pada 10 Maret 2002 melalui album Virus Roadshow, Vol. 2 dengan durasi sekitar 4 menit 32 detik.
Lagu tersebut ditulis oleh Bimbim dan Ivanka, dua personel Slank yang dikenal banyak melahirkan karya dengan lirik sederhana namun memiliki makna yang kuat. Hingga kini, lagu tersebut masih tersedia di berbagai platform musik digital, termasuk Spotify, dan tetap menjadi salah satu lagu lawas Slank yang banyak didengarkan.
Lirik yang Sederhana tetapi Sangat Relate
Salah satu alasan lagu ini kembali viral adalah karena liriknya yang mudah dipahami. Kalimat "I miss you but I hate you" menggambarkan konflik batin yang sering dialami seseorang setelah berakhirnya sebuah hubungan.
Di satu sisi masih ada rasa rindu, tetapi di sisi lain juga muncul rasa kecewa, marah, bahkan sulit untuk melupakan. Perasaan yang bertolak belakang tersebut membuat banyak pendengar merasa lagu ini masih relevan dengan pengalaman mereka.
Tak heran jika potongan reff lagu ini sering digunakan sebagai backsound video bertema hubungan, nostalgia, hingga kisah patah hati.
Baca Juga: Banyak yang Kenal sebagai Reviewer Parfum, Ternyata Mas Ade Pernah Antar EVOS Juara Dunia
Kembali Populer Berkat Media Sosial
Fenomena lagu lawas yang kembali viral bukanlah hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak lagu Indonesia yang kembali naik daun setelah digunakan oleh kreator konten di TikTok maupun Instagram.
Hal serupa juga terjadi pada "I Miss U But I Hate U". Ribuan video menggunakan potongan lagunya sebagai latar karena memiliki melodi yang mudah dikenali dan lirik yang singkat namun emosional.
Popularitas tersebut membuat banyak pengguna media sosial akhirnya mencari versi lengkap lagu ini di platform streaming musik.
Masih Banyak Didengarkan di Spotify
Meski telah dirilis sejak 2002, lagu ini masih memiliki jumlah pendengar yang tinggi di Spotify. Bahkan, versi "I Miss U But I Hate U" dalam album Slank Since 1983 telah diputar lebih dari 29 juta kali, membuktikan bahwa karya Slank masih diminati lintas generasi.
Banyak pendengar baru mengenal lagu ini melalui media sosial, sementara penggemar lama kembali memutarnya sebagai bentuk nostalgia terhadap era musik rock Indonesia di awal tahun 2000-an.
Bukti Lagu Berkualitas Tidak Lekang oleh Waktu
Kembalinya popularitas "I Miss U But I Hate U" menunjukkan bahwa lagu yang memiliki lirik kuat dan melodi yang mudah diingat akan selalu menemukan pendengarnya, meski telah berlalu puluhan tahun.
Media sosial memang menjadi jembatan yang memperkenalkan kembali lagu-lagu lama kepada generasi baru. Namun, tanpa kualitas musik yang baik, sebuah lagu tentu sulit bertahan selama lebih dari dua dekade.
Melalui fenomena ini, Slank sekali lagi membuktikan bahwa karya-karyanya tetap relevan dan mampu dinikmati oleh berbagai generasi. Bagi penggemar lama, lagu ini membawa nostalgia. Sementara bagi pendengar baru, "I Miss U But I Hate U" menjadi salah satu lagu lawas Indonesia yang layak masuk ke dalam playlist. (*)
Anggie Putri Wijayanti, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Lawu