Jawa Pos Radar Lawu - Fenomena unik tengah ramai di media sosial, khususnya TikTok.
Banyak orangtua membagikan pengalaman mereka menghentikan tantrum anak hanya dengan menyebut satu nama: “Jessica”.
Dalam berbagai video viral, saat anak menangis histeris atau mengamuk, orangtua cukup berkata, “Jessica!”, “Itu dia Jessica!”, atau “Di mana Jessica?”.
Hasilnya mengejutkan anak yang tadinya menangis tiba-tiba berhenti dan mulai mencari sosok tersebut.
Tak hanya nama “Jessica”, beberapa orangtua bahkan mencoba nama lain, seperti nama hewan peliharaan, dan tetap mendapatkan hasil serupa.
Kenapa Trik “Jessica” Bisa Menghentikan Tantrum Anak?
Fenomena ini ternyata bukan sekadar kebetulan. Dalam dunia psikologi anak, metode ini dikenal sebagai teknik pengalihan perhatian (distraction).
Menurut Madison Szar, teknik ini bekerja dengan cara memutus siklus emosi anak yang sedang memuncak.
Saat anak tantrum, mereka berada dalam kondisi emosi yang berulang dan sulit dikendalikan.
Dengan menyebut nama baru yang tidak terduga, orangtua memberikan stimulus berbeda yang langsung menarik perhatian anak.
Pengalihan ini membantu anak keluar dari “loop” emosi yang sedang terjadi.
Selain itu, nada suara orangtua yang cenderung tenang saat memanggil nama juga berperan penting.
Anak secara alami meniru respons tersebut dan perlahan ikut menenangkan diri.
Baca Juga: TikTok Diam-Diam Rilis PineDrama, Aplikasi Drama Pendek 1 Menit yang Siap Guncang Industri Streaming
Bukan Karena Nama “Jessica”-nya
Banyak yang mengira ada “keajaiban” di balik nama Jessica. Namun, para ahli menegaskan hal tersebut tidak benar.
Terapis Martina Nova menjelaskan bahwa tidak ada kombinasi huruf atau suara tertentu yang secara khusus mampu menghentikan tangisan anak.
Artinya, nama apa pun sebenarnya bisa digunakan selama:
- Terdengar baru bagi anak
- Tidak berkaitan dengan rutinitas sehari-hari
- Memicu rasa penasaran
Psikolog Anne Josephson menambahkan, hal yang “tidak masuk akal” justru lebih efektif karena mampu mengalihkan fokus anak dari emosi yang sedang meledak.
Lebih Efektif dari Cara Tradisional?
Sebagian orangtua biasanya menenangkan anak dengan:
- Memberikan permen atau camilan
- Mengalihkan dengan mainan
Namun, cara tersebut dinilai memiliki risiko.
Memberikan makanan manis saat tantrum bisa menciptakan hubungan emosional yang tidak sehat dengan makanan.
Sementara itu, memberi mainan justru bisa memperkuat perilaku tantrum sebagai cara untuk mendapatkan sesuatu.
Sebaliknya, teknik seperti “Jessica” menawarkan stimulus baru tanpa “imbalan”, sehingga dinilai lebih netral dan tidak membentuk kebiasaan buruk.
Baca Juga: 6 Cara Menghadapi Anak Tantrum tanpa Drama, Orang Tua Wajib Tahu!
Tetap Ada Batasannya
Meski terlihat efektif, teknik ini bukan solusi utama dalam pengasuhan anak.
Para ahli mengingatkan bahwa menghentikan tantrum bukan berarti anak sudah benar-benar tenang secara emosional. Pengalihan hanya bersifat sementara.
Anak tetap membutuhkan:
- Koneksi emosional dengan orangtua
- Pemahaman terhadap perasaannya
- Pendampingan untuk belajar mengelola emosi
Jika terlalu sering digunakan tanpa komunikasi lanjutan, anak justru tidak belajar menghadapi emosinya dengan baik.
Tidak Cocok untuk Semua Anak
Perlu diingat, setiap anak memiliki karakter dan kondisi yang berbeda.
Pada anak dengan kondisi tertentu, seperti sensitivitas tinggi atau neurodivergen, perubahan mendadak justru bisa memicu kebingungan atau stres tambahan.
Karena itu, pendekatan ini sebaiknya digunakan secara fleksibel, bukan sebagai solusi tunggal.
Baca Juga: 5 Panduan Praktis Menghadapi Cuaca Panas Berlebihan agar Tetap Sehat dan Produktif
Boleh Dicoba, Tapi Tetap Bijak
Tren “Jessica” memang menarik dan relatif aman untuk dicoba. Namun, orangtua tetap perlu memahami bahwa pengasuhan anak tidak bisa disamaratakan.
Pendekatan terbaik adalah kombinasi antara:
- Kreativitas dalam menghadapi tantrum
- Kesabaran
- Koneksi emosional yang kuat
Dengan begitu, anak tidak hanya berhenti menangis, tetapi juga belajar memahami dan mengelola emosinya secara sehat.(*)
*Nizaria Kusumastuti, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani