Jawa Pos Radar Lawu – Dokter sekaligus konten kreator kesehatan Dion Haryadi ikut menyoroti polemik menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 2 Pamekasan, Jawa Timur yang sempat viral di media sosial.
Dion Haryadi menyampaikan pandangannya melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya setelah ramai pemberitaan terkait menu lele MBG yang ditolak oleh pihak sekolah.
Menurut Dion, ia memahami tujuan pemberian lauk mentah agar dapat dimasak kembali oleh penerima manfaat.
Namun ia mempertanyakan proses distribusi makanan tersebut.
“Dari kemarin heboh lele mentah untuk MBG. Saya ngerti maksudnya untuk dimasak di rumah, oke. Tapi kan proses distribusinya harus dipikirkan dong,” tulis Dion dalam unggahannya yang dikutip Kamis, 12 Maret 2026.
Bandingkan dengan Program SPPG Lain
Dalam video tersebut, Dion juga membandingkan paket MBG dari dapur lain yang menurutnya sudah memiliki sistem distribusi lebih baik.
Ia mencontohkan adanya dapur SPPG yang memberikan lauk ayam ungkep yang divakum, sehingga bisa dimasak kembali di rumah oleh penerima manfaat.
“Padahal kemarin ada yang sudah bagus dan harus diapresiasi. Ada SPPG yang ngasih paket ayam ungkep terus divakum,” ujarnya.
Menurutnya, model distribusi tersebut lebih aman karena makanan tetap terjaga kualitasnya hingga saat dimasak.
Pertanyakan Kondisi Penyimpanan
Dion juga mempertanyakan kondisi penyimpanan makanan selama proses distribusi dari dapur SPPG hingga diterima siswa.
Ia menyoroti kemungkinan risiko makanan mentah yang dibiarkan pada suhu ruang dalam waktu lama.
“Apakah mungkin pihak SPPG memperkirakan di hari itu cuaca di Pamekasan bisa mencapai minus tiga derajat Celcius sehingga makanan mentahnya dibiarkan begitu saja di suhu ruangan,” ucapnya secara satir.
Soroti Porsi Menu MBG
Selain distribusi, Dion juga menyinggung soal komposisi menu MBG yang dibagikan.
Ia menyoroti paket makanan yang berisi satu ikan lele, dua tempe, dan dua tahu untuk jatah tiga hari.
Dion mempertanyakan apakah komposisi tersebut sesuai dengan biaya per porsi yang disebut mencapai sekitar Rp40 ribu untuk tiga hari.
Ia juga mempertanyakan siapa yang menanggung kerugian apabila paket makanan tersebut dikembalikan oleh pihak sekolah.
Kronologi Penolakan MBG di SMAN 2 Pamekasan
Sebelumnya, SMAN 2 Pamekasan menolak sebanyak 1.022 porsi MBG yang dikirim oleh dapur SPPG As-Salman Desa Buddagan, Kecamatan Pademawu pada Senin, 9 Maret 2026.
Kepala SMAN 2 Pamekasan Moh Arifin menyebut menu tersebut tidak layak dibagikan kepada siswa karena terdapat lele yang masih mentah.
Baca Juga: Polisi Tangkap Wanita 19 Tahun Terkait Pembuangan Bayi di Bekasi, Foto Viral Disebut Editan
“MBG hari ini di SMAN 2 Pamekasan tidak layak dibagikan karena lele yang masih hidup diperkirakan bisa membusuk dan merusak makanan lain,” ujar Arifin.
SPPG Sebut Lele Sudah Dimarinasi
Menanggapi polemik tersebut, ahli gizi SPPG As-Salman Fikri Mutawakkil menjelaskan bahwa ikan lele yang dibagikan sebenarnya merupakan lele marinasi, bukan ikan mentah.
Menurutnya, metode marinasi digunakan untuk menjaga kandungan protein sekaligus memperpanjang masa penyimpanan.
“Penyimpanan lele marinasi itu bisa sampai satu hari,” ujar Fikri.
Pihak SPPG juga menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap proses distribusi makanan MBG agar kejadian serupa tidak kembali terulang.***
Editor : Nur Wachid