Jawa Pos Radar Lawu – Fenomena krisis energi di Filipina mulai terasa di kehidupan sehari-hari warganya.
Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan warga berjalan kaki ke tempat kerja karena harga bahan bakar yang melonjak.
Kondisi ini disebut terjadi setelah Filipina menetapkan status darurat energi nasional.
Baca Juga: Cari Rice Cooker Anak Kos? Ini Pilihan 1 Liter Terbaik dari Yong Ma dan Cosmos
Krisis tersebut dipicu terganggunya pasokan minyak dari Timur Tengah akibat konflik yang memanas sejak akhir Februari 2026.
Filipina yang selama ini bergantung pada impor minyak hingga sekitar 90 persen langsung terdampak.
Harga bahan bakar pun melonjak tajam. Diesel dilaporkan menembus lebih dari 120 peso per liter atau sekitar Rp33 ribu.
Kondisi itu membuat biaya transportasi meningkat drastis dan memberatkan masyarakat.
Baca Juga: Rekomendasi Rice Cooker Yong Ma Murah 2026: Kualitas Premium dengan Harga Masih Masuk Akal
Di Manila, perubahan pola aktivitas warga mulai terlihat. Banyak pekerja yang sebelumnya menggunakan kendaraan kini memilih berjalan kaki.
Langkah ini diambil untuk menghemat pengeluaran di tengah mahalnya BBM.
Dampak lain juga dirasakan sektor transportasi. Ribuan pengemudi jeepney dan becak motor dilaporkan mengurangi operasional bahkan berhenti sementara.
Kenaikan harga bahan bakar membuat pendapatan mereka tak lagi sebanding dengan biaya operasional.
Pemerintah Filipina telah menyalurkan bantuan tunai sebesar 5.000 peso kepada pengemudi terdampak.
Namun, bantuan tersebut dinilai belum cukup untuk menutupi beban biaya yang meningkat.
Baca Juga: Hidden Gem Madiun! Desa Wisata Kresek Tawarkan Jeep Tour dan Tubing Seru di Tengah Alam Asri
Data Departemen Energi Filipina menunjukkan cadangan energi dalam kondisi terbatas.
Stok bensin disebut hanya cukup untuk 53 hari, diesel 46 hari, dan bahan bakar jet 39 hari.
Pemerintah kini berupaya mencari sumber pasokan baru, termasuk dari Rusia, China, dan negara Asia Tenggara lainnya.
Salah satunya melalui pengiriman minyak dari Rusia menggunakan kapal tanker menuju terminal di Bataan.
Editor : Nur Wachid