Jawa Pos Radar Lawu - Bencana banjir dan tanah longsor kembali melanda wilayah Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, pada Rabu, 18 Februari 2026.
Peristiwa ini terjadi saat warga setempat belum sepenuhnya pulih dari bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025 lalu.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 1.600 orang di Tapanuli Tengah masih berada dalam kondisi mengungsi sejak bencana besar pada 25 November 2025.
Kini, banjir dan longsor susulan kembali terjadi dan menyita perhatian publik, terutama setelah Bupati Tapteng Masinton Pasaribu membagikan kondisi terkini wilayahnya melalui media sosial.
“Banjir dan longsor susulan di Tapanuli Tengah, pascabencana pada 25 November 2025,” tulis Masinton dalam unggahan Instagram pribadinya @masinton, Rabu (18/2/2026).
Bupati Tapteng Ungkap Banjir Terjadi Dua Kali dalam Sepekan
Dalam pernyataannya, Masinton membeberkan bahwa banjir yang melanda Tapanuli Tengah bukan hanya sekali, melainkan sudah terjadi dua kali dalam kurun waktu satu minggu.
“Dalam satu minggu ini, Tapanuli Tengah mengalami dua kali banjir kembali, yaitu 11 Februari 2026 dan 16 Februari 2026,” ungkap Masinton.
Dalam video yang diunggah, terlihat beberapa titik pemukiman warga terendam air. Selain itu, kondisi akses jalan juga disebut mengalami kerusakan cukup parah.
Jalan Amblas hingga Terputus, Longsor Kembali Terjadi
Masinton juga menyoroti dampak longsor yang memperparah situasi.
Menurutnya, longsoran tanah kembali terjadi dan menyebabkan jalan amblas hingga terputus, sehingga akses warga terganggu.
“Jalan amblas terputus, terjadi longsoran kembali,” papar Masinton.
Ia memastikan bahwa warga yang tinggal di wilayah rawan banjir dan longsor sudah dilakukan evakuasi demi mencegah korban jiwa.
“Warga yang di daerah rawan banjir dan longsor sudah dievakuasi,” sambungnya.
Lokasi Evakuasi Kembali Difungsikan, dari Sekolah hingga GOR
Dalam keterangannya, Bupati Tapteng menjelaskan bahwa sejumlah fasilitas umum kembali difungsikan sebagai lokasi evakuasi.
Mulai dari GOR, sekolah, hingga fasilitas umum lain yang berada di kecamatan maupun desa.
Hal ini menandakan bahwa bencana susulan tersebut berdampak nyata pada kehidupan warga, termasuk mereka yang sebelumnya sudah terdampak pada akhir 2025 lalu.
Masinton: Cobaan Berat dan Bertubi-tubi, Tapi Harus Bangkit
Masinton Pasaribu menyebut kondisi yang dialami masyarakat Tapanuli Tengah sebagai cobaan yang berat.
Ia berharap warga tetap kuat dan saling membantu dalam menghadapi bencana yang kembali datang.
“Kiranya Tuhan Yang Maha Kuasa selalu melindungi masyarakat Tapanuli Tengah,” ujar Masinton.
“Kita harus lalui cobaan berat dan bertubi-tubi ini. Yakin kita pasti pulih dan bangkit kembali,” tandasnya.
Editor : Nur Wachid