Jawa Pos Radar Lawu - Sebuah layanan unik berupa jasa titip (jastip) nyekar di Surabaya viral di media sosial selama Ramadan hingga Lebaran 2026.
Layanan ini ditawarkan oleh seorang warga bernama Laifa melalui akun media sosialnya dan menarik perhatian warganet, terutama para perantau yang tidak sempat pulang kampung untuk berziarah ke makam keluarga.
Unggahan tersebut pertama kali dibagikan oleh akun @laifaqr pada Minggu (8/3).
Dalam unggahannya, Laifa membuka layanan jastip nyekar bagi mereka yang ingin tetap menjalankan tradisi ziarah meski tidak bisa mudik ke Surabaya.
“OPEN JASTIP NYEKAR!! Bagi anak rantau yang tidak kebagian mudik Lebaran tapi ingin ke makam keluarga, jangan bersedih rek, kalian bisa jastip nyekar di aku,” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Layanan ini terbilang tidak biasa. Pasalnya, jasa titip biasanya identik dengan pembelian barang, tiket, atau antrean.
Namun Laifa justru menawarkan jasa untuk ziarah makam atas nama pelanggan.
Baca Juga: SPPG Pangauban Disetop BGN Gegara Viral Joget, Hendrik Irawan Sebut 150 Petugas Tak Bisa Kerja
Layanan Jastip Nyekar: Tabur Bunga hingga Dokumentasi
Dalam paket layanan yang ditawarkan, Laifa menyediakan beberapa fasilitas.
Mulai dari tabur bunga di makam, membersihkan area sekitar makam, hingga dokumentasi foto dan video sebelum dan sesudah pembersihan.
Selain itu, ia juga sempat menawarkan layanan pembacaan doa berupa surah pendek seperti Al-Fatihah, Al-Ikhlas, An-Nas, dan Al-Falaq.
Bahkan pelanggan juga dapat meminta pembacaan Surah Yasin dengan biaya tambahan.
Namun setelah menerima berbagai masukan dari warganet, Laifa akhirnya memutuskan untuk tidak lagi mengenakan biaya tambahan untuk pembacaan doa.
“Saat ini lebih fokus ke nyekar, tabur bunga, pembersihan area makam dan doa yang tulus saja, tidak dijadikan tambahan berbayar,” jelasnya.
Tarif Jastip Nyekar Mulai Rp50 Ribu
Untuk tarif layanan, Laifa mematok harga Rp50.000 untuk jarak hingga 10 kilometer dari lokasi tempat tinggalnya di Surabaya.
Jika lokasi makam berada lebih jauh, pelanggan akan dikenakan biaya tambahan transportasi.
Sejak layanan ini dibuka, Laifa mengaku menerima cukup banyak permintaan melalui pesan langsung (DM) di media sosial.
Namun karena ia memiliki pekerjaan utama, tidak semua pesanan bisa ia kerjakan.
“Yang DM lumayan banyak, tapi yang saya kerjakan baru belasan,” ungkapnya.
Ia juga cukup selektif menerima pesanan. Salah satu kendala yang sering muncul adalah ketika tulisan pada batu nisan sudah tidak terbaca sehingga sulit menemukan lokasi makam.
Jika mengalami kesulitan, Laifa biasanya meminta bantuan juru kunci makam untuk memastikan lokasi yang tepat.
Mayoritas Pelanggan adalah Perantau
Menurut Laifa, sebagian besar pelanggan jastip nyekar berasal dari kalangan perantau yang tidak berada di Surabaya.
Mereka umumnya bekerja di luar kota atau tidak sempat pulang saat Lebaran.
Meski tidak selalu menjelaskan alasan secara rinci, para pelanggan tetap ingin menjalankan tradisi ziarah untuk mendoakan keluarga yang telah meninggal dunia.
Menariknya, layanan ini juga diminati oleh orang dari luar daerah. Bahkan beberapa warganet sempat menanyakan kemungkinan layanan serupa di wilayah Jabodetabek.
Bisa untuk Makam Non Muslim
Selain makam muslim, Laifa juga menerima pesanan untuk makam non muslim.
Namun layanan yang diberikan terbatas pada tabur bunga dan pembersihan area makam tanpa pembacaan doa.
“Kalau yang non muslim biasanya hanya minta tabur bunga dan membersihkan rumput saja,” ujarnya.
Baca Juga: Mitra MBG Joget Viral, Hendrik Irawan Klarifikasi Insentif Rp 6 Juta dan Modal Rp 3,5 Miliar
Tradisi Nyekar yang Tetap Dijaga
Bagi Laifa, nyekar merupakan tradisi lama yang memiliki makna penting sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga yang telah meninggal.
Ia menilai makam adalah “rumah terakhir” bagi seseorang, sehingga tetap perlu dirawat agar tidak terbengkalai.
Menurutnya, meskipun doa bisa dipanjatkan dari mana saja, menjaga kebersihan makam tetap menjadi bagian dari penghormatan kepada leluhur.
“Kalau tidak bisa datang langsung, jastip nyekar bisa jadi solusi. Biayanya juga lebih ekonomis dibanding harus pulang kampung,” pungkasnya.
Fenomena jastip nyekar ini pun menunjukkan bagaimana tradisi ziarah makam beradaptasi dengan perkembangan zaman, terutama bagi masyarakat modern yang mobilitasnya tinggi namun tetap ingin menjaga hubungan spiritual dengan keluarga yang telah berpulang.(*)
*Nizaria Kusumastuti, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani