Jawa Pos Radar Lawu - Publik media sosial tengah ramai menyoroti pidato terakhir pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, sebelum dilaporkan gugur dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel di Teheran.
Serangan udara yang disebut menyasar kompleks kediaman keluarga Khamenei di Teheran terjadi pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Presiden AS Donald Trump turut memberikan pernyataan terbuka terkait kabar wafatnya Khamenei.
“Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati,” tulis Trump melalui akun media sosial miliknya pada Minggu, 1 Maret 2026.
Beredar kembali cuplikan pidato Khamenei pada 17 Februari 2026 dalam peringatan pemberontakan Tabriz 1978 di Provinsi Azerbaijan Timur.
Dalam pidato tersebut, Khamenei memberikan sorotan tajam terhadap Amerika Serikat sebagai sekutu Israel.
“Kekaisaran itu (AS) sebenarnya tengah menuju kehancuran,” tegas Khamenei dalam pidatonya.
Pernyataan tersebut kini kembali viral dan dianggap relevan dengan eskalasi konflik yang terjadi beberapa pekan setelahnya.
Sebut AS Terlilit Masalah Sendiri
Dalam pidato yang sama, Khamenei menyinggung kondisi internal Amerika Serikat, mulai dari persoalan ekonomi hingga dinamika politik domestik.
“Sistem mereka benar-benar sedang mengalami kemunduran,” ujar Khamenei.
“Mereka terlilit masalah yang dibuat sendiri, dalam perekonomian, kebijakan mereka, dalam masyarakat mereka,” tambahnya.
Ia juga menyinggung soal tingkat dukungan publik terhadap kepemimpinan di AS yang menurutnya terus menurun.
Ungkap Awal Retaknya Hubungan AS-Iran
Khamenei turut mengulas akar ketegangan panjang antara Teheran dan Washington.
“Masalah yang kita hadapi dengan AS adalah mereka ingin ‘melahap’ Iran, dan bangsa Iran mencegahnya,” kata Khamenei.
“Republik Islam Iran berdiri di jalan mereka sendiri,” tegasnya.
Ia menyatakan bahwa selama 47 tahun terakhir, AS dinilai tidak mampu melenyapkan Republik Islam Iran meski berbagai tekanan dijatuhkan.
“Selama 47 tahun lalu, AS tak mampu melenyapkan Republik Islam Iran,” ungkapnya.
Konflik Berlanjut
Pasca serangan tersebut, Iran dilaporkan melancarkan serangan balasan ke sejumlah target yang dikaitkan dengan kepentingan AS dan Israel di kawasan Timur Tengah.
Garda Revolusi Iran bahkan mengancam akan meluncurkan “operasi ofensif paling intensif” sebagai respons atas serangan yang terjadi.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di kawasan Timur Tengah masih berada dalam ketegangan tinggi dengan potensi eskalasi lanjutan.***
Editor : Nur Wachid